Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 50 Hamil


__ADS_3

Doktor Thomas tersenyum lebar melihat betapa khawatirnya William saat melihat Briana sakit dan tak sabar mendengar kondisi setelah diperiksa olehnya.


Bisa dilihat oleh dokter Thomas, bila William begitu mencintai Briana dan itu memang adanya.


"Anda tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Nyonya Briana, karena kondisi mual dan muntah itu hal yang wajah untuk ibu hamil. Selamat Tuan William istri anda sedang hamil," ucap dokter Thomas.


"Hamil!" pekik Briana dan William bersamaan.


Keduanya sama-sama terkejut kemudian tersenyum bahagia mendengar kabar itu.


William menatap istrinya yang tengah berbaring lalu mengusap puncak kepala wanita itu dan mengecup keningnya. Tidak banyak bicara namun gerak-geriknya menunjukkan bila ia bahagia mendengar kabar itu.


"Ini saya berikan resep obat pereda mual, dan vitamin untuk ibu hamil. Silahkan anda tebus diapotek." Dokter Thomas memberikan kertas bertuliskan resep obat.


William menerima resep obat tersebut kemudian memerintahkan pelayan untuk menebusnya diapotek sekaligus mengantarkan dokter Thomas yang akan pulang hingga keteras rumah.


William terus menatap lekat Briana dengan tatapan bahagia. Ia benar-benar bahagia.


"Terima kasih kamu sudah hamil anakku," ucapnya.


Briana membalas tatapan suaminya tak kalah lekat, tatapan itu seolah terkunci sehingga Briana tidak bisa memalingkannya. Bibirnya tersenyum kemudian mengangguk.


"Apa kamu bahagia mendengar kabar ini?" tanya Briana.


"Iya aku bahagia. Sangat bahagia," jawab William.


"Aku juga bahagia. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, kamu akan menjadi Daddy dan aku akan menjadi Mommy," ucap Briana.


William mengangguk. "Aku tak sabar menantikan kelahirannya," ucap William.


"Aku juga tak sabar menantikan anak pertama kita lahir," ucap Briana.


Mendengar kata 'anak pertama' tiba-tiba ingatan William berputar pada saat dirinya berada di Jepang. Ini bukan anak pertama untuknya, ini anak kedua karena anak pertama William telah keguguran.


Anak yang dikandung Sabrina cinta pertamanya yang belum bisa ia lupakan.


Mengingat itu tiba-tiba raut wajah William berubah sendu, ia merasa bersalah pada Sabrina karena telah menjadi pria yang tidak bertanggung jawab. Perubahan raut wajah itu bisa disadari oleh Briana yang sedang menatapnya.


Briana mendudukkan tubuhnya kemudian menangkup kedua sisi wajah suaminya.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu jadi terlihat sedih?" tanya Briana.


William tak langsung menjawab. Ia terus memperhatikan wajah cantik istrinya. Dalam benaknya bertanya, apa ini saatnya ia jujur pada Briana.


Tapi ia belum siap, ia takut Briana akan menjauhinya. William tak mau itu terjadi terlebih lagi saat ini sudah ada calon anak mereka yang sebentar lagi akan lahir.


Pada akhirnya William menunda untuk menceritakan masa lalunya pada istrinya.


"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kita makan terus siap-siap pergi kerumah Mamah Irene," ucap William.


Briana mengangguk setuju, ia juga sudah tidak sabar ingin pergi kerumah mertuanya terlebih lagi ada kabar bahagia yang ingin ia kabarkan pada mereka.


Dengan dibantu William, Briana turun dari ranjang kemudian menghampiri meja makan.


William menarikkan kursi untuk Briana duduk, melayani wanita itu mengambilkan makanan dan juga menyuapinya. Mengelap mulut yang kotor terkena makanan dan juga membantu wanita itu saat hendak minum.


William benar-benar memperlakukan Briana seperti ratu. Ia tak mau lagi kehilangan anaknya terlebih lagi anak itu akan terlahir dari Briana.


Sementara cintanya pada Sabrina, William kini meragukannya, seolah cintanya sudah berpindah pada wanita lain, yang ia rasakan kini hanya rasa bersalah, dan bertanggung jawab atas kondisi Sabrina saat ini.


Bajingan. Ya bisa dibilang William pria seperti itu bila orang menganggapnya demikian, tapi sesungguhnya ia adalah pria yang setia hanya saja ia masih bingung pada siapa sebenarnya hatinya berlabuh.


Selesai makan bertepatan dengan pelayan yang ia minta menebus obat diapotek datang. William membantu Briana meminum vitamin.


"Ahh, kenyangnya." Briana mengusap perutnya yang terasa kenyang karena baru saja makan dan menghabiskan dua porsi makanan.


Entah kenapa juga ia tidak merasa mual, apa mungkin karena ia makan disuapi suaminya sehingga makan dengan lahap.


William mengulum senyum, bangga pada istrinya karena mau makan banyak yang tentunya bagus untuk perkembangan janin didalam perutnya.


"Akhir-akhir ini kamu terlihat lebih banyak makan," ucap pria itu.


"Iya, aku juga menyadarinya tapi aku tidak kepikiran bila aku sedang hamil. Tapi syukurlah tiga bulan kita menikah sekarang kita sudah diberi momongan," ucap Briana tersenyum.


William mengangguk dan mengusap puncak kepala Briana kemudian mengajak wanita itu pergi kekamar untuk bersiap akan menginap dirumah Irene.


Selesai bersiap sepasang suami istri itu langsung pergi ke rumah Irene dan Julian yang jaraknya memakan waktu kurang lebih 1 jam diperjalannan.


Tiba disana, William turun lebih dulu kemudian membantu Briana untuk turun padahal wanita itu bisa melakukannya sendiri.

__ADS_1


"Aku ini sedang hamil Liam, bukan sedang lumpuh. Aku bisa turun sendiri."


Setelah mengatakan itu Briana bergegas turun dari mobil dan belum sempat William membantunya turun.


"Kalau begitu kita masuk ke rumah sekarang ya," ajak William yang diangguki Briana.


William menggenggam tangan Briana kemudian membawanya masuk kedalam rumah kedua orang tuanya dengan saling menggenggam.


Kedatangan mereka tentu saja mengejutkan kedua orang tua William yang tidak diberi kabar terlebih dahulu bila mereka akan datang.


"Ya ampun menantu Mamah makin cantik saja." Irene memeluk sayang dan mencium pipi kiri kanan menantunya.


"Ahh, Mamah bisa aja." Briana tersenyum malu-malu.


"Iya Sayang kamu benar-benar terlihat cantik. Atau jangan-jangan kamu sedang hamil ya?" tebak Irene.


Briana dan William saling pandang mengisyaratkan bila mereka tak menyangka bila tebakan Irene tepat sasaran.


"Bagaimana Mamah tahu?" tanya William.


Irene tak langsung menjawab, wanita setengah baya itu justru senyum-senyum sendiri karena tebakannya benar.


"Tuh kan benar tebakan Mamah. Briana hamil kan?" tanya Irene lagi.


"Iya Mah, Briana memang hamil. Tapi bagaimana Mamah bisa tahu kalau istriku sedang hamil. Kami saja belum memberitahu kalian," ucap William.


"Kamu seperti tidak tahu Mamahmu saja. Mamahmu kan sangat peka kalau pada apa saja yang menyangkut dirimu," ucap Julian.


Ahh, iya. William baru menyadarinya.


"Mamah sudah menebaknya sewaktu resepsi kalian. Mamah melihat Briana semakin hari semakin cantik, selain itu Mamah juga melihat dia banyak sekali makan. Dan ternyata tebakan Mamah itu benar. Briana hamil," ucap Irene kegirangan. Wanita setengah baya itu bahkan melompat saking senangnya dengan kabar


"Yaahh, jadi tidak surprise lagi deh," keluh Briana.


Irene tersenyum pada Briana kemudian membawa menantunya duduk di sofa. Wanita setengah baya itu membelai rambut Briana.


"Tidak apa-apa tidak surprise juga. Yang pentingkan kamu sekarang benar-benar hamil. Oya Mommy Larissa sudah kamu beritahu belum?"


"Belum Mah, rencananya aku ingin memberitahu Mommy dan Daddy saat makan malam," ucap Briana kemudian menatap suaminya meminta agar Willam mengundang kedua orang tua Briana untuk makan malam.

__ADS_1


Namun ... Briana justru melihat William pergi menjauh setlah menerima telepon.


Briana bertanya-tanya siapa yang menghubungi William hingga menjawabnya saja harus menjauh darinya.


__ADS_2