
“Dea, kenapa kamu terlihat ketakutan? Apa yang terjadi?” tanya Bibi karena melihat Dea masuk dengan terburu-buru, bahkan mengunci pintunya.
“Bibi ... hiks ...” dengan suara parau dan bergetar menahan tangis.
Dea terduduk di lantai bersandar di dinding pintu, membuat bibinya menatap Dea dengan heran.
“Dea, apa yang terjadi denganmu, Nak?” tanya wanita paruh baya tersebut mendekatinya, bahkan mengusap bahunya.
Dea semakin histeris, lalu memeluk wanita tersebut dengan tangan yang gemetar.
“Kenapa, Nak?” tanyanya dengan lembut.
“Bibi hiks ....” Dea semakin terisak, bahkan tak bisa mengeluarkan perkataannya.
Sang Bibi membiarkan Dea menangis di dalam dekapannya, mengelus pundaknya seakan mengerti dengan keadaan Dea saat ini. Bibi sudah menduga jika saat ini pasti ada hubungannya dengan Alex, karena ini bukan untuk pertama kalinya pelecehan yang di lakukan oleh Alex.
“Dea, apakah ini ada hubungannya dengan Tuan Alex?” tanya bibi pelan.
Seketika isak tangis Dea langsung terhenti, ia mengusap air matanya lalu menatap wajah bibi yang terlihat menahan amarah.
“Bi ...” panggil lirih.
“Nak, kamu memang orang baru bekerja di rumah ini. Tapi, Bibi sudah menganggapmu seperti putri Bibi sendiri. Nak, sekarang jujur pada Bibi, apa sebenarnya yang terjadi?” tanyanya pelan menangkup kedua tangannya pada pipi Dea.
“Hiks ... Bibi. A-aku ....”
Dea kembali memeluk wanita paruh baya tersebut.
“Tu-tuan Alex ... hiks.”
__ADS_1
“Dea, jangan pernah takut untuk mengatakan kebenarannya. Kejadian ini bukan yang pertama kalinya terjadi, Bibi harap kamu mengatakan yang sejujurnya.”
Dea kembali melepaskan dekapannya, bibi mengusap sisa air mata yang mengalir di pipi mulusnya.
Dengan suara terbata, Dea menceritakannya pada bibi, ia menceritakan kejadian di kamar tadi.
Bibi menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh Alex pada Dea. Hingga berani masuk ke kamar dan mencoba melecehkan Dea.
“Dea, kali ini Bibi tak tinggal diam lagi. Kita harus mengatakan ini pada Tuan Vino.”
“Tapi Bi, aku takut Tuan Vino tak mempercayai ini. Aku takut di penjara atas tuduhan palsu karena tanpa bukti.”
“Ada Bibi, kamu perlu takut.” Mengusap air mata Dea kembali.
“Bi ....” memeluk kembali Dea.
“Sekarang kamu tidur di kamar Bibi, besok kita akan menceritakannya pada Tuan Vino.”
Keesokan paginya, Bibi tengah menyiapkan sarapan bersama Dea untuk tuan Vino. Jantungnya berdetak kencang saat melihat Vino datang dan duduk di kursi untuk bersiap sarapan.
Bibi mengerti dengan kegugupan Dea, Bibi langsung menggenggam tangan Dea agar tak merasa gugup.
“Selamat pagi Tuan,” sapa Bibi sembari membawakan teh hijau dan sarapan untuk Vino.
“Pagi Bi,” sahutnya.
Netra Vino seperti sedang mencari seseorang.
“Apa Tuan Vino sedang butuh sesuatu?” tanya bibi melihat Vino celingukan.
__ADS_1
“Oh itu, Dea, dimana dia?” tanya sembari menarik piring sarapan yang di berikan oleh bibi.
“Mm ... Tuan. Aku ingin mengatakan sesuatu pada Tuan, maaf jika Bibi lancang.”
Vino yang sedang menyeruput teh hijaunya, langsung meletakkannya di meja dan menatap bibi yang tampak serius.
“Ada apa, Bi? Sepertinya sangat serius,” tanyanya.
“Mm ... itu. Tuan Alex ....”
Vino tampak menghela napas berat.
Bibi mulia menceritakan kejadian semalam, kejadian yang di alami oleh Dea.
Vino terdiam, dirinya sebenarnya melihat jelas dari layar cctv. Jika pamannya masuk ke dalam kamar Dea, akan tetapi ia tak tahu persis apa yang di lakukan oleh Alex.
“Tuan, maafkan saya jika saya lancang. Saya sangat berharap Tuan percaya, bukan hanya Dea yang mengalami kejadian ini. Akan tetapi, beberapa pelayan di rumah ini tidak menyambung kontrak kerjanya karena takut dengan Tuan Alex.”
Vino membulatkan matanya, dirinya baru mengetahui jika pamannya sudah melecehkan pelayan rumahnya sebelumnya.
Walaupun ia tahu jika pamannya memang suka membeli perempuan lain di luar sana, akan tetapi tak terbesit di pikirkannya jika pamannya melecehkan pelayannya.
“Kenapa Bibi baru bicara sekarang?” tanya Vino.
“Saya sudah berusaha bicara, akan tetapi Tuan Alex mengancam saya!”
Vino tampak terkejut, tak menyangka dengan apa yang di ucapkan oleh bibi.
Vino menghela napas kasar, ia bersandar di bahu kursi.
__ADS_1
Bibi terlihat kecewa, karena melihat dari raut wajah Vino sepertinya tidak percaya dengan ucapannya karena memang dirinya tidak mempunyai bukti untuk semua itu.
***