Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 36


__ADS_3

Kedatangan Dika dan istrinya serta putri kecil mereka, di sambut hangat oleh keluarga Dika.


Dika tak melihat kedua kakaknya di rumah, dirinya sudah mengetahui sifat kakaknya. Mereka pasti akan sibuk dengan pekerjaan di kantor, bahkan hingga sekarang keduanya belum menikah. Karena sibuk mengumpulkan kekayaan, hingga melupakan kehidupan mereka.


“Dika, Ayah menantikan ini sejak beberapa tahu terakhir. Bagaimana caramu mengajak mereka agar datang kembali ke kota ini?” tanya ayahnya, saat melihat Dea di dapur membantu mertuanya.


“Aku tidak melakukan apapun, Ayah. Hanya saja Clara tak bisa jauh terlalu lama dariku, mungkin itu alasan Dea memberanikan diri.”


Ayahnya mengangguk, ia menatap wajah gadis kecil yang tengah sibuk bermain dengan mainannya di sofa.


“Sekilas wajahnya mirip denganmu, tapi juga mirip Ibunya.”


Dika terkekeh mendengarnya.


Pernikahan Dika dan Dea sangat di setujui oleh kedua orang tuanya, sebelumnya juga Dika sudah menceritakan yang sebenarnya terjadi dengan Dea.


Karena memang keinginan mereka sejak dulu melihat anak-anaknya menikah dan mempunyai anak.


Namun, keinginan mereka tersebut di wujudkan oleh Dika. Tapi tidak dengan kedua kakaknya, yang menolak untuk menikah sekarang dengan alasan mereka belum siap untuk berkeluarga.


“Dea,” panggil ibu mertuanya.


Dea menoleh.


“iya, Bu. Ada yang perlu Dea bantu?” tanyanya dengan lembut.


“Kami sudah menerima masa lalumu, Ibu sangat berharap kamu pun begitu. Dika begitu sangat mencintaimu, bahkan hampir setiap hari ia membicarakanmu pada Ibu setelah kalian menikah. Jangan pernah mengecewakan dia, Nak.” Mengusap bahu Dea dengan lembut.


Dea terdiam, ia baru mengetahuinya jika ternyata Dika begitu sangat mencintainya. Sedangkan dirinya, masih belum bisa memberikan hati sepenuhnya pada Dika.


Bukan karena masih mencintai mantan suaminya, hanya saja dirinya sangat trauma dengan masa lalunya.


“Dea akan berusaha menjadi Istri yang baik, Bu.” Dea tersenyum lembut pada ibu mertuanya tersebut.


Mereka menginap di rumah orang tua Dika selama dua hari, selain Dika masih menyiapkan isi rumah baru mereka. Orang tuanya juga ingin berkumpul bersama dengan mereka.


Malam harinya, setelah makan malam bersama. Dea terduduk diam di sofa yang berada di kamar, ia terlihat ketakutan karena kakak iparnya Rival menatapnya dengan tatapan mesum saat di meja makan tadi.


Dea sudah berusaha menyembunyikan ketakutannya tersebut pada suaminya, namun kepekaan Dika lebih tinggi ketimbang dirinya.


“Sayang, ada apa? Aku melihatmu sangat aneh sejak di meja makan tadi. Apa Ibu mentalan sesuatu yang buruk padamu?” tanyanya heran.


Karena sebelumnya, Dea mengobrol lama di dapur bersama ibunya.


Dea dengan cepat menggelengkan kepalanya.


“Aku ingin berganti pakaian,” ujarnya berpamitan sembari mengalihkan pembicaraan.


Dika mengangguk, tapi ia menatap heran pada sikap Dea tiba-tiba berubah jadi pendiam.


Dika menunggu istrinya di tempat tidur, sembari membuka layar ponselnya.


Tak lama Dea menyusul, lalu memeluk suaminya tanpa ragu.


“Kapan kita pindah rumah?” tanyanya langsung.


“Bukankah kita sudah membicarakan ini sebelumnya? Kenapa, apa ada masalah?”


“Tidak, aku hanya bertanya saja.”


“Lusa kita akan pindah, tapi sepertinya aku besok pulang malam karena ada pekerjaan dan aku harus mengecek ke lokasinya.”


“Hm ... baiklah. Jangan lama-lama, nanti kau merindukanku,” goda Dea membuat Dika terkekeh mendengar gombalan Dea tersebut.


“Sepertinya sekarang kau sudah pandai menggodaku, baiklah. Mari kita saling menggoda,” ujar Dika membuat Dea semakin malu, karena niatnya menggoda suaminya untuk menghilangkan rasa takutnya.


Entah siapa yang memulai duluan, kini bibir mereka saling ******* satu sama lain. Kini tubuh suaminya sudah berada di atas tubuhnya, dengan tangan Dika yang mulai aktif disana.

__ADS_1


“Sayang, apa aku boleh melakukannya lagi?” tanya Dika dengan suara parau, bahkan tatapannya terlihat sayu.


Dika tampak tak canggung lagi seperti sebelumnya, karena ia sudah merasakan nikmatnya tubuh istri cantiknya tersebut


“Lakukanlah, semua ini milikmu.” Menarik leher sang suami kembali dan menyatukan bibir mereka kembali.


Dika tersenyum bahagia, apalagi mendengar persetujuan istrinya.


Dika memulai dengan melepaskan pakaian istrinya lalu membuangnya kesembarang arah, tanpa melepaskan bibir mereka.


Setelah berhasil melepaskan pakaian mereka berdua, Dika memulai penyatuannya.


Karena Dea sendiri sudah lama tak melakukannya, hingga membuat dirinya meminta lebih dari suaminya.


Setengah jam lamanya mereka bergulat panas di atas tempat tidur, Dika melakukan beberapa kali hentakkan terakhir sebelum mengakhirinya.


Dika tumbang di atas tubuh istrinya, lalu berulang kali mengecup pipi Dea.


“Terima kasih banyak sayang,” bisik Dika pada istrinya tersebut.


Dea mengangguk.


Mereka tidur tanpa menggunakan sehelai benang pun di dalam selimut yang sama dan saling berpelukan.


Di kamar lain, Rival tampak gusar. Entah kenapa dirinya menatap wajah adik iparnya itu begitu cantik dan mempesona.


“Bagaimana bisa Dika mendapatkan wanita secantik itu? Aku jadi penasaran dengan latar belakangnya! Ahk ... sialan, kenapa wajahnya selalu ada di kepalaku!” kesalnya.


Rival berulang kali memejamkan matanya, karena selalu terbayang wajah Dea. Hingga jam 03.00 dini hari Rival baru bisa memejamkan matanya, itupun dengan bantuan obat tidur agar dirinya bisa tertidur pulas.


***


Di rumah sakit besar yang ada di kota tersebut, Diana terbaring lemah di bangsal rumah sakit.


Bagaimana tidak, kini dirinya mengidap penyakit serius dan bahkan sudah memasuki stadium 3.


Kini Diana harus di rawat di rumah sakit agar mendapatkan penanganan khusus dari dokter, Diana bahkan terlihat bingung karena memikirkan bagaimana biaya rumah sakitnya yang pasti membutuhkan biaya yang sangat besar.


“Diana, kamu baik-baik saja? Apa kata Dokter? Maaf aku baru bisa menjengukmu,” ujarnya membawakan banyak makanan untuk Diana.


Diana tersenyum, walaupun wajahnya sangat pucat ia tetap tersenyum.


“Aku baik, kata Dokter aku harus banyak istirahat di sini. Tidak ada penyakit serius,” ujarnya berbohong agar rekan kerjanya tersebut yang sudah dia anggap adiknya tak terlalu cemas padanya.


“Makanlah, agar tubuhmu sehat. Lihat, tubuhmu kurus sekali!” ujarnya memberikan suapan pada Diana.


Diana tersenyum lalu mengangguk.


Bahkan ia meneteskan air mata, teringat akan Dea temannya dulu. Ia begitu merasa bersalah, karena sudah menghancurkan rumah tangganya.


“Apa mungkin ini yang di sebutkan karma?” tanyanya dalam hati.


Dengan kejamnya Diana tidur dengan pria yang berstatus suami Dea dan bahkan merencanakan niat jahat untuk menghancurkan rumah tangga Dea.


“Diana, kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan! Cepat makanlah, setelah itu beristirahat.”


Ceklek ... pintu ruangan terbuka.


“Diana. Bagaimana, apa kata Dokter?” wanita yang baru datang tersebut.


“Aku baik Mami, hanya saja Dokter mengatakan jika aku harus banyak istirahat.” Diana tak mungkin membeberkan tentang penyakit yang di deritanya, apalagi pada wanita yang baru datang tersebut.


Wanita itu adalah yang membantunya untuk mencari pekerjaan menjadi wanita penghibur sekaligus melayani pria hidung belang di luar sana.


“Sampai kapan? Om Darwin selalu menanyakan dirimu, bahkan dia berani membayar mahal hanya untuk satu malam tidur denganmu!” menatap Diana yang masih tampak pucat.


“Mi, Diana masih sakit. Beri dia waktu untuk beristirahat,” sahut Dela salah satu anak buahnya juga.

__ADS_1


Wanita yang di panggil Mami oleh mereka, tampak menghela napas kasar.


“Baiklah, aku akan bicara pada Om Darwin. Cepat sembuh cantik, aku butuh asupan darimu.” Mengusap pipi Diana.


Diana mengangguk, walaupun kemungkinan kecil dirinya bisa sembuh. Akan tetapi masih ada harapan untuk sembuh pikirnya.


“Dela, apa aku pantas di maafkan? Dosaku begitu banyak,” ucapnya lirih.


Dela sedikit terkejut dengan ucapan Diana yang tiba-tiba berkata seperti itu.


“Diana, kamu ini bicara apa? Semua manusia itu pasti mempunyai dosa,” sahutnya.


“Iya, aku tahu itu. Tapi, dosaku sangat banyak, aku tidak tahu apakah aku bisa di maafkan atau tidak.”


Dela hanya diam, karena melihat Diana mulai mengeluarkan keluh kesahnya.


Diana mulai menceritakan apa yang telah ia perbuat pada temanya sendiri, yang sudah menganggapnya seperti kakak.


Dela membulatkan matanya mendengarnya, karena Diana menceritakan secara keseluruhan kisahnya.


“Dela, aku ingin kamu memberikan surat ini padanya setelah aku tiada nanti. Ini fotonya,” ujarnya menyerahkan surat yang terbungkus rapi serta foto Dea.


Karena sebelum Dela datang, ia menuliskan surat tersebut untuk Dea, saat ia tahu tentang penyakitnya.


“Diana, aku tidak mau memberikannya. Kamu sendiri yang memberikannya dan meminta maaf langsung, aku akan menemanimu.”


Diana tersenyum.


“Tapi, kamu simpan saja surat itu untukku. Aku takut jika aku lupa meletakkannya nanti,” sahutnya.


Karena alasan Diana masuk akal, Dela menyetujuinya lalu menyimpannya ke dalam tas miliknya.


“Satu lagi, aku minta tolong padamu. Berhentilah dari pekerjaan sesat ini, sebelum semuanya terlambat. Masih banyak pekerjaan yang halal di luar sana, kamu masih muda.”


Diana mengatakan itu dengan suara yang sangat lemah, Dela tak mencurigainya karena ia berpikir jika Diana sedang dalam pengaruh obat.


“Iya, aku sangat bosan dengan pekerjaan ini. Aku ingin bebas dari Mami, aku ingin cari uang yang halal. Semua ini karena utang Ayahku!” keluh Dela.


Karena memang dirinya sudah ingin berhenti sejak lama, karena dirinya harus melunasi hutang dengan terpaksa ia menjalani pekerjaan tersebut.


Diana tersenyum mendengarnya, karena Dela mempunyai tekad kuat untuk melepaskan pekerjaan haram tersebut.


***


Alex tampak bahagia, karena mendapatkan kabar jika Dea sudah kembali ke kota tersebut.


Wanita yang ia cari selama beberapa tahun ini, karena Dika begitu pandai menyembunyikan identitas istrinya sehingga tak ada satupun yang mengetahui keberadaan Dea.


“Apa kalian tidak salah lihat? Apa benar itu Dea?” tanyanya.


“Tidak Tuan, kami tidak mungkin salah. Hanya saja ada yang berbeda, ia menggandeng anak kecil dan pria tampan. Sepertinya, Dea sudah menikah kembali dan mempunyai anak.”


Prang!


Alex langsung melempar gelas kaca dari tangannya, hingga membuat gelas tersebut hancur menjadi ribuan keping kaca.


“Kalian jangan asal bicara! Tidak mungkin, pasti itu bukan suaminya! Hanya aku satu-satunya pria yang akan menjadi suaminya!” geram Alex setelah mendengar informasi yang di berikan oleh anak buahnya tersebut.


Alex begitu sangat tidak terima saat mendengar Dea sudah menikah kembali.


“Kami akan mencari tahu kembali, Tuan. Tapi, anak kecil itu sangat mirip dengannya! Sepertinya, dia memang putrinya,” ucap anak buahnya lagi, sehingga Alex semakin murka.


“Pergi kalian sekarang dan cari tahu. Jangan kembali sebelum kalian mendapatkan informasinya!” serunya mengambil sebatang rokoknya.


Tanpa menunggu lagi, mereka segera mencari informasi. Namun, mencari tahu tersebut, tak semudah yang di ucapkan oleh Alex tuan mereka. Karena Dika begitu cerdik, sebelum mereka bertindak ia lebih dulu bertindak untuk melindungi istri dan juga putri kecil mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2