
Diana sangat bahagia melihat pertengkaran Dea dan suaminya, ia tak memikirkan lagi bagaimana perjuangan Dea menolongnya.
Sang bibi bahkan menatap heran Diana dari kejauhan, seperti ada yang tidak beres dengan Diana. Ia menatap Diana yang terlihat bahagia mendengar pertengkaran tuannya.
Melihat Vino menuruni tangga, dengan cepat Diana bergegas menghampirinya.
“Tuan, Vino. Mau kemana?” tanya Diana dengan cepat.
Vino terlihat menepis tangannya dengan kasar, sehingga Diana terkejut dengan cara Vino begitu kasar padanya.
Diana hanya bisa memandang punggung Vino yang keluar menjauh.
“Ck ... kalian harus berpisah! Jika saja kamu mau menikahiku, aku tidak akan mengambil cara ini. Wanita mana yang hanya ingin di tiduri saja, aku bukan wanita bodoh!” gumamnya menyeringai licik.
“Dea, maafkan aku. Kamu sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi Nyonya di rumah ini, sekarang giliranku. Kamu itu selalu beruntung, sedangkan aku ....”
Ia menggantungkan ucapannya, setelah melihat bibi melewatinya.
“Wanita tua ini juga perlu aku singkirkan juga dari rumah ini, dia cukup dekat dengan Dea!” gumamnya dalam hati melihat punggung Bibi yang membersihkan sofa.
Tanpa menunggu lagi Diana melangkahkan kakinya menuju kamar Dea, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Tok ... Tok ...
“Dea, apa kamu di dalam?” tanyanya setengah berteriak sembari mengetuk pintu kamar Dea dan Vino.
Karena cukup lama mengetuk pintu, akan tetapi tak di buka oleh Dea hingga membuat Diana semakin kesal.
“Ck ... angkuh sekali!” geramnya Karena Dea tak kunjung membuka pintu kamar, hingga membuat semakin kesal.
Diana membuka langsung pintu tanpa mengetuk lagi, ia melihat Dea tengah duduk di tempat tidur dengan bersandar.
“Sialan! Dia memang sengaja tidak membukakan aku pintu, padahal dia tak tidur!” umpatnya dalam hati.
“Dea, apa kamu baik-baik saja? Aku sangat cemas, apalagi melihat Tuan Vino begitu marah tadi,” ujarnya dengan raut wajah sedih yang di buat-buatnya.
Dea tersenyum kecut.
“Bukankah kamu sangat bahagia, jika Vino marah padaku. Oh ya, dulu kamu pernah mengatakan, jika kamu menginginkan apa yang aku miliki. Siapa yang kamu bicarakan itu? Apakah Vino?” tanya Dea tanpa ragu, karena tak tahan lagi melihat sandiwara mereka berdua.
“Dea, kenapa kamu bicara seperti itu? Saat itu aku hanya bercanda,” ujarnya ikut duduk bersama Dea di tempat tidur, ingin mengambil tangan Dea.
Namun, dengan cepat ia menepis tangan Diana dengan kasar.
“Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu!” sentak Dea menatap Diana dengan sorot mata yang tajam.
Diana langsung terdiam.
“Kalian pikir aku tak mengetahui kelakuan busuk kalian! Sangat menjijikkan!”
Diana tampak sedikit terkejut, ia sudah mengerti arah pembicaraan Dea.
Ekhem .... Diana berdeham, wajahnya yang semula tegang kini menjadi santai bahkan tersenyum mengejek.
“Baguslah kalau kamu sudah mengetahuinya, jadi aku tak perlu repot-repot merahasiakannya. Hm ... tapi, Tuan Vino begitu nyaman denganku, ketimbang dirimu!” dengan senyum mengejek.
Dea tersenyum kecut mendengarnya, ia tak menyangka wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri kini tega berbicara tentang hubungan mereka dengan lantang di hadapannya.
Dea berusaha menahan tangisnya, ia tak ingin lemah di hadapan Diana.
“Aku pikir wanita yang sudah kotor, bisa berubah menjadi wanita suci lagi. Tapi tidak dengan dirimu ternyata, kamu sudah menunjukkan derajatmu yang sebenarnya. Wanita rendahan tetap saja menjadi wanita rendahan!” seru Dea dengan lantang sembari menegakkan kepalanya.
Diana langsung terdiam.
“Iya, aku memang wanita kotor. Lalu apa kabar denganmu? Kamu harus tahu, Vino menikahimu hanya karena terpaksa. Dia menyelamatkan perusahaan dari berita yang tidak mengenakan, karena Pamannya telah melecehkanmu! Tapi tidak denganku, ia melakukan bukan karena terpaksa!” tersenyum penuh kemenangan menatap Dea.
Plak!
Tamparan keras langsung mendarat di pipinya Diana, karena sudah tak bisa lagi menahan amarahnya.
“Jaga bicaramu! Vino tak pernah mengatakan jika dia menikahiku demi menyelamatkan bisnisnya. Ia hanya bertanggung jawab atas perbuatan Pamannya dan kami sudah saling mencintai,” balas Dea.
“Hahaha ... ckck ... kasihan sekali dirimu. Heum ... bagaimana rasanya hanya menjadi teman tidur tanpa di cintai?!” ejek Diana.
“Itu lebih baik, ketimbang menyerahkan diri menjadi wanita kotor tanpa status!” seru Dea tak mau kalah.
Diana murka mendengar itu, ia tak tinggal diam. Ia menarik rambut Dea dengan kuat hingga Dea tersungkur ke lantai, terlihat Dea begitu kesakitan bahkan ada beberapa helai rambut yang tertinggal di tangan Diana.
“Aw ...” keluh Dea.
__ADS_1
“Itu hanya sedikit pelajaran untukmu,” ucapnya menyeringai lalu hendak melangkah keluar kamar.
Dea mereka kaki Dian hingga dirinya juga tersungkur ke lantai, membuat Diana mengaduh kesakitan. Dea juga tak tinggal diam, ia duduk di atas tubuh Diana lalu menarik rambut Diana dengan kuat.
“Kamu pikir aku wanita lemah dan diam saja ketika melakukan hubungan terlarang di luar sana? Apa salahku padamu Diana? Aku sudah membantumu untuk keluar dari rumah Alex dan membiarkan mu tetap tinggal di rumah ini!”
Dengan tangan kuat mencengkram rambut Diana hingga Diana tampak kesakitan.
“Kenapa kamu begitu tega! Kenapa harus pria yang sudah beristri?!” sentak Dea bersamaan dengan air mata yang keluar.
Sebenarnya dirinya tak tega melakukan hal seperti sekarang ini pada Diana, semua itu karena dirinya tak bisa mengontrol emosinya lagi terhadap Diana.
“Iya, aku memang wanita tega. Kamu begitu mudah mendapatkan pria yang memberikan kamu kenyamanan harta berlimpah, sedangkan aku ....”
Diana terdiam, karena dirinya begitu iri pada Dea yang bisa mendapatkan semuanya dalam sekejap.
Dea melonggarkan cengkeraman tangannya, ia tak menyangka jika hal sepele tersebut Diana begitu tega ingin mengambil semua yang ia miliki termasuk suaminya.
Ceklek ! pintu kamar langsung terbuka tanpa permisi, dengan posisi Dea masih di atas tubuh Diana.
Vino membulatkan matanya melihat istrinya yang tengah berada di atas tubuh Diana, apalagi melihat wajah mereka yang terlihat memerah dan rambut acak-acakan.
Dea dan Diana menatap ke arah pintu dan mereka saling bertatapan sejenak.
“Dea, apa yang kamu lakukan?!” teriaknya menarik tubuh istrinya dengan kasar lalu membantu Diana untuk berdiri.
Diana bersandiwara memperlihatkan wajahnya yang begitu kesakitan, bahan Diana langsung memeluk tubuh Vino tanpa ragu di depan Dea sambil menangis.
“Hiks ... Tuan, entah apa salahku padanya. Aku hanya menawarkannya makan, akan tetapi dia langsung memukulku.” Dengan raut wajah yang sedih, bahkan tangis yang dibuat-buatnya.
Dea memicingkan matanya, Diana tega berbohong demi mendapatkan pembelaan.
“Kamu kembali ke kamarmu,” ujar Vino melepaskan dekapan Diana darinya.
Diana tersenyum puas menatap Dea yang tampak kesakitan akibat dorongan Vino yang begitu kuat.
Setelah melihat Diana keluar, Vino menatapnya dengan tajam.
“Apa yang kamu lakukan pada Diana? Dia sudah berusaha membantumu di rumah ini!” menatap istrinya.
“Kenapa bertanya? Bukankah Diana sudah mengatakannya tadi, jika aku menjelaskannya apa kamu percaya?” tanya Dea menatap balik Suaminya.
“Iya, aku memang tak tahu malu. Lalu bagaimana dengan hubungan terlarang kalian, itu sangat menjijikkan!” seru Dea.
Plak!
Lagi-lagi tamparan mendarat di tempat yang sama untuk kedua kalinya, yang pertama di lakukan oleh Diana dan saat ini di lakukan oleh suaminya sendiri.
Dea merasakan panas di pipinya akibat tamparan tersebut, hingga dirinya mengaduh kesakitan.
“Jaga bicaramu itu! Jangan asal bicara kalau tidak ada bukti!” sentaknya.
“Kenapa harus perlu bukti? Diana sendiri yang mengatakannya padaku!” balasnya menatap Vino.
Vino langsung terdiam.
Dea begitu pandai berbicara, walaupun Diana tak mengatakan yang sebenarnya akan tetapi Diana sudah mengakui hubungan terlarang mereka.
“Kenapa diam, aku benarkan?! Aku akan menyebarkan rekaman cctv ini ke media, bukankah itu yang kamu takutkan sehingga terpaksa menikahiku!”
Vino membulatkan matanya, ia heran dari mana Dea mengetahui hal tersebut sedangkan dirinya sudah menutup rapat mulutnya, kecuali dengan Diana itu karena Diana yang memaksanya untuk berbicara.
“Punya nyali kamu rupanya, selain wanita tak tahu diri kamu juga ternyata wanita tidak tahu cara berterima kasih!” geram Vino, ia tak bisa menahan dirinya lagi lalu mencekik leher Dea hingga Dea kesulitan untuk bernapas.
Dea menendang alat reproduksi milik Vino, hingga Vino melepaskan tangannya dan mengaduh kesakitan.
“Mau kemana kamu wanita bodoh?! Kamu pikir setelah mengancamku, kamu akan bisa berlari dariku?!” menarik tangan Dea yang hendak berlari.
Plak ! plak ! berulang kali Dea mendapatkan tamparan dari suaminya sendiri, Dea tak mempunyai tenaga lagi untuk melawan apalagi suaminya duduk di atas tubuhnya.
Ia hanya bisa menjangkau ponsel miliknya, akan tetapi Vino lebih dulu mengambil ponsel milik istrinya tersebut dan membuangnya kesembarang arah.
“Kali ini aku tidak akan membiarkanmu hidup!” sentaknya.
“Bu-bunuh saja aku, aku ingin menemui Ibuku!” ucapnya dengan suara terbata-bata sembari tersenyum.
Seketika Vino langsung tersadar dengan apa yang telah ia lakukan pada istrinya tersebut, ia langsung beranjak dari tubuh Diana.
“Pergi dari hadapanku sekarang juga, aku tak mau lagi melihat wajahmu itu! Bahkan mulai sekarang kamu bukan Istriku lagi, aku akan segera menceraikanmu dan jangan pernah membawa barang satupun dari rumah ini! Karena semua yang ada di rumah ini milikku, kamu tidak berhak sedikitpun!” dengan perasaan yang sangat marah ia mengatakan itu.
__ADS_1
Dea meneteskan air matanya kembali, kini pupus sudah harapannya ingin membangun rumah tangga bahagia bersama Vino seperti keinginannya dulu.
“Tunggu!” langkah Dea langsung berhenti, akan tetapi tak menoleh ke arah belakang.
“Aku akan benar-benar membunuhmu jika kamu berani menyebarkan rekaman cctv itu!” ancamnya, karena dirinya tak mau perusahaan yang ia bangun hancur begitu saja.
Dea tersenyum kecut, walaupun dengan luka lebam di wajahnya bahkan darah keluar dari sudut bibirnya.
“Terima kasih sudah mengakui perselingkuhan kalian, semoga kalian secepatnya menikah dan tidak melakukan hubungan terlarang itu lagi!”
Vino mengepal kuat tangannya setelah mendengar ucapan Dea istrinya, ia juga tak bisa mengelak karena memang benar adanya dirinya dan Diana memang sudah beberapa kali melakukan hal terlarang tersebut.
Sedangkan Dea langsung keluar dari kamar tersebut setelah mengatakan itu.
Saat menuruni tangga, beberapa pekerja di rumah menatap dirinya yang tertatih-tatih menuruni anak tangga. Mereka semua mendengar jelas pertengkaran mereka, membuat bibi langsung meneteskan air mata melihat keadaan Dea yang penuh dengan luka lebam di wajahnya.
Bibi menyangka, jika teman yang sudah dianggap seperti keluarga oleh Dea dengan tega menghancurkan rumah tangga majikannya.
“Dea, Bibi ikut bersamamu.”
Dea terharu mendengarnya, lalu memeluk bibi dengan erat.
“Hiks ... Bi. Terima kasih selama ini Bibi sudah menganggapku seperti anak, tapi Bibi harus tetapi disini. Bagaimana cara Bibi menafkahi anak bibi, jika bersamaku?” ujarnya dengan suara bergetar menahan tangis.
“Mereka sudah bekerja semua dan mempunyai keluarga masing-masing, tunggu Bibi di teras. Bibi mengambil pakaian Bibi,” ujarnya melepaskan dekapan Dea darinya.
Dea menggelengkan kepalanya dengan kuat, agar bibi tak berhenti bekerja karena dirinya.
“Bibi sudah lama ingin berhenti bekerja, tunggu sebentar.” Melepaskan tangan Dea, lalu setengah berlari menuju kamarnya.
Prok! Prok!
Dea menatap Diana yang tersenyum licik padanya, sambil melipat kedua tangannya dengan berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Selamat, kamu sudah berhasil mengajak orang percayaan pergi dari rumah ini! Selamat menikmati hidupmu yang baru, kembali ke tempat asalmu!” menyeringai licik.
Dea tak menghiraukan lagi ucapan Diana, ia melangkah menuju pintu keluar. Dea terlihat kesusahan untuk melangkah, kakinya begitu sakit akibat ulah suaminya di kamar tadi.
Sementara Diana tersenyum bahagia, karena dirinya sebentar lagi akan menjadi Nyonya di rumah ini tanpa merasa iba sedikitpun dengan Dea.
“Selamat ya, Nona. Apa yang Nona inginkan selama ini sudah terkabul, termasuk memisahkan antara Dea dan suaminya. Tapi satu hal yang perlu Nona ketahui, berani menyentuh Dea lagi Nona akan menerima akibatnya!” ancam wanita paruh baya itu.
Diana terlihat kesal menatap bibi yang langsung pergi setelah mengatakan itu.
“Dasar Nenek sudah bau tanah, bisanya mengancam! Jika ku tendang sekali saja, tulangnya akan patah semua!” ejeknya melihat punggung wanita paruh baya itu.
Dea dan bibi tak mau berlama-lama lagi di depan rumah tersebut, mereka memesan taksi yang di pesan oleh penjaga untuk mereka.
Bibi terlihat penuh perhatian terhadap Dea, bahkan dia mengobati luka di sudut bibir Dea yang tampak berdarah dan sedikit mulai mengering.
“Dea, apa yang kamu pikirkan? Jangan pernah memikirkan merek yang tega berkhianat padamu, manusia seperti mereka tak pantas berada di dalam pikiranmu. Kamu harus percaya, jika karma itu selalu ada.”
Dea menangguk, hanya saja dirinya tak habis pikir dengan Diana yang begitu tega dan tak memikirkan perasaannya sama sekali.
“Iya, Bi. Dea tak menyangka, selama ini mereka sudah sering melakukannya,” ucap Dea lirih.
“Sudah, jangan memikirkan mereka lagi. Kita mulai hidup dari awal lagi! Sejak awal Bibi sudah mencurigai Diana, tapi bibi berpikir jika kalian begitu dekat hingga tak mungkin Diana melakukan hal itu. Akan tetapi Bibi salah,” ujar bibi terlihat tak habis pikir.
Bibi memeluk Dea dengan erat, sembari menguatkan wanita yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.
Sementara di ruang Vino, dirinya masih berdiri di balkon karena menatap kepergian istrinya dan bibi menggunakan taksi.
Dea benar-benar tak membawa barang satupun dari rumah tersebut, kecuali pakaian yang di tubuhnya.
Sebelumnya Dea juga meletakkan semua cincin yang di berikan oleh Vino di nakas tempat tidur.
“Sayang, apa yang Tuan pikirkan?” tanya Diana langsung memeluknya dari belakang.
Vino masih diam tak mau menjawab, ia masih melipat tangannya.
“Bagaimana jika kita melakukannya lagi? Aku akan membuatmu puas,” ujar Diana masih tetap menggodanya.
“Keluar dari kamarku! Berani sekali kamu masuk tanpa izinku?!” dengan suara yang penuh penekanan.
Bukannya takut, Diana malah memeluk erat Vino dari belakang. Ia bahkan mengesek-gesek benda kenyal tersebut di belakang Vino, berharap Vino kembali berhasrat.
Alih-alih membuat Vino berhasrat padanya, Vino malah tak bergeming dari tempatnya dan malah membentaknya.
“Apa kamu tuli, hah! Keluar dari kamarku sekarang!” bentaknya membuat Diana langsung melepaskan dekapannya karena takut melihat kemarahan Vino.
__ADS_1
***