
Brukk!
William membanting tubuh lawan tarungnya hingga pria itu tidak bisa bangkit lagi.
Terhitung sudah ada tujuh orang yang tumbang dalam pertarungan tersebut. William menjadi satu-satunya orang yang masih bertahan hingga akhir.
Tubuh William sama sekali tidak ada yang terkena pukulan oleh lawan tarungnya, pria itu hanya menghindar dan juga menyerang.
Trik bela diri yang sangat baik bila digunakan saat melawan banyak lawan.
Reyhan semakin salut pada William yang berbeda dari peserta lainnya. William sangat kuat.
Prok prok prok.
William menolehkan wajahnya melihat pada Reyhan yang bertepuk tangan sembari berjalan ke arahnya. William membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada calon majikannya itu.
"Selamat kamu menjadi pemenang akhir." Reyhan mengulurkan tangan pada William.
Grep!
Brukk!
Akkhh!
Suara benda jatuh dan pekikan seseorang beriringan dengan William menyambut uluran tangan Reyhan.
Rupanya tubuh Reyhan terbanting ketanah karena Ia berusaha membanting tubuh William untuk mengetes seberapa kuat pria itu.
"Maaf, Pak." William bergegas membantu Reyhan bangkit.
William juga membersihkan pakaian Reyhan yang kotor sehabis jatuh ditanah.
"Tidak apa-apa. Ternyata kamu benar-benar kuat ya, atau saya yang semakin lemah karena faktor usia." Reyhan memegang pinggangnya yang sakit.
"Mungkin anda hanya kurang latihan," ucap William.
"Mungkin." Reyhan menganggukkan kepalanya.
"Apalagi yang harus saya lakukan, agar meyakinkan anda untuk menjadikan saya sopir dirumah ini?" tanya William.
"Tadinya saya akan menantang kamu bertarung, tapi tidak jadi karena pinggang saya sakit." Reyhan meringis menahan sakit di pinggangnya.
"Maaf, Pak, saya tidak sengaja tadi," ucap William menyesal.
"Saya akui kamu memang hebat. Kamu tidak perlu lagi membuktikan apa-apa pada saya. Kamu langsung bisa bekerja hari ini, jemput anak saya di kantornya. Untuk SIM dan identitasmu sedang diurus oleh sekretaris saya," ucap Reyhan.
Ya. Sejak seleksi pertama berakhir, Reyhan langsung menghubungi sekretarisnya agar membuatkan KTP dan juga SIM untuk William karena ia yakin bila seleksi calon sopir itu akan dimenangkan oleh William.
__ADS_1
Bibir William tersungging lebar karena dirinya diterima menjadi sopir di keluarga itu, yang artinya ia akan mendapatkan penghasilan cukup banyak.
"Berarti saya langsung jemput anak Bapak di kantornya?" tanya William.
"Ya, kamu jemput dia di kantornya. Jam berapa pun dia pulang kamu harus menyupiri serta mengawalnya. Pastikan dia aman sampai dirumah," titah Reyhan.
"Baik Pak," ucap William.
"Satu lagi. Begitu tiba di kantor, kamu temui sekretaris saya namanya Agung. Dia sudah tahu apa saja yang harus dia lakukan termasuk mengantarmu menemui Briana," titah Reyhan.
"Baik Pak," ucap William lagi.
William membungkukkan kepalanya untuk pamit pada Reyhan dan calon sopir yang sudah tumbang, lalu berjalan keluar dari halaman rumah Reyhan.
Untuk berangkat menjemput Briana, William pergi menggunakan angkutan umum karena pulangnya ia akan menyupiri mobil milik Briana beserta pemiliknya.
Briana sendiri kabur dari rumah setelah menjawab telepon dari klien karena ia tidak ingin ikut menyeleksi calon sopir untuknya.
Untuk rencana memasukkan obat pencuci perut diminuman para calon sopirnya, Briana urungkan karean ia sudah tertangkap basah oleh Reyhan sebelum melakukannya.
Kini Briana sedang duduk menghadap layar laptop yang sedang menyala, untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi Ia tinggalkan karena harus pulang kerumah.
Briana tidak tahu bila sepanjang seleksi berlangsung dirinya ditunggu kehadirannya oleh Reyhan yang ingin Briana ikut serta menyeleksi sopir untuknya.
Tapi sayangnya hingga seleksi itu berakhir, Briana tidak kunjung hadir disana karena wanita itu sedang berada dikantor.
"Masuk," titah Briana.
"Permisi Nona Briana, saya datang kesini untuk mengantarkan sopir anda," ucap Agung setelah membuka pintu ruangan Briana.
"Sopir?" tanya Briana mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke arah Agung.
Agung datang bersama William keruangan Briana untuk memperkenalkan William pada wanita itu. Briana tidak bisa melihat wajah William karena pria itu berdiri dibelakang tubuh Agung dan hanya bisa melihat bagian kepalanya saja.
Sedangkan William yang berdiri di belakang tubuh Agung merasa familiar dengan suara Briana yang baru saja bicara.
"Betul Nona, ini supir anda." Agung menggeser tubuhnya agar Briana bisa melihat William yang berdiri di belakang tubuhnya.
Mata Briana terbelalak melihat pria yang ia anggap menyebalkan itu ada disana. Sama halnya dengan Briana, William sendiri juga terbelalak saat melihat wanita angkuh yang pernah hampir menabrak dirinya duduk disana.
Briana bangkit dari tempat duduknya untuk memastikan matanya tidak salah melihat bila pria yang bersama Agung itu pria menyebalkan yang membuatnya kini dicarikan sopir oleh Reyhan.
"Kamu!" pekik kedua orang itu bersamaan.
"Loh, kalian sudah saling kenal ternyata?" tanya Agung menatap Briana dan William bergantian.
Briana tidak mengherani pertanyaan Agung, wanita itu langsung menyerang William menggunakan kuku tangannya yang tajam.
__ADS_1
Srett!
Akkhh!
Wanita itu berhasil mencakar wajah tampan milik William hingga membuat kulit wajah Willam terkelupas.
"Hei! Apa-apaan kamu ini kenapa wajahku dicakar?" tanya William memegangi pipinya yang sudah berdarah.
Briana puas sekali, akhirnya bisa melampiaskan rasa kesalnya pada wajah tampan milik William.
"Gara-gara kamu tadi malam aku jadi pulang terlambat, dan aku harus disupiri kemanapun aku pergi," ucap Briana menatap nyalang pada William.
"Oohh, jadi kamu anaknya Pak Reyhan yang akan aku supiri itu?" tanya William.
"Apa maksudmu?" tanya Briana balik.
"Aku supirmu, kucing bar-bar." William menatap tajam pada Briana di hadapannya.
"Apa kamu bilang, Kucing Barbar?" tanya Briana mendelikkan matanya.
"Heem. Kamu Kucing Barbar yang sudah mencakar wajahku," ucap William dihadapan wajah Briana.
Srett!
Akkhh
Briana mencakar lagi wajah William di hadapannya dangan penuh kekesalan.
"Kenapa kamu mencakar lagi wajahku?" tanya William tak kalah kesal.
"Karena kamu sudah mengataiku Kucing Barbar," ucap Briana.
"KAU!" William menunjuk tepat di wajah Briana.
"APA!" Briana menatap tajam pada William yang menunjuk dirinya.
Keduanya kini saling menatap tajam satu sama lain seolah mereka musuh bebuyutan yang baru saja bertemu lagi.
Agung disana bingung untuk memisahkan kedua orang yang sedang bertengkar itu. Ia datang ke ruangan Briana ingin memperkenalkan William sebagai sopir wanita itu tapi ternyata Briana dan William ialah musuh bebuyutan.
Agung menarik mundur tubuh William agar menjauh dari hadapan Briana, baru dirinya lah yang kini menghadap wanita itu.
"Nona Briana, pria ini namanya William dan mulai sekarang dia itu sopir anda yang akan mengantar dan menemani kemanapun anda pergi," ucap Agung memperkenalkan William pada Briana di hadapannya.
"Aku tidak mau dia yang menjadi sopirku." Briana menunjuk pada William.
"Tidak bisa Nona, ini sudah keputusan Pak Reyhan menjadikan Liam sebagai sopir anda," ucap Agung.
__ADS_1
William menjulurkan lidahnya mengejek pada Briana yang menatapnya penuh kesal.