
“Dika,” panggil seseorang yang tengah sibuk memindahkan barang.
Dika menoleh.
“Ada apa Bima? Heh ... kau kemana saja?” tanya Dika dengan napas yang terengah-engah karena baru selesai meletakkan barang.
“Aku baru saja kembali, biasalah. Oh ya, ada Dea mencarimu ke kosan.”
Dika terdiam.
“Dea mencariku?” tanyanya dalam hati.
Dika menyunggingkan senyumnya, ia merasa sangat bahagia karena Dea mencari dirinya.
“Hei, aku bicara padamu! Kau seperti orang tidak waras tersenyum sendiri!” kesal Bima.
“Apa jangan-jangan kau ....” menatap wajah Dika dengan tatapan curiga.
“Buang pikiran kotormu itu! Lalu, kau bilang apa?” tanyanya pada Bima dengan wajah serius.
Bukannya menjawab, Bima malah mendekati dirinya dengan Bima lalu menatapnya dengan seksama.
“Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya dengan mengernyit heran.
Bima tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
“Aku mengatakan jika kau sudah pindah ke rumah orang tuamu,” sahutnya dengan santai, sembari mengeluarkan sebatang rokok.
“Hah, kenapa kau mengatakan aku pindah?! Lalu, apa lagi?” tanyanya.
“Lalu aku harus jawab apa? Mana mungkin aku berbohong, sementara pemilik rumah itu berada di situ! Kau ini!” kesal Bima.
“Dika, apa kau menyukai Dea?” tanya Bima llangsung.
Dika hanya diam.
“Cepat bekerja, kau ini!” kesal Dika memukul pelan bahu Bima lalu melangkah pergi.
Bima terkekeh melihat temannya tersebut terlihat masih malu-malu.
***
Hari ini adalah hari pernikahan yang di gelar secara sederhana dan tertutup. Akan tetapi, pernikahan tersebut sampai ke telinga Tuan Alex.
Alex sangat murka mendengarnya, ia mengepal kuat tangannya hingga melempar semua vas bunga yang berada di ruang tamu.
Pyarr!
“Kurang ajar! Anak itu tak tahu diri sekali! Kenapa dia menikahi wanita murahan itu?!” geram Alex.
“Kau sudah menyalakan apinya sendiri, Vino. Jadi, kau akan menerima akibatnya!” ancamnya mengepal tangannya dengan kuat.
__ADS_1
Sementara di rumah besar Vino, ia baru saja menyelesaikan ijab kabul. Tidak ada kebahagiaan tersirat dari wajah keduanya, mereka sama-sama terpaksa menerima pernikahan tersebut karena memang ini juga kemauan Vino. Bukan karena cinta untuk menikahi Dea, melainkan demi menyelamatkan bisnisnya juga dari isu yang tak sedap akibat ulah pamannya.
“Dea, selamat ya. Kamu sudah menjadi Nyonya di rumah ini,” ucap bibi dengan lembut.
Dea mengangguk, bersamaan dengan air mata yang mengalir.
“Bi ... hiks.” Memeluk Bibi dengan erat.
“Sekarang kamu tak perlu cemas lagi, Tuan Alex pasti tidak akan berani berbuat macam-macam lagi padamu.”
Di dalam pelukan bibi, Dea tampak masih terisak.
Sementara Vino, setelah pernikahan sederhananya tersebut ia langsung ke kantor. Ia meninggalkan beberapa tamu yang hadir untuk menyaksikan pernikahannya.
Hingga malam hari, Vino tak kunjung kembali dari kantor. Dea tampak gusar, walaupun ia tak mencintai Vino akan tetapi ia sedikit khawatir karena Vino tak kunjung pulang.
“Nona Dea,” panggil Bibi.
“Panggil Dea saja, Bi. Aku kurang nyaman jika Bibi memanggilku dengan sebutan itu,” ujar Dea.
“Hm ... baiklah. Biasanya Tuan Vino akan kembali setelah lewat tengah malam, jangan cemas.”
Dea terlihat malu, karena bibi mengetahui jika dirinya sedang cemas.
“Hah! Tidak Bi. Aku tidak bisa tidur saja,”” sahutnya terlihat malu-malu.
Bibi tersenyum melihat Dea yang terlihat masih malu.
Dea mengangguk, ia menghela napas melihat punggung Bibi yang sudah menjauh.
Dea juga beranjak dari duduknya, melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Tak lama, Vino juga baru pulang dari kantor langsung menuju ke kamarnya. Karena tubuhnya sangat lelah hari ini, apalagi ia baru kembali dari proyek.
Selesai membersihkan diri, seperti biasanya Vino duduk di tempat tidur sambil memangku laptopnya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.
Ting ... pesan masuk sejak tadi tak berhenti berbunyi, akan tetapi dirinya tak tertarik ingin membuka pesan tersebut.
“CK ... siapa yang mengirim pesan sebanyak ini sejak tadi? Mengganggu saja,” kesalnya.
Vino mengambil benda pipih tersebut, ingin melihat pesan tersebut.
Vino membulatkan matanya melihat pesan tersebut, ia langsung melemparkan ponselnya ke tempat tidur.
“Sialan! Aku melupakan hal ini, jika aku sudah menikah. Kenapa aku bisa lupa?” gumamnya.
Ia beranjak dari tempat tidurnya melangkah keluar dari kamar, ia melihat dari tangga jika pintu kamar milik Dea tertutup dengan rapat.
“Apa dia sudah tidur?” gumamnya dalam hati.
Vino melanjutkan langkahnya melewati kamar Dea, ia ke dapur untuk mengambil air putih lalu melangkah kembali lagi. Tapi, Vino berhenti di tepat di depan pintu kamar wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut.
__ADS_1
Vino memegang kenop pintu, akan tetapi tak berani memutarnya.
“Tuan,” panggil bibi dari arah belakang.
Vino terkejut langsung menoleh ke arah belakang.
“Bibi! Huh ... Bibi mengagetkanku. Kenapa Bibi belum tidur?” tanya Vino.
“Bibi haus. Sepertinya Nona Dea belum tidur, karena baru saja masuk ke kamar. Nona menunggu Tuan,” ucap Bibi.
“Menungguku?” tanyanya lirih.
“Baiklah Bi, terima kasih.”
Melihat Bibi sudah masuk ke kamarnya kembali, Vino kembali memegang kenop pintu lalu memutarnya pelan.
Perlahan membuka pintu, terlihat Dea tertidur dengan menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam selimutnya hanya sedikit kepalanya yang terlihat.
“Sepertinya dia sudah tidur,” gumamnya.
Perlahan Vino membuka selimut untuk mengintip, melihat Dea sudah terlelap dengan napas yang sudah beraturan.
Vino menghela napas berat, ia malah membaringkan tubuhnya di samping Dea.
“Kasur ini sempat sekali! Bagaimana bisa dia tidur di kasur sempit seperti ini?” keluh Vino.
Vino perlahan memiringkan tubuhnya, lalu masuk ke dalam selimut karena merasa cukup dingin di kamar Dea. Walaupun kasurnya sempit, akan tetapi aroma di kamar Dea begitu wangi membuat Vino merasa nyaman walaupun kasurnya sempit baginya.
Karena merasa mengantuk Vino malah tertidur di kamar tersebut, bahkan tanpa sadar memeluk tubuh Dea dari belakang hingga pagi menjelang.
Pagi menjelang, Dea menggeliat. Ia merasa heran, karena perutnya merasa berat.
Tangan Dea meraba perutnya, memastikan benda apa yang ada di perutnya terbesit. Akan tetapi ia membulatkan matanya, bahkan jantung berdetak kencang karena merasakan tangan kekar yang melingkar di perutnya.
“Ta-tangan siapa ini?” gumamnya dalam hati, tangannya bahkan bergetar hebat.
Dea mulai membuka pelan selimutnya, lalu perlahan memutar tubuhnya untuk melihat siapa pria tersebut. Ia sangat takut, jika tangan tersebut adalah tangan Alex bahkan ia melihat pakaiannya, Dea bisa bernapas lega karena masih berpakaian dengan lengkap.
“Tu-tuan Vino?” ia terkejut melihat Vino yang tertidur pulas seperti bayi.
Seketika Dea baru tersadar jika dirinya dan Vino baru saja menikah kemarin.
Dea menatap wajah Vino yang terlihat pulas, ia terkesima melihat wajah Vino yang begitu tampan.
“Dia sangat tampan sekali,” gumam Dea menatap wajah pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut.
Dea baru menyadari jika dirinya masih berada di kamarnya, menatap heran ternyata Vino masuk ke dalam kamar miliknya semalam.
“Berarti Tuan Vino ke kamarku semalam?” gumamnya lagi.
“Kenapa? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Vino dengan suara paraunya, membuat Dea terkejut.
__ADS_1
***