Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 66 Iri


__ADS_3

"Kenapa? Hemm?" William menarik dagu Briana agar wanita itu menghadap padanya.


Briana menggeleng pelan. Ia enggan untuk bercerita lebih tepatnya menceritakan masa lalunya.


"Tidak apa-apa katakan saja, aku akan setia mendengarkan ceritamu," ucap William meyakinkan Briana namun wanita itu tetap diam tidak mau bercerita.


"Apa kamu punya kenangan buruk mengenai jarum suntik?" tanya William namun Briana masih diam hingga pada akhirnya Larissa yang memilih buka suara.


Sedari dari tadi ia gemas sekali pada Briana yang hanya diam saja padahal William sudah berulang kali meminta bercerita.


"Dulu sewaktu Briana baru masuk SMA dia mendapat perlakuan tidak enak dari teman-temannya," ucap Larissa sembari melangkah mendekati Briana dan William.


"Maksud Mommy dibully?" tanya William memastikan dan Larissa menganggukkan kepala.


William menatap pada istrinya yang masih setia membuang muka. Briana sudah tidak mau mengingat itu lagi namun keadaan yang mengharuskan masa lalunya diceritakan.


"Mommy juga menyayangkan sekali pada saat itu Briana tidak mau bercerita. Andai saja dulu dia langsung cerita pasti pembullyan itu tidak berkelanjutan hingga Briana masuk rumah sakit," ucap Larissa.


"Memangnya apa yang terjadi Mom?" tanya William penasaran.


"Pada dasarnya Briana memang tidak sepintar Brian dan saat itu ia menjadi siswa paling bodoh dikelasnya. Briana di olok-olok, dikurung dikamar mandi sehingga menyebabkan dia tertekan dan stres bahkan ngedrop. Mommy sampai harus bolak balik membawa Briana ke rumah sakit agar kondisinya membaik. Briana sudah kenyang di tusuk jarum suntik maupun infus hingga pada akhirnya ia mengalami Fobia terhadap jarum suntik," ucap Larissa.

__ADS_1


William menatap iba pada istrinya tak menyangka bila Briana pernah mengalami hal berat seperti itu. Rupanya pembullyan disekolah itu bukan hanya terhadap siswa kurang mampu saja melainkan pada siswa yang mereka anggap lemah.


"Sudah ya Sayang tidak apa-apa semua itu hanya masa lalu. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menghilangkan fobiamu itu dan aku akan selalu mendampingimu," ucap William.


Briana menatap lekat pada suaminya. Terlihat jelas dari sorot mata pria itu William sangat tulus padanya. Briana akhirnya menggangguk.


"Iya sayang, benar apa kata suamimu. Kamu harus bisa menghilangkan fobiamu. Lupakan masa lalu itu karena teman-teman yang mengolok-mu juga sudah meminta maaf dengan tulus padamu," timpal Larissa.


"Iya Mom," ucap Briana pada akhirnya bersuara juga.


"Semangat Sayang kamu pasti bisa," ucap Irene ikut menyemangati Briana.


"Makasih Mah," ucap Briana dan Irene menganggukkan kepala.


"Aku mau minum," ucap Briana dan William langsung memberikan air minum padanya.


Sesekali juga Briana meringis merasakan sakit pada lengannya yang terdapat jarum infus disana.


"Tidak apa-apa itu sakit sedikit," ucap William yang mengerti ringisan Briana.


"Iya."

__ADS_1


"Ayo buka lagi mulutnya, kamu habiskan makanannya," titah William.


Briana menurut kemudian membuka lagi mulutnya dan menerima suapan yang William berikan.


Entah berapa lama ia disuapi hingga akhirnya makanan itu habis juga.


"Aku bosan," ucap Briana.


"Mau jalan-jalan?" tanya William dan Briana mengangguk.


William keluar terlebih dahulu untuk meminjam kursi roda baru setelahnya memindahkan Briana agar duduk di kursi roda tersebut.


Sementara sepasang suami istri itu hendak jalan-jalan ke taman, Larissa dan Irene pamit pulang.


"Stop! Disini saja Mas," ucap Briana menghentikan William mendorong kursi rodanya.


"Yakin mau berhenti di sini?" tanya William memastikan.


"Iya Mas, disini aja. Aku ingin melihat dokter dan perawat lalu lalang," ucap Briana.


"Baiklah," ucap William dan Briana tersenyum.

__ADS_1


Wanita hamil itu kini memandangi dokter dan perawat yang sedang lalu lalang. Dilubuk hatinya paling dalam ia iri pada mereka.


__ADS_2