Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 34 Barang-barang Mewah


__ADS_3

William mengerutkan keningnya setelah membuka pesan dari Brian yang mengirimkan video Briana tengah berjalan tergesa kearah mobil.


"Apa maksud Brian mengirim video ini?"


Pria itu kemudian mengetik balasan pesan untuk Brian.


William : Maksudnya?


Brian : Menurutmu?


William : Aku tidak mengerti.


Brian : Briana baru saja tiba di Jakarta.


William : Memangnya dia dari mana?


"Brian!" panggil Briana dengan meninggikan suaranya.


"Iya sebentar." Brian masih mengetik balasan untuk William.


"Brian!" panggil Briana lagi tapi kali ini lebih kencang.


"Aisshh." Dengan terpaksa Brian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana kemudian berlari ke arah Briana yang sudah masuk kedalam mobilnya.


Brian mengurungkan niatnya untuk membalas pesan dari William.


"Bisa sabar sedikit tidak sih."


"Tidak bisa! Aku mau pulang sekarang."


"Hey! Aku ini bukan sopirmu," tegur Brian.


"Aku tidak perduli. Cepat antarkan aku pulang!" titah Briana.


"Untung kamu adikku, kalau kamu orang lain sudah ku tendang kau kejalanan," gerutu Brian sembari membuka pintu mobil disebelah kemudi.


"Kamu ngomong apa barusan?" tanya Briana yang sedikit mendengar gerutuan Brian.


Brian menoleh pada Briana yang duduk di belakang seorang diri.


"Kamu adikku yang baik." Brian menyengir.


"Cepat jalankan mobilnya," titah Briana.


"Baik Nona Briana," ucap Brian pada akhirnya menuruti Briana.


Brian melirik sekilas pada Linda yang duduk disebelahnya, kemudian melajukan mobil tersebut.


Jarak rumah Linda dari bandara lebih dekat dibandingkan ke rumah Reyhan sehingga kini Brian tengah melajukan mobilnya menuju rumah wanita itu.


Tiba didepan rumah Linda, Brian ikut turun dari mobil untuk membantu menurunkan koper milik Linda dari dalam bagasi.


Linda mengambil alih koper miliknya.


"Terima kasih."

__ADS_1


Tanpa menantikan jawaban dari Brian, Linda segera berlalu untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Tunggu sebentar Lin." Brian mencekal pergelangan tangan Linda.


"Bisa lepaskan tangan saya." Linda melihat tangan yang dicekal Brian.


"Ya, tentu." Brian buru-buru melepaskan tangannya yang mencekal lengan Linda.


"Ada apa?" tanya Linda tanpa menatap pada Brian di hadapannya.


"Ini." Brian menyerahkan undangan peresmian perusahaan miliknya pada Linda.


Linda melihat terlebih dahulu undangan yang Brian berikan padanya kemudian menatap pria itu.


"Saya tidak janji bisa hadir, tapi saya akan mengusahakannya," ucap Linda.


"Ya, tidak apa-apa tapi terimalah undangan ini," ucap Brian berharap Linda menghadirinya.


Linda menganggukkan kepala kemudian menerima undangan tersebut, baru setelahnya ia melanjutkan lagi langkah kaki yang sempat berhenti untuk segera masuk kedalam rumah.


Bisa Brian lihat bila kedatangan Linda sudah disambut oleh sosok anak laki-laki berusia 4 tahun yang sedang digendong wanita paruh baya didepan teras.


"Mamah."


"Iya Sayang."


"Mamah dari mana, kenapa baru pulang?"


"Mamah ada pekerjaan di luar kota, kamu baik-baik saja kan dirumah dengan Nenek?"


"Aku baik-baik saja, tapi aku kangen sama Mamah."


Brian yang melihat interaksi ibu dan anak itu menghembuskan nafas yang terasa sesak di dalam dada kemudian segera kembali kedalam mobil


Brian melanjutkan mengemudikan mobilnya untuk menuju rumah kedua orang tuanya.


Sejak menurunkan Linda di depan rumah wanita itu, Brian diam saja tidak bicara satu kata pun padahal pria itu ialah tipe orang yang banyak bicara.


Hal itu tentu saja bisa dimengerti oleh Briana yang memang tahu bagaimana kisah cinta Brian dan Linda yang sudah berakhir beberapa bulan yang lalu.


"Kenapa kalian tidak balikan saja?" tanya Briana memecah keheningan di dalam mobil.


Brian melirik sekilas pada kaca spion di atas kepalanya kemudian kembali fokus menatap jalanan yang sedang Ia lalui. Brian memilih tidak menjawab pertanyaan Briana.


Bugh!


Ckitt!


Briana memukul kepala Brian membuat pria itu spontan penginjak pedal rem.


"Kenapa kamu memukulku? Hampir saja kita kecelakaan." Brian menoleh kebelakang.


"Siapa suruh kamu tidak menjawab pertanyaanku."


"Astaga kau ini, pantas saja Liam tidak kunjung kembali karena dia pasti lelah menghadapimu," sindir Brian.

__ADS_1


"Kau!" Briana menunjuk tepat diwajah Brian.


"Sudahlah aku lagi tidak mood berdebat denganmu." Brian kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan kemudian kembali mengemudikan mobil tersebut.


Briana tidak lagi mengajak Brian berbicara karena rasa kecewa tidak menemukan William membuat emosinya meningkat dan ia lampiaskan begitu saja pada saudara kembarnya yang juga tengah bad mood.


Selang beberapa menit kemudian Brian membelokan mobilnya melewati pintu gerbang yang sudah terbuka. Brian dan Briana akhirnya tiba dirumah kedua orang tua mereka.


Kedatangan Briana tentu saja dinantikan oleh Larissa dan Reyhan yang menunggu kepulangannya dari menyusul William.


"Loh Bri, Liam-nya mana?" tanya Larissa setelah mengedarkan pandangannya mencari William tapi tidak ia temukan.


Briana menunduk, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Sayang, biarkan Briana duduk dulu," ucap Reyhan pada Larissa.


Larissa menghampiri Briana kemudian menuntun wanita itu untuk duduk disofa.


"Aku tidak menemukan Liam Mom, Dad. Alamat rumah yang Daddy kasih padaku itu ternyata alamat palsu," ucap Briana membuat Larissa menatap tajam pada Reyhan dihadapannya.


Reyhan menggaruk tengkuknya karena ia juga tidak tahu bila akan terjadi seperti itu.


"Mas, kamu ini." Larissa mencubit pinggang Reyhan.


"Aww! Sakit Sayang." Reyhan mengusap pinggangnya yang dicubit Larissa.


"Siapa suruh kamu memberikan alamat palsu pada Briana," kesal Larissa.


"Mana aku tahu bila alamat yang aku berikan pada Briana itu alamat palsu." Reyhan membela diri.


"Harusnya kamu periksa dulu alamat itu sebelum memberikannya pada putrimu," omel Larissa.


"Iya maaf, sayang, aku salah. Aku pikir Liam memberikan alamat padaku itu alamat yang benar jadi aku berikan saja alamat itu pada Briana supaya dia menyusul Liam pulang kampung," jelas Reyhan.


"Ahh, sudahlah. Percuma juga aku menyalahkanmu," ucap Larissa.


Briana yang sedang tidak mood, malas mendengar perdebatan kedua orang tuanya. Wanita itu memilih pergi dari sana untuk segera masuk kedalam kamar.


Tiba di kamar, Briana dikejutkan karena melihat diatas ranjangnya ada kotak berukuran cukup besar.


Briana segera menghampiri kotak tersebut untuk melihat isi di dalamnya. Rupanya kotak itu berisi gaun berwarna biru malam lengkap dengan high heels berwarna hitam serta tas mewah.


Briana terlebih dahulu mengeluarkan gaun dari dalam kotak tersebut kemudian mengangkatnya.


"Wah, cantik sekali gaunnya."


Hanya sekali melihat saja Briana sudah menyukai gaun itu. Gaun berwarna biru malam itu berbahan sutra dengan panjang menjuntai hingga mata kaki. Bagian atasnya berlengan panjang namun bagian dada sedikit terbuka tapi tidak memperlihatkan belahan dada.


Bagian area dada dihiasi mutiara asli dengan ukuran sama yakni bulat sempurna membuat gaun itu semakin cantik dan mewah.


Briana lanjut mengeluarkan sepasang high heels dari dalam kotak itu. High heels tersebut berukuran tinggi 8 cm dan bernomor 39. High heels itu berwarna hitam legam dan di bagian atasnya dilengkapi oleh berlian halus.


Briana tak percaya bila ada barang semewah itu yang harganya saja mencapai miliyaran rupiah hanya untuk membeli sepasang high heels tersebut.


Briana kemudian mengeluarkan isi kotak yang terakhir ialah tas yang masih dibalut oleh kertas halus bertulisan merk tas tersebut.

__ADS_1


Lagi-lagi Briana tercengang melihat barang mewah yang keluar dari dalam kotak tersebut. Tas itu berbahan kulit buaya berwarna putih dengan ukuran sedang yang sangat pas untuk dijinjing.


Bibir Briana tersenyum lebar melihat barang-barang mewah di hadapannya, tapi senyumnya perlahan pudar saat mengingat bila ia tidak tahu barang itu milik siapa.


__ADS_2