Dijual Ayah Tiriku

Dijual Ayah Tiriku
Bab 27


__ADS_3

Di kantor.


Asistennya mengetuk ruangan Vino, terlihat Vino tampak fokus dengan pekerjaannya.


“Tuan, ada wanita yang ingin mengantarkan anda makan siang,” ujar asistennya.


Vino mengernyit heran, wanita siapa yang di maksud oleh asistennya tersebut. Seketika Vino tersadar, pasti istrinya yang mengantar makan siang.


“Kau ini! Dia Istriku, bukankah setiap hari Istriku mengantar makan siang untukku. Kenapa kamu seperti tak mengenali dirinya?!” celetuk Vino pada asistennya.


“Saya sangat tahu Istri anda, Tuan. Tapi, wanita ini memang bukan Istri anda,” balas asistennya.


Vino langsung terdiam menatap lekat wajah asistennya tersebut.


“Siapa? Biarkan dia masuk,” ujarnya karena dirinya juga penasaran dengan wanita yang di sebut oleh asistennya tersebut.


Asistennya mengangguk.


Tak lama wanita tersebut mengetuk pintu yang terbuka setengah itu, Langsung menoleh ke arah pintu. Ia membulatkan matanya melihat wajah Diana yang tersenyum lebar padanya.


“Astaga! Kenapa dia kemari?!” gumamnya dalam hati.


“Selamat siang, Tuan.”


Vino terlihat langsung panik, ia melangkah mendekati Diana lalu menarik tangannya dan langsung mengunci pintu.


“Kamu kenapa kemari? Bagaimana jika Dea mengetahui ini?” tanya Vino menatap Diana dengan serius.


“Tuan tenang saja, Dea sendiri yang memintaku untuk datang kemari dan mengantarkan ini untukmu.” Memperlihatkan bekal tersebut.


“Benarkah? Kalau begitu kamu sekarang boleh pulang,” ujarnya mengambil kotak makan tersebut dari tangan Diana.


Namun, Diana malah meletakkan kotak tersebut di belakangnya.


“Eitss ... yakin kamu memintaku untuk pulang?” ujarnya dengan suara yang mendayu, bahkan menggigit bibirnya dengan tatapan menggoda.


“Jangan gila, ini di kantor. Bagaimana jika ada yang melihat?” ujar Vino mengusap wajahnya dengan kasar, walaupun sebenarnya dirinya juga menginginkannya.


“Tuan disini bosnya. Tidak ada yang berani macam-macam,” ujar Diana mengingatkan.


Diana mendekatkan dirinya, lalu mengecup leher Vino beberapa kali. Membuat Vino seketika tidak bisa menahannya lagi.


“Kamu yang menggodaku. Jadi, jangan salahkan aku jika aku menginginkannya lebih!” mengangkat tubuh Diana agar duduk di meja.


Dengan ganas, Vino Melu*at bibir Diana. Bahkan tangan Vino mulai aktif meremas benda kenyal tersebut, begitupun dengan tangan Diana yang tak segan membuka kancing baju milik Vino.


Mereka kini melepaskan hasrat terlarang tersebut di sofa, tepatnya masih di jam kerja.

__ADS_1


Dengan posisi Diana diatas tubuh Vino, raungan yang semula dingin kini berubah menjadi panas. Mereka berdua menjadi mandi keringat, Vino sengaja membungkam mulut Diana dengan mulutnya selama permainan berlangsung agar Diana tidak mengeluarkan suara. Karena bisa berakibat fatal, apalagi asistennya selalu keluar masuk ruangannya.


Hampir setengah jam, mereka mengakhir permainan panas mereka. Karena Vino tak mungkin melakukannya terlalu lama, apalagi posisi mereka saat ini masih berada di kantor.


Mereka saling mengenakan pakaian mereka masing-masing.


“Pulanglah, sebelum ada melihat kita.” Sembari mengenakan celananya.


“Tapi, aku masih ingin bermain denganmu lagi,” bisik Diana di daun telinga Vino, sesekali ia mengeluarkan lidahnya.


“Diana, jangan seperti ini. Ini sangat berbahaya,” ujarnya berusaha menjauhkan diri dari Diana.


“Nanti malam temui aku di hotel xx, aku menunggumu disana.” Mendengar itu, Diana mengangguk antusias.


Setelah itu, Diana keluar dari ruangan Vino untuk pulang ke rumah sembari membenarkan pakaiannya.


Namun, siapa sangka ternyata asistennya menatap curiga pada wanita itu, karena asistennya tersebut menatapnya dari kejauhan.


Kecurigaannya semakin tinggi, saat melihat Diana berkeringat sembari membenarkan pakaiannya.


“Siapa wanita itu? Apa mereka saling mengenal?” gumamnya menatap curiga, karena setahunya Vino sudah mempunyai istri.


Di dalam ruangan, Vino seperti tidak merasa bersalah sedikit setelah melakukan hubungan terlarang tersebut. Bahkan dirinya sangat menikmatinya, apalagi nanti malam dirinya berencana akan menginap di hotel ternama dan mengajak Diana bersamanya.


“Huh, entah kenapa dia begitu pandai? Hingga aku selalu ingin melakukannya dengannya.” Masih membayangkan permainan barusan yang di lakukannya dengan Diana.


Saat memasukkan makanan tersebut ke dalam mulutnya, yang semula antusias ingin makan masakan istrinya. Kini wajahnya berubah menjadi tak terbaca, bahkan ia mengeluarkan makanan tersebut yang sempat ia masukan.


“Makanan apa ini? Kenapa asin sekali?! Siapa yang memasaknya, bukankah aku meminta Dea untuk memasak untukku!” kesalnya mendorong bekal tersebut dengan sangat kesal, bersamaan dengan asistennya yang baru masuk.


Bahkan asistennya melihat jelas wajah Vino yang tampak sangat tidak suka dengan makanan itu.


“Tuan, apa anda baik-baik saja?” tanyanya.


“Aku baik, pesankan aku makanan. Entah kenapa Dea memasak makanan sampah seperti ini?! Rasa sangat asin dan juga tak enak sama sekali!” kesalnya menatap makanan tersebut dengan kesal.


Asistennya mengangguk.


Ingin dirinya bertanya siapa wanita yang baru keluar tadi, akan tetapi mengurungkan niatnya apalagi melihat Vino yang terlihat kesal.


***


Dea masuk ke dalam sebuah ruangan yang biasa tempat mengecek cctv, bahkan ia mengendap-endap masuk ke dalam tersebut.


Didalam Dea mulai membuka rekaman cctv semalam, tidak ada yang aneh sejak pagi tadi mereka bekerja seperti biasa.


Dea mempercepat rekaman tersebut hingga rekaman di malam hari, terlihat Vino melangkah gontai menuju kamarnya.

__ADS_1


Tak lama Vino terlihat menuruni tangga dengan pakaian yang ia belikan beberapa hari yang lalu sebagai kado ulang tahun suaminya.


Vino tampak mendatangi kamar milik Diana yang tampak terbuka, Dea membulatkan matanya melihat pakaian Diana yang ia kenakan.


Pakaian yang begitu menerawang, hingga bagian dadanya saja terlihat jelas.


Perasaan Dea mulai cemas, apalagi melihat tatapan Diana begitu menggoda pada suaminya.


“Apa yang Diana lakukan? Kenapa dia berpakaian seperti itu? Apa jangan-jangan ... tidak! Diana wanita yang baik,” gumamnya.


Diana menarik tangan Vino agar masuk ke dalam kamarnya, Dea berdecap kesal karena tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan di kamar Diana. Karena di setiap kamar mereka tidak memasang cctv.


Air mata mengalir begitu saja, bahkan dirinya terduduk lemas. Ia masih tidak percaya jika apa yang di pikirkan dirinya saat ini jika memang benar adanya.


Bagaimana mereka setega itu terutama Diana yang dianggap seperti kakaknya sendiri olehnya.


“Aku yakin, jika aku salah paham. Ini tidak mungkin,” gumamnya saat melihat Vino keluar setelah beberapa jam dari kamar Diana sembari mengancing pakaiannya.


“Mas Vino berbohong padaku, dia tidak sakit!” gumamnya dengan suara bergetar.


Karena saat Vino hendak keluar rumah, dirinya datang bersama sang sopirnya.


“Tega kamu Mas, berbohong padaku!” kesalnya dengan suara Isak tangis di dalam ruangan tersebut.


Dea juga masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan dari rekaman cctv itu, karena ia tak melihat langsung apa saja yang mereka lakukan di kamar tersebut.


Tapi, tidak mungkin jika mereka tidak melakukan apapun secara Vino begitu lama di dalam kamar tersebut.


“Aku akan mencari tahu, apa kalian telah berselingkuh di belakangku?” tanyanya mengusap air matanya dengan kasar lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut sebelum ada yang melihatnya.


Saat keluar dari ruangan tersebut, Dea melihat Diana yang saja keluar dari kantor suaminya kerena mengantar bekal makan siang.


Terlihat jelas dari raut wajah Diana, jika ia begitu senang. Entah apa yang membuat Diana begitu senang.


"Diana. bagaimana? apa Suamiku sudah menerima makan siangnya?" tanya Dea basa basi.


Diana mengangguk.


"Sudah, aku sudah memberikannya."


"Hm ... bagaimana? apa Suamiku menyukai makanannya? kerena setahuku, ia sudah terbiasa dengan makanan yang masak," sindir Dea, dengan sengaja berbicara seperti itu.


Netra Dea tertuju pada leher Diana yang ada tanda merah, ia menatap curiga. Namun, ia juga tidak bisa langsung menuduh jika suaminya yang melakukannya. Sebab belum ada bukti yang kuat, walaupun sebenarnya hati kecilnya mengatakan jika memang mereka mempunyai hubungan.


"Iya, Tuan Vino sangat menyukainya." Dengan senyum penuh maksud menatap Dea.


Dea tersenyum kecut menatap temannya tersebut, sehingga Diana terlihat bingung dengan sikap Dea yang tiba-tiba dingin kepadanya.

__ADS_1


***


__ADS_2