
"Briana," gumam William.
Rupanya Briana lah yang membuka pintu karena ingin memberitahu bila kedua orang tuanya akan pulang.
"Maaf, Mah, Pah, aku ganggu kalian. Aku hanya ingin mengatakan bila kedua orang tuaku akan pulang," ucap Briana.
"Baiklah kalau begitu Mamah dan Papah akan keluar," ucap Irene yang diangguki oleh Julian kemudian pergi dari ruangan tersebut.
Kini hanya tersisa William dan Briana yang ada di ruangan itu. William buru-buru menghampiri Briana untuk memastikan apakah istrinya mendengar pembicaraannya atau tidak.
Baru saja ia hendak merangkul Briana tapi wanita itu justru melengos pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Sayang," panggil William pada Briana yang berjalan keluar.
William bergegas menyusul Briana yang ternyata berjalan ke arah kamarnya.
Tiba dikamar William langsung mengunci pintu kamar agar tidak ada yang mengganggu saat ia berbicara dengan Briana. William yakin Briana pasti mendengarkan pembicaraanya bersama dengan kedua orang tuanya saat diruang kerja tadi.
"Apa kamu mendengar pembicaraanku dengan Mamah dan Papah?" tanya William melangkah mendekat pada Briana.
"Aku tidak akan bertanya apa-apa, aku hanya ingin kamu berkata jujur padaku." Briana menatap lekat pada suaminya.
William terus mendekat pada Briana dan segera menggenggam kedua tangan istrinya itu.
"Maaf." Hanya satu kata itulah yang mampu ia ucapkan pertama kali pada istrinya.
"Maaf aku tidak berkata jujur sejak awal padamu. Aku justru menyembunyikannya darimu, tapi ketahuilah semua itu aku lakukan karena aku tidak ingin kamu menjauh dariku."
"Masa lalu yang selama ini sulit aku lupakan tiba-tiba hadir kembali dan ternyata dugaan aku salah karena ia bukan pergi meninggalkanku tapi dia koma sejak kecelakaan bersamaku 5 tahun yang lalu."
Briana tidak menanggapi apa-apa, dia hanya diam sembari menatap suaminya yang ada dihadapannya.
"Dia koma dan kemungkinan untuk hidup sangat kecil. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja karena aku merasa bertanggung jawab atas koma yang ia alami. Dan lagi dia ...." William tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, tapi ia harus segera memberitahu pada Briana agar wanita itu tidak salah paham padanya.
__ADS_1
"Dia pernah hamil anakku dan keguguran saat kecelakaan itu," ucapnya.
Seketika dada Briana terasa sesak mendengar kejujuran William padanya. Berkata jujur justru menyakitkan untuknya namun tidak jujur juga akan sakit terus dibohongi suaminya.
Setelah cukup lama terdiam, Briana akhirnya bersuara. "Apa kamu masih mencintainya?" tanyanya kemudian.
Kini giliran William yang terdiam karena ia juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Hal itu justru diartikan Briana sebagai tanda bila William masih mencintai masa lalunya.
"Kalau kamu masih mencintainya kembalilah padanya aku tidak apa-apa," ucap Briana tegar namun hatinya terasa diremat kuat.
William buru-buru menggeleng. "Tidak Sayang. Aku tidak lagi mencintainya, aku hanya mencintai kamu," ucapnya cepat.
Briana tersenyum miring, ia tak percaya bila suaminya sudah tidak mencintai masa lalunya karena terlihat jelas dimata William bila pria itu tengah gusar.
"Tanyakan pada hatimu siapa yang kamu cintai, janganlah kamu egois dengan ingin memiliki keduanya."
Setelah mengatakan itu Briana masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu. Di sana Briana bukan mandi atau buang air, melainkan menangis.
Briana memukul dadanya yang teramat sangat sakit mengetahui suaminya masih terikat pada masa lalunya.
Sementara William hanya menatap nanar pada pintu kamar mandi yang tertutup.
Benar apa kata Briana, ia harus bertanya pada hatinya siapa sebenarnya wanita yang ia cintai.
Tok tok tok.
"Sayang buka pintunya," pinta William namun Briana tidak mengheraninya.
"Sayang kamu sedang apa didalam? Ayo buka pintunya, aku salah. Maafkan Aku," ucapnya.
William terus mengetuk pintu kamar mandi dan membujuk istrinya agar keluar dari dalam sana namun hingga 20 menit berlalu, Briana tak kunjung keluar.
William mendobrak pintu kamar mandi agar bisa terbuka karena ia mengkhawatirkan Briana takut terjadi sesuatu pada istrinya didalam kamar mandi.
__ADS_1
Setelah percobaan yang ketiga kali, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Seketika perasaan William terasa lega karena Briana baik-baik saja dan tengah membasuh wajah.
William menghampiri Briana dan memeluk dari belakang. "Maafkan aku," lirih William.
"Untuk apa kamu terus mengatakan maaf bila kamu saja tidak tahu apa yang hatimu inginkan," sindir Briana.
"Itu tidak benar, Sayang. Hatiku menginginkan kamu, hanya kamu," ucap William meyakinkan Briana.
"Aku lelah, ingin beristirahat." Briana melepas tangan William yang merangkulnya kemudian keluar dari dalam kamar mandi dan segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
William tak lagi memaksa Briana untuk percaya pada ucapannya, mungkin Briana butuh waktu pikirnya.
Pria itu kemudian menyusul Briana yang sudah berbaring di atas tempat tidur namun membelakanginya.
Baru saja matanya hendak terpejam, ponselnya berdering dan yang menghubungi itu ialah Vania. Ingin William mengabaikan panggilan telepon itu tapi ia tak kuasa karena ia juga ingin tahu bagaimana perkembangan kondisi Sabrina saat ini.
William kembali turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah balkon kamar untuk menjawab telepon di sana.
"Iya Tante," ucap William.
"Apa kamu masih belum bisa datang ke sini?" tanya Vania.
"Belum bisa Tante, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja. Tapi bila urusan biaya rumah sakit saya akan menanggungnya," ucap William.
"Kamu pikir kami orang miskin yang tidak bisa membayar rumah sakit anak sendiri. Tante menghubungi kamu itu karena meminta kamu datang ke rumah sakit, bukan minta kamu membayar biaya rumah sakitnya," ucap Vania.
"Maaf, Tante, bukan maksudku seperti itu. Aku hanya ingin membantu Tante untuk membiayai rumah sakit Sabrina," ucap William.
"Kalau kamu ingin membantu Tante segeralah kamu datang ke rumah sakit karena Sabrina membutuhkanmu," ucap Vania.
"Sekali lagi maaf Tante, aku tidak bisa pergi kesana. Terus terang saja aku di sini sudah menikah, aku tidak bisa sering-sering membesuk Sabrina karena aku juga harus menjaga perasaan istriku," ucap William jujur.
"Apa! Sudah menikah? Kurang ajar kamu Willy! Di sini Sabrina menderita koma lebih dari 5 tahun dan kamu justru disana sudah menikah dan bahagia dengan istrimu. Pantas saja selama ini Sabrina tidak sadar-sadar karena dia memang tidak ingin sadar karena saat sadar dia pasti akan terluka mengetahui pria yang ia cintai menikah dan bahagia dengan wanita lain." Ucapan Vania itu terasa menusuk hati William. Tapi ia tidak punya pilihan lain selain berkata jujur pada Vania bila ia sudah memiliki keluarga dan tidak bisa memprioritaskan Sabrina karena ada Briana yang harus ia prioritaskan.
__ADS_1