Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 14


__ADS_3

Sejak ucapan bibi beberapa hari yang lalu, Vino kini menyusun rencana untuk menangkap basah pamannya sendiri agar tidak ada lagi kejadian seperti ini.


“Bi, sebentar lagi Pamanku datang kemari. Tolong berikan berkas ini, aku harus berangkat sekarang,” ujarnya menyerahkan berkas tersebut.


Bibi mengangguk.


Sedangkan Dea beberapa hari tampak sangat murung, ia terjebak di lubang yang sama karena harus bertemu dengan pria bejat itu lagi.


Namun, dirinya tak punya pilihan lagi, karena ia harus menyelesaikan masa kontrak kerjanya selama 6 bulan terlebih dahulu.


Vino keluar dari rumah tersebut, namun bukan masuk ke dalam mobilnya melainkan masuk ke dalam garasi yang terhubung dengan sebuah kamar.


Vino ingin membuktikannya sendiri, karena pamannya terlah berbuah tidak senonoh terhadap pekerja di rumah. Sehingga setiap bulannya selalu berhenti dan ganti pekerja yang baru hingga dirinya memutuskan untuk membuat kontrak per enam bulannya.


Sementara Dea mulai pekerjaannya, membersihkan seluruh kamar di dalam rumah tersebut.


Tanpa di duga seorang pria yang datang langsung memeluknya dari belakang dengar erat, refleks Dea melemparkan sapu tersebut.


“Sekarang kau tidak bisa lari dariku lagi, hahaha ....” dengan tertawa puas, karena Alex berpikir tidak ada Vino di rumah ini.


“Tolong, lepaskan aku Tuan. Hiks ....” dengan suara Isak tangis berusaha melepaskan diri.


Tanpa di duga Alex menarik lengan baju Dea hingga robek dan tak berbentuk lagi. Dea sudah berusaha memberontak, bahkan ia menendang benda berharga milik Alex yang sudah tegak sempurna tersebut.


“Kurang ajar kau!” menahan sakit yang luar biasa, hingga dirinya melepaskan dekapannya pada Dea.


Dea melangkah keluar dari kamar agar menghindar dari Alex, akan tetapi tangan Alex begitu cepat menangkap tangannya hingga menariknya dengan kasar dan membanting Dea ke tempat tidur.


“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lepas dari ku lagi, cukup sudah dengan permainanmu!” matanya memerah menatap tajam Dea.


Ia menarik paksa pakaian Dea hingga menyisakan pakaian dalamnya saja, Dea bahkan tak mampu lagi melawan karena tenaga Alex begitu kuat.


“Paman!” teriak Vino melihat pamannya dengan tangan yang mengepal kuat.


Dea terlihat terisak sembari menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah terbuka.


“Vin, Vino ... ini tak seperti yang kamu lihat! Dia menggodaku dan memaksaku!” Alex terlihat panik mencoba menjelaskannya.


Namun, kali ini keberuntungan tak berpihak padanya lagi seperti yang dulu.


“Sudah cukup, Paman. Apa yang telah Paman lakukan pada pekerja rumahku? Mereka mencari uang untuk menafkahi keluarganya, begitulah cara Paman memanusiakan manusia!” seru Vino.


“Vino, Paman berani bersumpah! Dia yang sudah menggoda Paman dan memaksakan Paman. Paman juga sudah membayarnya mahal,” ucapnya tanpa sadar.


Vino membulatkan matanya mendengar hal tersebut, ia melirik Dea tengah terisak.


“Apa? Astaga, apa Paman tidak puas dengan satu wanita saja?!”


Alex terlihat geram dengan ucapan Vino barusan.


“Vino, jaga bicaramu itu! Aku adalah Pamanmu, walaupun usia kita hanya beberapa tahun berbeda. Tapi, aku tetaplah Pamanmu. Kamu harus ingat, bisnis yang dirikan itu aku yang membantumu hingga menjadi seperti ini!”


“Paman, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan. Kenapa Paman malah membahas tentang bisnis?!”


“Tentu saja, karena dirimu sudah kurang ajar padaku! Asal kamu tahu, wanita ini sudah aku beli dengan bayaran yang cukup mahal kepada Ayahnya. Tapi, dia malah kabur tanpa menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu. Apa salah aku meminta hakku, karena aku sudah membuang uang banyak?!”


Vino menatap Dea sekilas, terlihat Dea menggelengkan kepala pelan dengan air mata yang terus menerus mengalir.


“Aku akan mengembalikan semua uang Paman dengan dua kali lipat, dengan catatan Paman tak perlu lagi mengganggunya!” usulnya.


Alex menyeringai jahat.

__ADS_1


“Tidak bisa, dia sendiri yang harus mengembalikan uangnya. Kalau tidak, dia harus melayaniku!” Menunjuk ke arah Dea.


Vino terlihat murka dan Bugh! Pukulan mendarat sempurna di pipi mulus Alex. Karena Vino sangat geram dengan ucapan pamannya yang melecehkan seorang wanita.


“Cukup Paman! Sampai kapan Paman selalu memandang semua itu rendahan dan mudah di beli?! Apa Paman tidak sadar, jika Ibu Paman adalah seorang wanita dan Paman juga lahir dari rahim seorang wanita!”


“Anak kurang ajar, kau berani memukulku demi pelac*r itu!”


Bugh! Bugh!


Terjadi baku hantam di kamar tersebut, Dea tak bisa berbuat banyak ia hanya bisa menutup kedua telinganya dengan terisak.


Beberapa pekerja rumah dan asisten Vino datang untuk melerai perkelahian tersebut.


Vino mengusap darah segar yang mengalir di sudut bibirnya, karena pukulan pamanya yang cukup kuat.


“Semua bisnis yang ku berikan padamu akan aku tarik kembali!” ancamnya melepaskan diri dari beberapa pekerja yang memegangnya dengan kuat.


“Lepaskan bodoh!” sentaknya lalu membenarkan jasnya dan berlalu pergi dari kamar tersebut.


Sebelum itu, ia menatap Dea dengan tajam sebelum pergi meninggalkan kamar tersebut. Dea sangat takut dengan tatapan tersebut, hingga ia tak berani menatap Alex yang menatapnya dengan tatapan kemarahan.


Sementara Vino juga pergi dari kamar tersebut, saat ini hanya ada Bibi dan Dea saja.


“Dea, maafkan Bibi nak. Bibi membiarkanmu sendirian, entah kemana pekerja yang lainnya?” memeluk Dea yang terlihat ketakutan.


“Kamu aman sekarang, Tuan Alex takkan berani lagi kemari.” Memeluk erat tubuh Dea yang masih gemetar.


***


Di tempat lain, Dika tampak gusar. Entah kenapa dirinya tiba-tiba ke pikiran Dea, apalagi semalam ia mimpi buruk tentang Dea.


“Apa Dea merasakan hal yang sama sepertiku? Atau akh ... ini pasti karena aku sudah terbiasa dengannya,” gumamnya lagi sembari menggelengkan kepalanya.


“Hei, kamu bicara sendiri seperti orang tidak waras,” panggil kakak perempuannya yang ternyata berdiri di ambang pintu dengan melipat kedua tangannya.


Membuat Dika berdecap kesal, karena Kakaknya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Sejak kedatangan ayahnya beberapa hari yang lalu, Dika akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah besar milik orang tuanya tersebut.


“Ck ... apa Kakak tidak bisa masuk ke dalam kamarku mengetuk pintu terlebih dahulu, ini privasiku!” serunya.


“Cih, sekarang kamu bicara seperti orang benar saja. Hah ... kemana saja kamu selama ini bocah?” tanyanya sembari menepuk pelan bahu adiknya tersebut dan langsung duduk di sebelah adiknya.


“Kakak tak perlu tahu! Apa peduli Kakak?!” kesal Dika dengan melipat kedua tangannya.


“Dasar anak bodoh! Kami semua mengkhawatirkanmu, terutama Ayah dan Ibu.”


“Ck ... bukankah Ayah dan Ibu hanya mempunyai dua anak, yaitu Kakak dan Kakak rival. Aku yang ....”


“Yang tak di anggap! Itu yang ingin kau katakan!” selanya.


Dika terdiam.


“Ayah tidak pernah membela atau pilih kasih denganmu. Justru Ayah sayang padamu, ingin kamu sukses seperti kami.”


“Aku ingin sukses dengan usahaku sendiri, tanpa bantuan Ayah dan kakak. Aku akan membuktikan pada kalian, aku bisa membuat namaku sendiri tanpa harus di bandingkan!” serunya.


“Dasar keras kepala! Huh ... terserahlah,” ucapnya berdiri hendak melangkah keluar.


Namun, ia menatap kembali adik bungsunya itu.

__ADS_1


“Siapa Dea? Apa dia kekasihmu? Sejak tadi kamu selalu menyebut namanya,” goda kakak perempuannya tersebut, hingga membuat Dika semakin kesal.


“Bukan urusan kakak!” ketusnya.


Kakak perempuannya tersebut hanya mengangkat bahunya tanda dirinya juga tak peduli, apalagi dengan percintaan adiknya. Karena dirinya sendiri tak tertarik sama sekali dengan percintaan anak remaja, sebab dirinya hanya mementingkan bisnisnya ketimbang cinta.


Dika mendengus kesal melihat kedatangan kakaknya, ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Karena pagi ini dirinya harus kembali bekerja, karena menunggu barang yang datang lagi.


Selesai bersiap dan memakai pakaian yang sangat lusuh bahkan terlihat tak layak pakai bagi keluarganya. Namun, Dika tampak cuek saja tanpa peduli dengan kakaknya yang menatapnya heran.


Berbeda dengan mereka yang selalu memakai pakaian sangat rapi.


“Dika, mau kemana sepagi ini? Kemari, kita sarapan bersama,” Panggil ayahnya, tampak ibunya juga mengiyakan.


“Kemari Sayang, Ibu sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu.”


Dika menatap ke arah meja, bahkan ia menelan salivanya dengan kasar karena melihat makanan terbaik begitu lezat.


“Dika, apa yang kamu lihat? Kemari nak,” Panggil ayahnya.


Dika mengangguk, lalu melangkah ke arah meja makan. Dika duduk di samping ibunya, terlihat ibunya begitu bahagia menyiapkan sarapan untuknya.


Dika memulai sarapan, tampak Dika begitu lahap untuk memakan makanan tersebut.


“Kamu terlihat begitu lapar. Apa dirimu tidak pernah makan makanan seperti ini di luar sana?” tanya Rival Kakak sulungnya.


Seketika Dika langsung berhenti makan dan menatap kakaknya yang tampak asik mengunyah.


“Jika tidak punya nyali besar, jangan sok jagoan kabur dari rumah ini!” serunya.


Dirinya sebenarnya sangat menyayangi adiknya tersebut, tapi kepergian Dika saat itu membuatnya dirinya sangat kecewa.


“Rival, jaga bicaramu! Dika baru saja makan bersama kita, setelah beberapa bulan lamanya. Ibu harap jangan membuat masalah,” tegur ibunya dengan sedikit kesal pada putra sulungnya tersebut.


“Sayang jangan dengarkan perkataan Kakakmu ya,” ucapnya dengan lembut.


Dika menatap ibunya, lalu mengangguk pelan.


Di meja makan itu kembali hening, hanya sendok dan piring saja yang saling bersahutan.


“Dika, kamu mau kemana dengan pakaianmu seperti itu?” tanya ayahnya dengan hati-hati.


“Dika mau berangkat bekerja, Ayah tidak lupa kan dengan yang kuucapkan dulu?” Dika mencoba mengingatkannya kembali, jika dirinya tidak akan pernah meninggalkan pekerjaan lamanya.


“Dika Sayang,” panggil Ibunya yang tengah menuruni tangga.


“Ibu membelikan kamu pakaian sudah beberapa bulan lamanya nak, pakailah Sayang. Lihat, bajumu sudah sobek begini.” Melihat pakaian putranya ada yang robek di bagian bahunya.


“Terima kasih, Bu. Dika akan memakainya nanti, sekarang Dika harus berangkat bekerja.” Mengulurkan tangannya pada kedua orang tuanya secara bergantian.


Melihat kepergian putranya, sang Ibu menghela napas berat.


“Jangan cemaskan putramu yang keras kepala itu, dia tumbuh jadi anak yang bertanggung jawab. Walaupun dia keras kepala, entah kenapa aku sangat yakin dengan keputusannya dengan apa yang ia pilih saat ini.” Terlihat bangga dengan putranya tersebut.


Sang istri tampak mengangguk pelan.


“Dengan kembalinya Dika ke rumah ini lagi, aku sudah sangat bahagia,” sahut istrinya.


“Iya, kamu benar.”


***

__ADS_1


__ADS_2