Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 21 Briana Terganggu


__ADS_3

Prok prok prok.


Tepuk tangan Reyhan serta sorakan Larissa mengiringi kemenangan William. Lomba renang yang dilakukan William dan Briana akhirnya dimenangkan oleh pria itu.


Kini Briana hanya memasang wajah kesalnya sembari menatap William yang tertawa bersama kedua orang tuanya.


"Bagaimana bisa dia sejago itu?" gumam Briana bertanya pada dirinya sendiri.


Briana mengingat kembali bagaimana lincahnya William saat lomba renang melawan dirinya. Kemampuan pria itu tidak perlu diragukan lagi, William patut disebut sebagai atlit renang, pikir Briana.


Tanpa Briana sadari bila ia baru saja memuji kemampuan William.


Larissa menghampiri Briana dengan membawakan handuk kimono dan memasangkan ditubuh Briana.


"Cepat mandi tubuhmu nanti kedinginan," titah Larissa.


"Mommy kenapa sih suka sekali pada Liam?" tanya Briana dengan wajah masam.


"Jelas saja Mommy menyukai Liam, dia itu tipe menantu idaman Mommy," jawab Larissa membuat Briana semakin kesal.


"Sekarang Mommy tanya padamu. Kamu kenapa tidak menyukai Liam?" tanya Larissa balik.


"Karena dia sopirku, Mom. Dia itu miskin, dia tidak sebanding dengan kita, dia juga menyebalkan," ucap Briana yang tentu saja bisa didengar oleh William dan juga Reyhan.


Bukan pertama kali bagi William mendengar Briana merendahkannya. Kata-kata Briana itu sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.


Bahu William ditepuk oleh Reyhan.


"Jangan kamu masukkan kedalam hati perkataan Briana barusan. Dia hanya belum sadar bila kamu pria yang tepat untuknya," ucap Reyhan.


*


*


Di Jepang, tepatnya dirumah sakit terbaik dinegara itu. Sabrina wanita berusia sama dengan William tengah terbaring koma selama lebih dari lima tahun lamanya.


Sabrina mengalami kecelakaan mobil bersama William saat mereka hendak berlibur keluar kota. Berbeda dengan William yang baik-baik saja, kondisi Sabrina sangat memprihatinkan sehingga wanita itu harus mendapat perawatan terbaik.


Dibalik dirinya yang jago mengemudi rupanya William memiliki kisah kelam dari semua itu. William sempat di penjara atas kasus kelalaian mengemudi dan menyebabkan kecelakaan.


Di saat William di penjara, Sabrina dibawa pergi ke Jepang oleh kedua orang tuanya untuk mendapat perawatan terbaik di sana.


Sejak saat itu juga William tidak pernah bertemu dengan Sabrina, wanita yang ia cinta lebih dari 15 tahun lamanya.


Hal itu lah yang menyebabkan William tidak mau menikah dengan siapapun. William masih menunggu Sabrina kembali dan ia akan menikahi wanita itu sesuai dengan janjinya yang ia ucapkan sebelum kecelakaan.


"Bagaimana kondisi anak saya dokter?" tanya Vania pada dokter yang baru saja memeriksa Sabrina.

__ADS_1


"Kondisi pasien masih sama, tidak ada perubahan sedikitpun," jawab dokter tersebut.


"Apa masih ada kemungkinan untuk Sabrina bisa sadar dari komanya?" tanya Vania lagi.


"Tentu saja bisa, Bu. Hanya saja kemungkinan pasien sadar itu sangat kecil, sekitar 10% saja," jawab dokter itu lagi.


"Apa tidak ada cara lain agar dia bisa segera sadar?" tanya Vania.


"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Sadar atau tidaknya tergantung dengan kondisi pasien sendiri. Saya sarankan sebaiknya anda banyak-banyak berdoa untuk kesembuhannya, dan mempersiapkan kemungkinan buruk yang akan terjadi," ucap dokter tersebut.


Vania menganggukkan kepala dengan perasaan yang tak menentu. Sedikit banyaknya ia menyalahkan William atas kondisi Sabrina yang sekarang ini. Ia sengaja menyembunyikan keberadaan Sabrina dari William agar pria itu tidak bisa menemukan putrinya.


Yang William tahu Sabrina dibawa berobat ke luar negeri oleh kedua orang tua wanita itu. William tidak tahu bila Sabrina hingga saat ini belum sadar dari komanya.


*


*


"Mau kemana?" tanya William saat melihat Briana membawa bantal.


"Tidur dilantai," jawab Briana ketus.


"Yakin mau tidur dilantai?" tanya William dengan nada mengejek.


Briana tidak mengherani pertanyaan William karena ia tahu bila William sedang mengejeknya.


William mengedikkan bahunya kemudian menaiki ranjang dimana biasanya Briana tidur disana. William melihat lagi pada Briana yang ternyata sedang bermain ponsel.


"Aku nyalakan televisi ya?" tanya William meminta izin.


"Heem," sahut Briana tapi masih fokus pada ponselnya.


William menyalakan televisi kemudian mencari siaran kesukaannya disana. William sangat menyukai siaran yang berbau komedi karena disana la bisa menghilangkan rasa penat dikepalanya.


"Hahaha."


Tawa William sangat lepas saat ia melihat adegan lucu dalam siaran televisi tersebut.


Briana mendudukkan tubuhnya menatap tajam pada William yang sedang tertawa. Ia benar-benar terganggu oleh tawa pria menyebalkan itu.


Bugh!


Briana melempar bantalnya ke wajah William, berharap pria itu menghentikan tawanya. William menangkap bantal yang baru saja mengenai wajahnya, tapi ia tidak mengherani Briana disana ia justru tertawa semakin keras.


"Hahaha."


Briana mengambil bantal sofa di dekatnya kemudian melemparkan lagi ke wajah William.

__ADS_1


William masih terus tertawa keras tanpa mengheran Briana yang sudah kesal padanya.


Briana bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada televisi yang sedang ditonton William.


Briana mencabut kabel televisi membuat siaran yang sedang William tonton mati bersamaan gambar televisi yang berubah hitam.


"Yah, kenapa dicabut kabelnya?" tanya William.


Briana berkacak pinggang didepan televisi dan berjalan mendekat pada William.


"Jangan kamu nonton tv lagi," ucap Briana memberi peringatan pada William.


"Kenapa?" tanya William.


"Pakai tanya kenapa lagi. Ya karena kamu menggangguku," jawab Briana.


"Ooh anda tadi terganggu ya, kalau begitu saya minta maaf Nona," ucap William.


Briana tidak mengherani permintaan maaf William, ia mengambil lagi bantalnya kemudian membawa lagi kelantai di mana ia akan tidur disana.


William bingung hendak berbuat apa, hendak tidur ia belum ngantuk, hendak nonton televisi tidak diperbolehkan Briana. Pada akhirnya William turun dari ranjang berniat hendak nonton televisi di ruang keluarga.


William tidak canggung lagi dirumah itu karena Larissa dan Reyhan berulang kali menegaskan bila dirinya ialah menantu dirumah itu.


Tiba di ruang keluarga ternyata ada Reyhan yang sedang menonton siaran pertandingan sepak bola.


"Ehh, Liam kamu belum tidur?" tanya Reyhan pada William yang baru saja tiba disana.


"Belum Dad, aku belum ngantuk," jawab William.


"Kalau begitu temani Daddy nonton bola," pinta Reyhan.


"Iya Dad," ucap William kemudian duduk disebelah Reyhan.


Kacang kulit serta minuman soda menemani kedua pria beda usia itu menonton televisi. Sorakan dari keduanya saat bola masuk kekandang lawan terdengar hingga lantai dua.


Briana yang masih bermain ponsel bisa mendengar sorakan itu membuatnya menggelengkan kepala.


Briana juga belum mengantuk karena biasanya ia masih berada di kantor dan bergelut dengan pekerjaannya.


"Kenapa sih Mommy dan Daddy akrab sekali padanya?" gerutu Briana tidak terima.


Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya lalu membuka pintu balkon kamar. Tiupan angin malam seketika menerpa tubuh Briana yang hanya mengenakan piama tidur. Briana mengurungkan niatnya untuk duduk di balkon.


Sayup-sayup ia masih mendengar sorakan dari William dan juga Reyhan membuatnya penasaran ingin melihatnya.


Di saat ia hendak membuka pintu kamar, Briana melihat sepatu William berada disamping pintu.

__ADS_1


"Sepatu sudah jelek masih saja dipakai." Briana memasukkan sepatu William ketempat sampah.


__ADS_2