
Keesokan paginya, Dea membawa tas kecil miliknya yang berisikan pakaiannya. Ia mengetuk pintu kamar Vino yang masih tertutup dengan rapat, karena sejak semalam belum keluar dari kamar.
Ia memberanikan diri untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, meskipun sudah tanda tangan di kontrak jika ia harus memenuhi syarat.
Tok ... Tok ....
Dua kali ketukan, kamar tak kunjung di buka.
Dea menatap bibi yang menatapnya dari kejauhan, bibi terlihat mengangguk jika Dea jangan menyerah.
Ceklek ... pintu kamar terbuka, karena untuk kesekian kalinya Dea mengetuk pintu.
“Dea, ada apa?” sembari mengucek matanya.
Dea terdiam sejenak, melihat wajah Vino yang penuh dengan luka lebam akibat perkelahian antara Alex dan Vino kemarin.
“Tu-Tuan, saya minta maaf sebelumnya. Sa-saya ingin ....” Dea menggantungkan ucapannya.
Vino tampak tak sabar mendengar Dea berbicara, namun netra Vino tidak sengaja menganggap tas Dea yang di letakkan dilantai.
“Dea, kamu mau kemana?” tanyanya mengernyit heran.
“Itu yang sama bicarakan, Tuan. Saya minta maaf sebelumnya, saya tidak bisa memenuhi syarat kontrak tersebut. Saya ingin mengundurkan diri dan saya akan membayar dengan cara mencicil seperti perjanjian di kontrak kerja tersebut.”
Vino terdiam.
Ekhem ... Vino berdeham.
“Tunggu aku di ruang kerjaku,” ucapnya.
Dea menangguk.
Hampir satu jam Dea menunggu di ruangan kerja Vino, akan tetapi tak kunjung datang.
Dea berulang kali melihat ke arah tangga, akan tetap Vino tak kunjung turun.
Selang beberapa menit terlihat Vino menuruni tangga dengan pakaian yang rapi, Dea terlihat terkesima dengan ketampanan Vino. Dea tersadar dan segera langsung mengalihkan pandangannya.
“Maaf aku lama,” ujarnya masuk ke raungannya lalu duduk di kursi kebesarannya.
Dea mengangguk.
“Dea, saya meminta maaf atas perilaku Pamanku yang tidak senonoh padamu. Tapi, aku ingin jawaban jujur darimu. Apa benar Ayahmu telah menjualmu dengan Pamanku?” tanyanya dengan hati-hati.
Pertanyaan yang ingin ia tanyakan sejak kemarin pada Dea, namun belum sempat mengatakannya.
Deg!
Dea kembali mengingat kejadian yang dimana ayahnya tega menjual dirinya dengan Alex, dengan harga yang cukup fantastis.
Dea mengangguk pelan.
“Dea, jangan takut. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatan Pamanku, karena telah merusak dirimu. Aku akan menikahimu!”
Duar !
Tiada angin, tiada hujan Vino langsung berbicara seperti itu. Membuat Dea sedikit kaget.
“Tu-Tuan. Saya tidak ....”
“Jangan membantah, aku tahu kamu pasti terkejut dengan keputusan yang aku ambil ini. Tapi, ini murni dari aku sendiri tanpa paksaan siapapun. Paman akan selalu mengganggumu kemanapun kamu pergi, kecuali kamu menikah denganku. Aku akan bertanggung jawab semaunya atas perbuatan Pamanku.”
Buliran air mata kini mengalir tanpa permisi, bukan ini yang Dea inginkan. Dirinya hanya ingin kebebasan, tanpa gangguan siapapun di luar sana.
__ADS_1
“Tuan, aku tidak bisa ....”
“Jangan membantah! Bagaimana masa depanmu yang telah di rusak oleh Pamanku? Sekarang kamu kembali ke kamarmu, tak perlu bekerja lagi. Karena Sebentar lagi kamu akan menjadi Istriku!” sela Vino.
Walaupun sangat berat, keputusan ini tetap Vino ambil. Karena untuk menebus semua kesalahan Pamannya dan juga membalas jasa Pamannya ia akan bertanggung jawab atas perbuatan pamannya sendiri.
Dea tampak ingin protes, akan tetapi di urungkannya karena melihat Vino menatapnya dengan tatapan tajam.
Bibi yang kebetulan hendak masuk ke ruang kerja, karena ingin mengantar sarapan untuk Tuan Vino. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar percakapan antara Tuan Vino dan Dea.
Dengan langkah berat Dea melangkah keluar, usahanya ingin pergi jauh dan keluar dari rumah tersebut gagal total.
Bahkan ia tidak bisa lagi berbuat apapun lagi, apalagi saat ini dirinya sama sekali tak mempunyai uang sepersenpun.
“Bibi,” ucapnya lirih saat melihat bibi berdiri di dekat pintu ruang kerja.
“Dea, Bibi akan menyusulmu ke kamar. Bibi harus mengantar sarapan dulu,” ujar bibi.
Bibi sangat mengerti dengan keadaan Dea saat ini, begitu malang nasib Dea saat ini.
Dea mengangguk, lalu melangkah menuju ke kamarnya.
Setibanya di kamar, Dea duduk di tepi kasur dengan perasaan yang kacau.
Terbesit di pikirannya saat ini yaitu ingin menghubungi Dika, akan tetapi ia lupa meminta nomor ponsel milik Dika.
“Astaga, kenapa aku melupakan itu? Bodoh!” umpatnya dalam hati mengutuk dirinya sendiri.
“Apa sebaiknya aku ke rumahnya saja langsung, hanya dia yang bisa membantuku saat ini.”
Dengan membulatkan tekadnya, untuk meminta bantuan kembali pada Dika. Karena hanya Dika yang membisa membantunya.
Saat hendak mengambil tas kecilnya, bibi langsung masuk ke kamar miliknya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Dea menghela napas kasar.
“Entahlah, Bi. Aku bingung, jika aku pergi Tuan Alex pasti akan mencariku kembali. Akan tetapi, aku juga tidak mungkin tetap disini. Apa bedanya?” keluh Dea yang terlihat gusar memikirkan nasibnya, apa lagi Alex yang selalu datang melecehkan dirinya selama berada di rumah tersebut.
“Tuan Vino benar, jika Tuan Vino bersedia untuk menikahimu dan bertanggung jawab atas perbuatan Pamannya. Bibi rasa ini yang terbaik, Tuan Alex pasti tidak akan membiarkanmu hidup tenang.”
“Tapi, Bi. Dea tidak mengenal Tuan Vino, bahkan Dea tidak mencintainya!”
“Sayang, jangan pikirkan perasaan cinta saat ini. Pikirkan masa depanmu dan juga keselamatanmu! Cinta akan tumbuh dengan seiring berjalannya waktu,” ucap Bibi memberi pengertian pada Dea.
Dea menghela napas berat.
“Nak,” panggil bibi melihat Dea yang terlihat termenung.
“Aku akan pikirkan lagi Bi,” sahutnya lirih.
“Baiklah, semua keputusan ada padamu. Bibi hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu,” tambahnya dengan lembut.
Dea mengangguk.
Bibi berpamitan setelah mengatakan itu pada Dea, membiarkan Dea untuk berpikir sejenak.
Sementara Dea berpikir untuk menemui Dika, karena hanya Dika saja yang bisa membantunya.
Dea keluar dari kamarnya berniat secara diam-diam pergi dari rumah tersebut, akan tetapi dirinya tak beruntung. Dea malah berpapasan dengan Vino yang kebetulan hendak pergi ke kantor.
“Dea, kamu mau kemana?” tanyanya.
Dea terlihat gugup.
__ADS_1
“Ak-aku, aku ingin keluar sebentar, Tuan. Aku ingin bertemu dengan temanku,” sahutnya berusaha tak gugup.
Vino terdiam sejenak.
“Sopir akan mengantarmu, jangan bepergian sendirian. Paman pasti akan menunggu kepergianmu dari rumah ini,” ujarnya.
Dea kembali mengangguk.
“Bagas, tolong kamu antar Dea kemana pun dia mau pergi. Aku bisa menyetir sendiri,” ujarnya pada sopirnya.
Sang sopir mengangguk dan mempersilahkan Dea untuk ke mobil. Sementara Vino terlihat terburu-buru karena dirinya harus meeting siang ini.
Dea masuk ke dalam mobil, lalu sang sopir melaju ke arah jalan yang di beritahu oleh Dea.
“Dea, maaf jika saya lancang. Dea harus lebih berhati-hati lagi dengan Tuan Alex, karena orang seperti Taun Alex bisa lebih ganas lagi dari pada kejadian kemarin. Kami sebenarnya menutup mata saja tentang masalah ini, karena selain Paman dari Tuan Vino, Tuan Alex juga punya pengaruh besar terhadap bisnisnya. Karena bukan Dea yang menjadi korban pelecehan ini,” ujar sang sopir tersebut.
“Iya Pak,” sahut Dea singkat.
Dea sudah berusaha melupakan kejadian semalam, walaupun ia melaporkan kasus ini pada polisi akan tetapi dirinya juga tidak mempunyai bukti yang kuat.
Sesampainya di depan kontrakan Dika yang kecil, terlihat pintu tersebut tertutup rapat seperti tidak ada berpenghuni lampu depan masih menyala.
Tok ... Tok ....
Dea berulang kali mengetuk, akan tetapi tak kunjung di buka.
“Apa Dika sedang bekerja? Tapi kenapa lampu depan rumah ini masih menyala?” gumamnya dalam hati.
“Dea mencari Dika ya?” sapa seseorang yang kebetulan kenal dengan Dea, dia adalah rekan kerja Dika saat mengangkat barang.
“Eh iya, kemana Dika? Apa dia tidak pulang?” tanya Dea.
“Dika sudah kembali ke rumah orang tuanya, sudah beberapa hari ini tak kembali. Menurut pemilik kontrakan, Dika tidak kembali ke rumah ini lagi. Aku juga belum bertemu dengannya, apalagi aku libur beberapa hari bekerja.”
Deg!
Harapan untuk meminta tolong pada Dika kini sangat tipis, bahkan mustahil mencari keberadaan Dika saat ini. Apalagi Dika sudah kembali ke rumah orang tuanya.
Sepulang dari rumah kontrakan Dika, Dea tampak banyak diam. Ia hanya menatap ke luar jendela, dengan pikiran yang tak karuan.
Pilihan Dea saat ini hanya satu, yaitu menerima pernikahan dengan tuan Vino., karena hanya itu yang bisa menyelamatkan dirinya dari Tuan Alex dan juga ayahnya.
Dea menghela napas kasar.
“Siapa yang kamu cari? Maaf jika saya ingin tahu, karena Tuan Vino pasti akan bertanya.”
Dea menatap sejenak sang sopir.
“Dia temanku, yang membantuku dari kejaran Tuan Alex dulu. Aku begitu bodoh karena tak mendengarkan ucapannya untuk tetap tinggal dulu,” ucap Dea. Terlihat dari raut wajah Dea yang sangat menyesal.
Bagas terlihat prihatin dengan nasib Dea, di tinggal oleh ibunya untuk selamanya lalu di jual ayah tirinya demi uang dan sekarang ia harus terpaksa menerima pernikahan dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai demi keselamatannya dari Alex.
Di kantor Vino terlihat termenung di dalam ruangannya, karena ia baru saja menyelesaikan meeting bersama karyawannya. Jika bisnisnya saat ini tengah bermasalah, semua ini penyebabnya adalah pamannya sendiri.
Akan tetapi Vino masih bisa bernapas lega, karena dirinya juga mempunyai beberapa bisnis lain yang murni di kelolanya sendiri tanpa bantuan siapapun.
“Kenapa Paman berubah menjadi sekejam ini pada wanita? Dulu Paman tak seperti ini,” gumamnya dalam hati, karena ia melihat sendiri bagaimana sang Paman menodai Dea.
“Huh ... karena ulah Paman, aku harus bertanggung jawab. Jika tidak, pasti akan bermasalah pada semua bisnisku, apalagi jika Dea melaporkan ke polisi di tambah lagi kejadian ini di rumahku.”
Vino mengusap wajahnya dengan kasar, mau tidak mau ia harus menikahi Dea. Menutup kasus ini pun percuma pikirnya, karena jika Dea di bebaskan Alex pasti tidak akan membiarkan Dea pergi begitu saja.
Hanya ini satu-satunya yang akan menyelamatkan Dea dan juga bisnisnya yang sedang melejit saat ini.
__ADS_1
***