
Briana terus menatap pintu kamar yang tertutup dengan isi hati dan kepala berusaha mempercayai perkataan suaminya.
Briana berharap William tidak membohonginya dan mengatakan apa yang sesungguhnya.
Tidak lama kemudian pintu yang masih Briana tatap itu terbuka lagi oleh William yang datang dengan membawa segelas air hangat.
Sembari tersenyum William melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelah Briana.
"Diminum dulu air hangatnya."
Briana menerima air hangat yang disodorkan William padanya kemudian meneguknya.
"Gimana sudah merasa lebih baik?" tanya William.
Briana menggeleng.
"Perutku masih saja mual," ucapnya.
William melepas sepatu yang ia kenakan kemudian naik ke atas ranjang dan bersandar disandaran ranjang.
"Kemari." William menepuk pahanya yang ia buka.
Briana menurut, wanita itu menggeser duduknya dan mendekat pada William kemudian menyandarkan punggungnya pada dada bidang pria itu. Sementara William langsung merangkul pinggang Briana dari belakang dan mengusap perut wanitanya.
"Mual kenapa perutnya?" tanya William terus mengusap perut Briana.
"Tidak tahu," jawab Briana apa adanya.
"Apa perlu kita ke dokter supaya kamu diperiksa?" tanya William.
"Tidak usah, ini mungkin karena aku tadi malam makan banyak jadi paginya mual dan muntah," ucap Briana.
"Kata Bibi sejak kemarin kamu tidak keluar kamar. Kenapa? Hemm?" tanya William mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Briana dan mengeratkan rangkulannya.
"Aku malas saja keluar kamar, lagi pula tidak ada yang bisa aku kerjakan di luar kamar. Mau berangkat kerja, aku masih cuti. Mau jalan-jalan, kamu saja tidak ada di sini," ucap Briana.
"Ahh, iya. Seharusnya ini waktu untuk kita bulan madu ya," ucap William merasa bersalah.
"Iya, harusnya kemarin kita pergi ke Paris. Kamu malah pergi ke Jepang dan ninggalin aku sendirian di hotel," ucap Briana dengan kesal.
"Maaf," ucap William kemudian mengecup tangan Briana.
__ADS_1
"Sebagai gantinya bagaimana kalau kita hari ini jalan-jalan ke mall?" tawar William.
"Tidak mau, aku sudah sering ke mall. Aku ingin pergi ke suatu tempat yang belum pernah aku datangi," ucap Briana.
"Katakan saja ke mana itu, aku akan berusaha mengajakmu kesana," ucap William.
"Aku ingin datang ke rumah orang tuamu," ucap Briana membuat William mengangkat sebelah alisnya.
William kira Briana menginginkan pergi ke suatu tempat yang ada di luar negeri. Tapi ternyata ia salah, Briana hanya ingin pergi ke rumah kedua orang tua William yang tak lain ialah mertua wanita itu.
"Aku juga ingin kita menginap di sana selama satu minggu," ucap Briana.
"Tapi Sayang, lusa aku sudah harus kembali ke Jepang, ada pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan di sana. Kita menginap dirumah Mamah Irene dua malam saja bagaiman? Malam ini sama malam besok," bujuk William pada Briana.
"Tidak mau, aku maunya satu minggu dirumah Mamah Irene dan itu juga harus sama kamu," ucap Briana kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.
William bingung di satu sisi ia sudah berjanji pada kedua orang tua Sabrina bila lusa ia sudah kembali ke Jepang. Tapi di sisi lain istrinya meminta mereka menginap di rumah mamahnya.
William mempertimbangkan keduanya mana yang harus ia utamakan terlebih dahulu. Pada akhirnya pria itu mengangguk setuju dengan permintaan Briana.
Ia tak ingin seperti sebelumnya yang pergi di saat malam pertama mereka dan meninggalkan istrinya sendiri. Saat itu ia terlalu panik dan syok melihat vidio Sabrina yang tengah kejang sehingga tanpa pikir panjang ia segera pergi ke alamat yang ia terima.
Briana tersenyum lebar, kemudian membalikan tubuh dan menghadap suaminya. Masih berada di pangkuan pria itu, Briana terlebih dahulu mengecup bibir William dan ********** semakin dalam.
William membalas ciuman Briana dan ********** tak kalah dalam. Menyesap dan sedikit menggigit kemudian memainkan lidah masuk semakin dalam mencari lidah Briana dan menyatukannya.
Tangan William membuka satu persatu kancing baju yang briana kenakan kemudian melepas pengait bra di bagian punggung wanitanya dan mengeluarkan dua gundukan dibagian dada.
Memainkan dua gundukan itu, sesekali menciumnya dan meninggalkan jejak dibagian dada dan juga area leher.
Setelahnya sepasang suami istri itu kembali memadu kasih untuk kesekian kalinya.
*
*
Pukul 10.00 pagi Briana dan William keluar dari kamar. Mereka langsung menghampiri meja makan untuk sarapan yang tadi sempat tertunda.
Baru saja mendekati area dapur, Briana langsung membekap mulutnya dan berlari kearah washtafel terdekat.
Hoek hoek.
__ADS_1
Lagi-lagi wanita itu muntah. Entah sudah berapa kali Briana memuntahkan isi perutnya padahal ia belum makan sama sekali.
William bergegas menghampiri Briana dan memijit tengkuk wanita yang sedang muntah itu.
"Kita ke dokter ya," bujuk William.
Lagi-lagi Briana menolak, ia tidak mau pergi ke dokter dan berakhir disuntik. Hiih, mengerikan. Membayangkan saja ia sudah begidik ngeri. Briana tidak mau disuntik.
"Aku tidak apa-apa, aku tidak perlu kedokter." Briana meyakinkan William bila dirinya baik-baik saja.
"Benarkah? Tapi aku melihatmu justru tidak sedang baik-baik saja." William menempelkan punggung tangannya ke dahi Briana yang berkeringat.
Tidak panas.
"Tuh kan aku tidak apa-apa. Keningku juga tidak panas," ucap Briana ikut menempelkan punggung tangannya di keningnya sendiri.
William mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu kamu makan saja yang banyak," ucap William kemudian membawa Briana duduk di salah satu kursi di meja makan.
Melihat banyak makanan yang dihidangkan dimeja makan membuat Briana terasa mual lagi tapi ia masih bisa menahannya hingga William mengambilkan makanan kepiringnya, rasa mual itu tak tertahan lagi.
Tanpa bertanya pada Briana, William yang mengkhawatirkan kondisi istrinya segera menghubungi dokter keluarga mereka.
Tidak butuh waktu lama dokter yang dihubungi William akhirnya datang. Sudah puluhan tahun mengabdi pada keluarga Horrison, dokter Thomas tentu saja bertindak sigap dan langsung datang saat ada salah satu anggota keluarga Horrison menghubinginya.
"Kamu panggil dokter?" Briana menatap tajam pada suaminya saat melihat dokter Thomas diantar pelayan masuk ke rumah itu.
Berulang kali sudah Briana katakan, bila ia tidak mau diperiksakan pada dokter tapi William tetap saja mendatangi dokter.
"Ini untuk kebaikanmu, aku tidak ingin kamu kenapa-napa," ucap William.
"Iya aku ngerti kamu mengkhawatirkan aku. Tapi aku takut disuntik, Liam," ucapan Briana memang pelan tapi di dalamnya terdapat penekanan.
William justru terkekeh dan geleng-geleng. Rupanya hanya itu alasan Briana tidak mau diajak ke dokter. Huufftt, istrinya itu benar-benar lucu.
"Tidak akan disuntik kok kamu hanya diperiksa saja," ucap William kemudian merangkul pundak Briana dan langsung menghampiri dokter Thomas.
Dokter tua itu kemudian memeriksa Briana disalah satu kamar tamu yang ada dilantai satu.
"Bagaimana kedaan istri saya, Dok?" tanya William.
__ADS_1