
Setelah mengambil buku nikah di Pengadilan Agama, William dan Briana pergi kepusat perbelanjaan terbesar dikota itu.
William mengajak Briana mendatangi toko perhiasan khusus berlian. Ditoko itu terdapat berbagai macam jenis perhiasan dari bahan dasar berlian dengan berbagai model dan ukuran.
Briana senang sekali William mengajaknya ketoko itu dan menyuruhnya untuk memilih apa yang ia inginkan.
"Benar nih aku boleh pilih apa yang aku inginkan?" tanya Briana memastikan.
"Heemm." William menganggukan kepala.
Bak seperti orang yang kesurupan Briana langsung menunjuk banyak cincin kawin yang terpajang di etalase. Semua model cincin di sana begitu cantik dan indah membuat Briana kebingungan untuk memilihnya.
"Mbak ambilkan cincin yang ini, ini, ini dan ini." Briana menunjukkan pada cincin berlian yang ia sukai modelnya untuk ia cobain.
William tersenyum kecil melihat antusias Briana memilih cincin pernikahan untuk mereka. Hal itu mengingatkan dirinya pada Sabrina saat mengajak wanita itu memilih cincin pertunangan.
Ahh, lupakan. William menggelengkan kepala menepis kenangan yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Sekarang Briana istrinya jangan lagi mengingat seseorang di masa lalu.
Pria itu menarik nafas kemudian menghembuskannya. Setelah merasa lebih baik William mendekati Briana yang sedang mencobai beberapa cincin ke jari manisnya.
"Sudah dapat cincinnya?" tanya William tepat di sebelah Briana.
Briana menoleh kemudian tersenyum manis pada suaminya.
"Belum," jawab Briana menggelengkan kepala.
"Oh ya sudah. Kamu lanjut saja memilihnya, aku akan menunggumu di sini." William menduduki kursi yang sudah tersedia di depan etalase toko perhiasan itu.
Briana menganggukkan kepala kemudian kembali memilih dan mencobai cincin berlian disana. Tidak pernah terbayangkan oleh Briana bila William akan membelikan cincin berlian untuknya.
Briana jadi teringat pada saat mereka menikah, William hanya membelikan cincin emas untuknya dan sekarang cincin emas itu masih melingkar di jari manisnya padahal selama ini ia tidak pernah mengenakan cincin itu.
"Coba lihat Liam, bagus yang ini atau yang ini." Briana memperlihatkan cincin berlian yang ada di kedua tangannya. Dua cincin itu memiliki model yang paling cantik diantara yang lainnya dan Briana juga menyukainya.
"Bagus keduanya." William mendekat lagi pada Briana.
__ADS_1
"Salah satu saja Liam, kalau kamu bilang bagus keduanya aku jadi bingung memilihnya," rengek Briana merangkul lengan William.
"Kalau begitu ambil saja keduanya," ucap William membuat Briana buru-buru menggelengkan kepala.
"Tidak-tidak. Aku tidak mau mengambil keduanya. Aku hanya ingin membeli satu tapi please kamu bantu pilih yang mana yang bagus," ucap Briana dengan memohon.
Mata indahnya ia kedip-kedipkan membuat William gemas dan mencubit pipinya.
"Aww, sakit." Briana menyentuh pipi yang William cubit. Briana juga memanyunkan bibirnya membuat William mencomot bibir itu.
"Iihh Liam." Briana menjauhkan tangan William dari mulutnya.
William tersenyum, kemudian ia alihkan pandangannya pada kedua cincin yang Briana sukai lalu mengambil salah satunya.
"Ini saja kalau begitu." William mengambil cincin itu dan menunjukkannya pada Briana.
Briana juga tersenyum kemudian menganggukkan kepala. Cincin yang William pilih benar-benar bagus Briana menyukainya dan mencoba lagi cincin itu bersama dengan William yang ia minta untuk mencobanya juga.
Sebenarnya untuk cincin kawin mereka bisa memesan sesuai dengan model yang mereka inginkan, namun karena mereka sibuk jadi mereka baru bisa datang ketoko itu dengan waktu yang mepet.
Setelah mencoba cincin kawin yang mereka pilih, keduanya memberikan cincin itu pada karyawan toko untuk memberi ukiran nama 'William & Briana' pada cincin wanita, dan ukiran nama 'Briana & William' pada cincin pria.
"Willy," sapa seseorang membuat William dan Briana menoleh.
"Jasper," sapa balik William pada teman lamanya.
Keduanya menyatukan kepalan tangan kemudian menubrukkan bahu mereka menandakan bila mereka ialah teman baik.
"Dia siapa?" Jasper melihat pada Briana.
"Dia istriku," ucap William memperkenalkan Briana.
"What! Istrimu? Lalu Sabrina ...." Jasper tidak melanjutkan ucapannya karena melihat raut wajah William yang berubah.
"Ahh, salah ngomongkan. Hai, kenalin nama aku Jasper." Jasper merutuki dirinya yang salah bicara kemudian mengulurkan tangan pada Briana untuk berkenalan dengan wanita itu.
__ADS_1
Briana tidak langsung menjabat tangan Jasper tapi ia menolehkan wajah pada William yang memasang wajah datar.
"Hai, kamu istrinya Willy kan?" tanya Jasper membuat Briana mengalihkan kembali pandangannya pada Jasper.
"Iya, aku istrinya. Namaku Briana." Wanita itu menjabat tangan Jasper namun mata melirik pada William.
Dalam benak Briana bertanya kenapa suaminya diam saja bertemu dengan teman lama? Lalu siapa tadi yang disebut Jasper? Sabrina? Siapa Sabrina?
Briana menoleh lagi pada William. Ya, wajah William berubah setelah mendengar Jasper menyebut nama Sabrina. Briana yakin, pasti ada sesuatu dengan seseorang pemilik nama itu.
"Oh waw, nama yang bagus. Selamat ya atas pernikahan kalian," ucap Jasper namun tidak ada yang menyahutinya.
William maupun Briana diam saja membuat Jasper menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tadi Jasper melihat William duduk di depan tokonya membuatnya segera ingin menyapa, tapi justru ia salah bicara yang mengakibatkan William dan Briana saling terdiam.
"Maaf ya kalau tadi aku salah bicara, silakan dilanjutkan aktifitas kalian." Jasper undur diri dari hadapan William dan Briana meninggalkan kedua orang itu masuk ke toko perhiasan.
Jasper ialah pemilik toko perhiasan berlian dimana mereka membeli cincin kawin. Pria itu tentu saja terkejut mengetahui William menikah dengan orang lain, bukan dengan Sabrina tunangan pria itu.
Jasper tidak tahu bila semenjak William dan Sabrina mengalami kecelakaan kedua orang itu tak lagi bersama.
"Siapa Sabrina?" tanya Briana menoleh pada William.
"Bukan siapa-siapa." William berjalan menghampiri karyawan toko yang sudah selesai mengukir cincin pernikahan mereka.
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu black card dari dalam dompetnya untuk membayar cincin pernikahan mereka.
Briana tidak yakin dengan jawaban William yang mengatakan bila Sabrina bukan siapa-siapa. Wanita itu menghampiri William berniat hendak bertanya lagi tapi pria itu justru berbicara lebih dulu.
"Bila kamu ingin bertanya lagi, aku tidak akan menjawab pertanyaanmu. Karena aku tidak perlu melakukannya." Ucapan itu seketika membuat Briana mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Ini Tuan kartu anda. Terima kasih sudah berbelanja ditoko kami." Karyawan toko memberikan kartu black card milik William dan paper bag kecil berisi sepasang cincin berlian di dalam.
William mengambil semua itu tanpa menyahuti ucapan karyawan toko tersebut.
__ADS_1
William berjalan lebih dulu baru setelahnya Briana mengikuti pria itu dari belakang. Sembari menatap punggung suaminya, Briana terus membatin.
'Aku tahu kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku, Liam.'