
Hari demi hari sudah berlalu, waktu begitu sangat cepat berputar.
Hingga sebulan lamanya, Dika tak menemukan keberadaan istrinya.
Dirinya sudah menyerah, hampir semua tempat telah ia telusuri, bahkan ia juga sudah melacak keberadaan istrinya. Akan tetapi tak berhasil, hanya satu yang belum ia lakukan yaitu melaporkan kepolisi.
Ia memang tak melakukannya, karena ia sangat tahu jika keluarganya sendiri yang menyembunyikan keberadaan istri dan putrinya.
Hari ini adalah hari bahagia ingin Rival dan Dela. Rival saat ini tengah mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan tanpa jeda.
Semua orang ikut bahagia, karena Rival akhirnya memutuskan untuk menikahi kekasihnya Dela.
Walaupun sebelumnya, terjadi perdebatan sengit di antara keduanya seminggu sebelum pernikahan.
Pemicu pertengkaran mereka adalah Sania yang datang kembali dan meneror dirinya agar meminta Rival untuk bertanggung jawab atas kehamilannya.
Sehingga ayahnya yang turun tangan agar Dela percaya bahwa yang dikatakan oleh Sania adalah kebohongan.
Rival tampak bahagia, saat ini mereka sedang menjadi raja dan raut sehari.
Dika menatap wajah kakaknya yang tanpa berdosa telah menyembunyikan istrinya, raut wajah Dika tak memancarkan kebahagiaan sama sekali.
Saat sibuk bergulat dengan pikirannya, seorang anak kecil menghampirinya lalu memberikannya minuman dingin.
“Papa, ini untuk Papa.”
Dika terdiam sejenak, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa peduli dengan anak kecil yang berada di hadapannya tersebut.
“Huft ... di tempat ramai pun suara Clara selalu terdengar jelas di telinga ku,” gumamnya.
Clara mendengarnya terkekeh, karena Dika tak menyadari jika dirinya memang berada di hadapannya dan berpikir jika dirinya sedang bermimpi.
“Papa,” Panggil Clara lagi.
Dika langsung terdiam, seketika dirinya tersadar jika suara tersebut bukan halusinasinya saja.
“Clara,” ucapnya lirih menatap Clara yang berada di hadapannya.
Clara mengangguk, lalu tertawa geli melihat Dika seperti tak percaya dengan dirinya.
“Papa kenapa?” tanya Clara.
Perlahan Dika memegang kedua pipi Clara yang gembul, Dika merasakan bahwa itu benar-benar nyata.
“Clara, ini kamu sayang. Clara anak Papa?” tanyanya antusias.
Clara mengangguk.
Tanpa menunggu lagi, Dika langsung memeluk putrinya dengan erat hingga membuat Clara protes karena dirinya kesulitan untuk bernapas.
“Sayang, Papa sangat merindukanmu Nak! Kamu kemana saja Sayang.” Memeluk kembali putrinya dengan erat.
“Hm ... Kata kakek ini rahasia, Clara sudah berjanji untuk tidak mengatakannya pada siapapun.”
__ADS_1
Dika mengangguk, ia bangga dengan kejujuran putrinya tersebut bahkan menepati janjinya pada kakeknya.
“Baiklah, kalian membuat Papa habis mati. Dimana Mama?” tanyanya karena tidak melihat Dea di sekelilingnya.
“Mama di kamar,” sahutnya.
“Kamar. Dikamar nomor berapa?” tanyanya.
Clara membisikkan sesuatu di telinga Dika, membuat Dika tersenyum licik mendengar bisikan putrinya.
“Clara bermainlah dengan kakek, Papa ingin menyusul Mama sebentar.”
Clara mengangguk.
Tanpa menunggu lagi, Dika langsung beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah cepat menuju ke kamar hotel tersebut.
Karena Kakaknya mengadakan resepsi pernikahan di salah satu hotel milik Rival sendiri.
Tiba di kamar tersebut, Dika langsung membuka pintu kamar.
“Kalian keluar sebentar, aku ingin berbicara dengan Istriku sebentar,” ujarnya pada petugas hotel yang tengah membersihkan kamar tersebut.
Melihat mereka keluar, Dika langsung mengunci pintu kamar tersebut sembari menatap istrinya.
Dirinya ingin marah, rindu dan semuanya menjadi satu.
“Dimana kalian bersembunyi? Apa kamu tahu, aku hampir gila mencari kalian ke seluruh kota ini!”
“Kamu ini bicara apa sih? Kapan aku mengatakan seperti itu? Astaga!” mengusap rambutnya dengan kasar.
Dea melipat kedua tangannya, bahkan dirinya masih marah pada suaminya.
Dika menatap istrinya yang sejak tadi tak mau melihat dirinya.
“Sayang, maafkan aku. Jangan seperti ini lagi,” ucapnya melemah menarik tangan istrinya dan memangku istrinya.
Ia memeluk erat Istrinya, merindukan aroma tubuh istrinya yang sudah hampir dua bulan tanpa kabar sama sekali.
“Jangan meninggalkan aku dengan cara seperti ini lagi, aku tak sanggup berpisah dari kalian. Aku tak sanggup jauh dari kalian,” ucapnya masih memeluk istrinya.
Dea tidak mengeluarkan sepatah katapun, sebenarnya dirinya juga sangat merindukan suaminya. Namun, kata-kata suaminya sangat menyakitkan di hatinya.
“Sayang, kamu masih marah? Kenapa kamu diam saja?” tanyanya melepaskan dekapannya.
Dea hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya ingin sendiri,” ucapnya lirih.
Mendengar itu, raut wajah Dika langsung berubah sedih.
Dika beranjak dari tempat duduknya, menghargai Dea yang ingin sendirian.
Dea menatap kasihan, apalagi wajah Dika terlihat tirus. Bulu halus di biarkan begitu saja, bahkan tubuh yang terlihat begitu kurus.
__ADS_1
“Sayang,” panggil Dea, melihat suaminya yang tengah membuka kunci pintu.
Dika terdiam, lalu membalikkan tubuhnya menatap Dea.
“Apa kamu tidak ingin memeluk calon anakmu dulu sebelum pergi?” tanya Dea sembari mengusap perutnya yang masih terlihat rata.
Dika mengerutkan keningnya, ia tak mengerti dengan ucapan Dea.
“Aku tidak mengerti? Anak mana yang kamu bicarakan? Aku sudah bertemu dengan Clara di bawah, dia sendiri yang mengatakan jika kamu berada di kamar ini.”
“Bukan Clara. Tapi anakmu, dia sudah tumbuh di dalam rahimku.”
Dika masih tak bergeming, hingga membuat Dea kesal. Karena suaminya tak seperti drama di televisi.
“Aku hamil anakmu!” ujar Dea sedikit ketus.
Dika langsung tersadar, dengan langkah cepat ia mendekati Dea lalu memeluknya.
“Kamu hamil, Sayang?” tanyanya masih memeluk tubuh istrinya.
“Hm ...” deham Dea.
Cup ...
“Terima kasih kamu sudah membawakan kabar bahagia ini, Sayang. Maafkan aku ya, hukum saja aku atas perkataanku yang telah menyakitimu. Tapi, jangan pergi lagi.” Menatap nanar wajah istrinya.
“Tergantung! Jika kamu masih mengulang perbuatanmu lagi, cemburumu yang di luar batas. Aku akan menghilang untuk selamanya dan tidak pernah menemukanku lagi!” ancam Dea.
“Iya, jangan pergi. Aku berjanji, kejadian itu tidak akan terulang lagi.” Mengajak istrinya untuk duduk di tepi kasur.
Lalu ia berjongkok meletakkan wajahnya di depan perut istrinya.
“Anak Papa, sehat terus ya Sayang.” Cup ... Cup, berulang kali mengecup perut rata istrinya.
Dea tersenyum sembari mengusap kepala suaminya.
“Sayang, kamu terlihat sangat kurus. Apa kamu tidak pernah makan?” tanyanya begitu prihatin.
Dika menggelengkan kepalanya.
“Aku makan, hanya saja tidak teratur. Pagi hingga sore aku bekerja, kadang aku lupa makan. Malam hari aku terus mencari keberadaan kalian, bahkan aku sering tidur di mobil. Semua itu aku lakukan untuk menebus kesalahanku dan juga masih mencari keberadaan kalian,” sahutnya masih mengusap perut istrinya.
Dea tak tega mendengar cerita suaminya, mertuanya benar-benar memberinya pelajaran yang setimpal. Bahkan tak menceritakan pada Dika keberadaan mereka, yang sebenarnya selama ini mereka tinggal di vila milik Rival.
“Maafkan aku, Sayang. Semua ini Kak Rival yang merencanakannya, aku hanya mengikuti alur saja.”
“Jangan meminta maaf, aku tahu jika Kakakku yang merencanakan ini. Aku sudah menerima akibat perbuatan ku.”
Kembali memeluk istrinya, sejak tadi Dika tak melepaskan dekapannya pada istrinya.
Ia ingin menumpahkan rasa rindunya yang begitu dalam, seakan enggan untuk melepaskan dekapannya. Rasa takut yang tinggi, jika Dea meninggalkannya kembali.
***
__ADS_1