
Flashback on.
Vino merasa bersalah dengan sikap dinginnya tadi pada istrinya, bahkan marah pada istrinya.
“Tuan, anda baik-baik saja?” tanya sang sopirnya karena melihat wajah Vino yang tampak gusar.
Vino menghela napas berat, lalu menggelengkan kepalanya.
“Apakah aku salah jika aku cemburu dengan Istriku sendiri?” tanyanya dengan pelan.
Sang sopir tersenyum simpul, ia menebak jika saat ini Tuannya sedang cemburu dengan istrinya.
“Tidak ada yang salah, Tuan. Mungkin pria kemarin itu memang belum mengetahui jika Nona Dea sudah menikah, apalagi pernikahan Tuan dan Nona secara sederhana tanpa di ketahui orang banyak.”
Vino berpikir sejenak, jika ucapkan sopirnya ada benarnya.
“Kamu benar. Huh ... entah kenapa dengan diriku. Oh ya, apa kamu mendengar wanita yang di rumah Pamanku?”
Sang sopir mengangguk.
“Namanya Diana, bukan? Ada apa Tuan menanyakannya?” tanya sang sopir.
“Tidak. Entah apa yang dipikir oleh Pamanku? Kenapa begitu tega dengan perempuan?” Vino tak habis pikir dengan pamannya sendiri.
“Apa kamu punya rencana untuk membebaskan wanita itu, Diana juga ikut andil untuk mencari cara agar Istriku melarikan diri dari rumah itu. Entah kenapa aku kepikiran, bagaimana nasibnya sekarang.”
Sang sopir menceritakan bagaimana cara untuk membebaskan Diana dari rumah tersebut, karena sang sopir juga tangan kanannya jika dirinya mengalami masalah.
Vino tampak mengangguk tanda dirinya menyetujuinya.
Sore hari setelah pulang bekerja, Vino datang ke rumah Pamannya untuk membebaskan Diana teman istrinya tersebut.
“Untuk apa lagi kau kemari? Apa kau ingin menyerahkan wanita itu padaku?” tanyanya dengan menyeringai licik.
“Paman, aku datang kemari untuk menjemput Diana.”
“Hahaha ... kau sudah mengambil Dea dariku dan sekarang kau ingin mengambil Diana lagi. Apa kau juga ingin menikahinya? Ckck ... apa kau sudah tak bisa mencari wanita lain lagi?” ejeknya sembari membuang puntung rokoknya.
“Paman, mau sampai kapan menyiksa wanita seperti ini? Apa Paman tak punya hati sama sekali?”
“Ck ... mereka sudah menikmati uangku, apa yang rugi dari mereka? Aku hanya meminta mereka untuk melayaniku saja!” serunya.
“Bawa Diana kemari,” ujar Vino pada sopirnya.
“Berani sekali kau ingin membawanya, selangkah saja berani membawanya kau akan menerima akibatnya!” ancamnya.
“Oh ya. Kalau begitu, bagaimana dengan ini? Dengan sekali menekan, semua bisnis Paman akan hancur!” ancam balik Vino pada Pamannya, sehingga membuat Alex berdecap kesal.
“Berani sekali kau mengancamku! Kau salah satu manusia tak tahu cara berterima kasih!”
Vino terlihat tak peduli dengan ucapan pamannya tersebut, ia tetap meminta sopirnya untuk membawa Diana dari kamar.
Sang sopirnya mengangguk, ia langsung ke kamar untuk membawa Diana.
__ADS_1
Vino tak tega melihat keadaan Diana yang terlihat begitu pucat, bahkan luka lebam di wajahnya.
Alex hanya bisa pasrah dan berdecap kesal melihat Vino membawa Diana keluar dari rumah tersebut, dengan mengepal tangannya kuat.
Flashback off.
“Ayo kita tidur, aku sangat lelah,” keluh Vino.
Karena cukup lama mereka berbincang menceritakan bagaimana dirinya menyelamatkan Diana dari rumah mewah pamannya.
“Ayo,” ajak Dea.
Mereka melangkah ke tempat tidur, karena sebelumnya mereka masih di sofa bahkan piring bekas makanan masih berada di meja.
Di tempat tidur, Dea sudah bersiap untuk tidur. Namun, Vino mulai menatapnya dengan tatapan nafsu hingga tak membiarkan Dea tidur.
“Sayang,” panggil Vino untuk pertama kali.
Membuat Dea membulatkan matanya, bahkan terkejut dengan panggilan itu.
Vino menatap bibir seksi Dea yang begitu menggoda, tanpa menunggu lagi Vino langsung menyatukannya.
Dea kini mulai pandai mengimbangi Luma*an yang Vino lakukan, bahkan suara di kamar di penuhi dengan suara decapan.
“Kamu sudah pandai ya sekarang,” puji Vino melepaskan sejenak aktivitas bibir mereka.
Wajah Dea memerah menahan malu, tanpa menunggu lagi Vino kembali menyatukan bibir mereka.
Karena sudah tidak bisa menahannya lagi, Vino memulai penyatuan hingga di kamar tersebut di penuhi dengan suara-suara indah dari keduanya.
Hingga suatu jam lamanya, dengan melakukan tiga ronde membuat Dea langsung tertidur karena kelelahan akibat ulah suaminya.
Namun tidak dengan Vino, ia terlihat kehausan dengan karena aktivitas yang mereka lakukan.
Vino melihat istrinya sudah tertidur pulas dengan napas yang sudah beraturan, sehingga dirinya tak tega untuk membangunkannya.
Di dapur mengambil gelas dan menuangkan air putih lalu meneguknya hingga habis, ia benar-benar sangat haus karena aktivitasnya dengan istrinya barusan.
Saat hendak melangkah kembali menaiki tangga, ia mendengar suara Isak tangis. Semakin lama suara tersebut semakin nyaring, Vino berpikir hanya suara pekerja rumahnya. Namun, suara isak tangis tersebut semakin jelas terdengar.
“Siapa yang menangis? Apa mungkin itu Bibi?” tanyanya dalam hati.
Vino melirik pintu bibi, akan tetapi pintu tersebut sudah tertutup dengan rapat.
Ia menajamkan pendengarannya, suara tersebut berasal dari kamar tamu yang terlihat pintunya terbuka sedikit.
“Siapa? Apa itu Diana?” gumamnya lagi.
Vino melangkah tanpa ragu, langsung membuka pintu kamar tersebut.
Vino melihat keadaan Diana yang memprihatinkan, ia meringkuk di sudut dinding. Terlihat jelas jika Diana memiliki trauma yang begitu berat.
“Hiks ... apa salahku Tuan?” racaunya sembari menutup kedua telinganya.
__ADS_1
“Diana, kamu baik-baik saja?” tanya Vino pelan memegang bahu Diana pelan.
“Tidak! Pergi kau pria sialan! Kenapa kau tidak membunuhku saja?! Hiks ... hiks!” teriak Diana menepis tangan Vino dengan kuat.
“Diana, tenanglah. Kamu di rumahku,” ucap Vino lagi dengan lembut sembari berjongkok menghadap Diana.
Diana langsung terdiam, tanpa ragu ia langsung memeluk tubuh Vino.
Grep! Pelukan yang begitu erat.
Awalnya Vino kurang nyaman karena Diana langsung memeluknya, akan tetapi ia membiarkan Diana memeluknya yang begitu erat. Terlihat jelas jika Diana begitu ketakutan.
Vino merasa kebas di kedua kakinya, karena lebih dari setengah jam ia berjongkok dengan keadaan Diana masih memeluknya.
Terdengar dengkuran kecil, Diana tertidur dalam dekapannya.
“Dia sudah tidur?”
Vino perlahan mengangkat tubuh Diana untuk meletakkannya di tempat tidur, lalu menyelimuti tubuh Diana dengan selimut tebal.
“Terlihat dari wajahnya jika Diana masih muda, sepetinya seumuran dengan Dea. Kasihan sekali nasib wanita ini,” gumamnya dalam hati menatap lekat wajah Diana yang sudah tertidur pulas.
Setelah itu, Vino kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
Ia melirik istrinya yang masih di posisi yang sama seperti sebelumnya, lalu ikut bergabung dengan istrinya.
***
Di tempat lain, Dika terlihat termenung duduk di balkon kamarnya.
Masih teringat di benaknya, saat pertemuan pertamanya dengan Dea.
Ia sudah berusaha melupakan nama Dea dari pikirannya, apalagi Dea saat ini sudah menikah.
“Dika,” panggil Wulan kakaknya.
“Iya,” sahutnya tanpa menoleh.
“Aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan saat ini, maka dari itu Kakak sedikit trauma dengan cinta. Bahkan Kakak tidak percaya dengan cinta sama sekali!” ucapnya langsung duduk disamping adiknya.
Dika menoleh ke arah Wulan sejenak, lalu kembali lagi seperti semula.
“Ayah mengatakannya padaku.” Seakan mengerti dengan tatapan adiknya tersebut.
“Sekarang fokus bekerja dan membangun bisnismu. Aku dengar kamu ingin membangun bisnis baru.”
“Ck ... aku sekarang ingin sendiri Kak. Aku mohon dengan sangat pada Kakak,” ujarnya, karena saat ini dirinya memang butuh sendiri.
Wulan mengerti, tanpa berpamitan ia langsung beranjak dari tempat duduknya melangkah keluar dari kamar adiknya tersebut.
“Malang sekali!” gumamnya dalam hati setelah keluar dari kamar adiknya.
***
__ADS_1