Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 63 Makan Sate


__ADS_3

"Tapi untuk nama kedua anak kita yang lainnya aku masih belum dapat," ucap William.


"Tidak apa-apa Mas, kan lahirnya juga masih sekitar 3 bulan lagi. Masih ada waktu untuk kita mencari nama untuk mereka," ucap Briana.


"Iya Sayang," ucap William.


Briana bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri William yang sedang mengiris daging.


"Aku bantuin ya," ucap Briana.


"Boleh kalau kamu mau," ucap William.


"Tentu saja dong aku mau, biar cepat selesai cepat juga aku makan satenya," ucap Briana.


Wanita itu kemudian membantu William mengiris daging ayam beserta daging kambing. Dua jenis daging itu ia potong dan ia letakkan terpisah.


Untuk pertama kalinya Briana memegang peralatan dapur. Mommy Larissa kerap kali meminta Briana untuk belajar memasak namun wanita itu selalu tidak mau.


Dan setelah menikah juga Briana tidak kunjung belajar masak sehingga ia tidak bisa masak sama sekali.


"Itu potongan dagingnya kebesaran sayang, potong bagi dua lagi supaya gampang nusuknya dan cepat matangnya," ucap William memberitahu Briana.


"Berarti ini harus aku kecilin lagi," tanya Briana dan William mengangguk.

__ADS_1


"Iiihh, merepotkan sekali. Lebih baik beli jadi kan kita tidak perlu repot-repot seperti ini," keluh Briana.


"Iya tapi jam segini mana ada yang jualan sate," ucap William.


"Iya sih, sekarang aja masih jam 02.00. Aduuhh, aku lapar sekali pengen makan sate, Mas," ucap Briana.


"Sabar sayang sebentar lagi selesai nih." William menyelesaikan memotong daging.


"Tinggal ditusukin kan?" tanya Briana.


"Sebentar mau aku kasih bumbu dulu," ucap William menghentikan tangan Briana yang sudah akan menusuki sate.


William memasukkan bumbu ke daging yang sudah dipotong kemudian mengaduknya dan mempersilahkan Briana untuk membantunya menusuki sate.


"Kalau kamu ngantuk tidur aja Sayang nanti kalau sudah matang aku bangunin," titah William.


Briana menggeleng. "Tidak ah, aku ingin membantumu bikin sate," tolak Briana.


"Jangan dipaksakan, kalau ngantuk tidur aja," ucap William mengingatkan lagi namun Briana menggeleng lagi.


Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk menusuki sate hingga membuat Briana tidak tahan dengan ngantuknya.


Wanita itu tertidur dimeja dapur dengan kedua tangan ia lipat dan ia gunakan untuk alas pipinya.

__ADS_1


"Dasar keras kepala. Dari tadi sudah aku suruh tidur ke kamar tidak mau dan sekarang justru tidur di sini." William menggelengkan kepala.


Pria itu menunda sejenak kegiatannya, kemudian mencucu tangan lalu mengangkat tubuh Briana dan memindahkan ke kamar tamu terdekat dari area dapur baru setelahnya ia kembali melanjutkan bakar sate.


"Sayang." William menggoyangkan tubuh Briana untuk membangunkan wanita itu.


"Euuchh." Briana menggeliat namun terlelap lagi.


"Sayang, katanya mau sate ini satenya sudah matang ayo dimakan." William menggoyang lagi tubuh Briana.


"Ngantuk," keluh wanita itu.


"Nanti keburu dingin loh satenya kan nggak enak dimakan," ucap William.


Briana mulai mengerjakan matanya dan perlahan membukanya. Baru melihat sate di depannya saja ia sudah berbinar ditambah lagi bila tahu rasanya begitu nikmat.


"Aaa." William menyuapkan satu tusuk kearah mulut Briana dan wanita itu menerimanya, mengunyah, dan menikmatinya.


"Wahh, enak sekali satenya, Mas. Aku mau makan sendiri." Briana merebut piring berisi sate dari tangan William kemudian memakan sate tersebut.


"Pelan-pelan makannya aku tidak akan meminta," ucap William dan Briana hanya mengangguk.


Kebersamaan seperti itu selalu mereka lalui bersama hingga tidak terasa usia kandungan Briana memasuki bulan ke-9.

__ADS_1


"Aduuhh!" teriak Briana.


__ADS_2