Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 26 Mengelak


__ADS_3

"Tidak kok, ini barang benar untukku," ucap Briana mengelak.


"Coba sini aku lihat kalau barang itu untukmu." Brian mencoba merebut paper bag yang Briana sembunyikan dibelakang tubuhnya.


"Brian, kamu apa-apaan sih barang ini memang untukku." Briana menjauhkan paper bag yang ia pegang agar tidak bisa diraih oleh Brian.


"Aku tidak percaya. Coba sini aku lihat." Brian berusaha lagi merebutnya tapi Briana lebih dulu berlari menghindari Brian agar paper bag yang ia pegang tidak direbut oleh pria itu.


Briana berlari kearah mobilnya kemudian membuka pintu mobil dan segera masuk kedalam mobil tersebut.


Briana melempar paper bag yang ia pegang kekursi belakang mobilnya kemudian mengatur nafas yang masih tersengal sehabis berlari.


"Astaga Briana, ada apa denganmu kenapa kamu membelikan barang untuk Liam dan bertingkah aneh saat Brian mau melihatnya," gumam Briana tak habis fikir pada dirinya sendiri.


Briana melihat lagi pada Brian yang sedang melihat kearah mobilnya.


"Untung saja Brian tidak berhasil melihat isi belanjaanku," gumamnya kemudian.


Briana menghidupkan mobil yang sedang ia naiki untuk segera ia kemudikan menuju rumah orang tuanya.


Brian yang ditinggal Briana menggelengkan kepala. Meski ia tidak melihat barang apa saja yang Briana beli, tapi Brian tahu bila barang itu untuk seorang pria. Brian melihat logo sebuah toko perlengkapan pria tertera di paper bag tersebut.


"Akui saja kalau kamu sudah ada rasa pada Liam, Bri. Minta maaflah karena kamu sudah merendahkannya, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari," gumam Brian menatap kepergian mobil saudara kembarnya dari sana.


Brian teringat pada wanita bernama Sabrina yang kata William adalah tunangan pria itu. Brian tidak ingin Briana baru menyadari perasaannya disaat wanita bernama Sabrina kembali pada William.


*


*


Briana terus menantikan kepulangan William, tapi hingga dua minggu berlalu suaminya tidak kunjung kembali. William juga sama sekali tidak menghubungi Briana membuat wanita itu jadi mengkhawatirkannya.


Saat ini Briana tengah bergelut dengan pekerjaannya agar tidak selalu teringat pada William yang tak pulang-pulang.


Briana menghentikan tangannya yang sedang menanda tangani berkas yang baru saja ia periksa.


"Kamu kemana sih Liam, kenapa hingga dua minggu kamu pulang kampung tidak memberi kabar juga?" tanyanya dengan mata yang berembun menatap foto pernikahan yang baru saja ia keluarkan dari dalam laci.


"Apa kamu tidak akan kembali ke Jakarta dan bekerja sebagai sopirku lagi?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pintu ruang kerja Briana dibuka oleh Reyhan yang masuk keruangan itu.


"Apa Liam ada menghubungimu?" tanya Reyhan setelah masuk ke ruang kerja Briana.


Briana buru-buru memasukkan foto pernikahan yang ia pegang kedalam laci meja kerjanya agar Reyhan tidak bisa melihat bila dirinya sedang memandangi foto pernikahan itu.


"Daddy masuk keruanganku kenapa tidak ketuk pintu dulu sih?" tanya Briana memberengut.


Briana kesal pada Reyhan yang hampir saja ia ketahuan sedang memandangi foto pernikahannya.


"Bukannya Daddy kalau masuk keruangan ini tidak pernah ketuk pintu ya. Kamu saja yang sedang melamun jadi kaget Daddy masuk keruangan ini," ucap Reyhan.


"Lain kali jangan masuk sembarangan lagi Dad, aku juga butuh privasi saat bekerja," ucap Briana.


"Baiklah, Daddy minta maaf." Reyhan menduduki sofa diruang kerja tersebut.


Briana menganggukkan kepala.


"Apa yang membuat Daddy datang keruang kerjaku?" tanyanya kemudian.


"Daddy ingin bertanya, apa Liam sudah ada menghubungimu memberi kabar bila ia sudah sampai dikampung halamannya?" tanya Reyhan.


"Bagaimana dia mau menghubungimu bila kamu saja selalu merendahkannya dan tidak menganggap dia sebagai suamimu," ucap William.


"Daddy, aku merendahkannya itu karena memang kenyataannya begitu. Liam hanyalah sopir miskin yang dengan terpaksa aku menjadi istrinya," ucap Briana.


"Kamu masih saja tidak berubah, Bri. Apa kamu tidak merasa sedih atau kehilangan Liam karena ditinggal pulang kampung olehnya?" tanya Reyhan.


"Tidak. Untuk apa aku sedih dan merasa kehilangannya. Aku justru berharap dia tidak kembali agar hidupku tenang tanpa ada pria itu disisiku," jawab Briana berbohong.


"Apa kamu tidak ingin menyusulnya?" tanya Reyhan.


"Untuk apa aku menyusulnya, buang-buang waktu saja," ucap Briana dengan acuh.


Reyhan menggelengkan kepala tak habis fikir pada sikap angkuh dan sombong putrinya.


"Kalau kamu mau menyusul Liam pulang kampung, Daddy punya alamat rumahnya." Reyhan mengeluarkan dompet yang ia kantongi kemudian membukanya dan mengeluarkan selembar kertas kecil yang terlipat didalam sana.


"Ini alamat rumah Liam di Kalimantan." Reyhan menyerahkan kertas tersebut dihadapan Briana kemudian meninggalkan wanita itu untuk keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


Briana tidak menyahuti ucapan Reyhan, tapi pandangannya tidak lepas menatap pada kertas yang baru saja Reyhan letakkan dihadapannya.


Pada akhirnya Briana mengambil kertas yang Reyhan berikan padanya kemudian membukanya. Kertas tersebut bertulisan alamat lengkap yang entah alamat rumah siapa William tuliskan disana dan memberikannya pada Reyhan saat ia baru saja bekerja sebagai sopir Briana.


Sedangkan kini Reyhan memberikan alamat tersebut pada Briana, selaku istri pria itu.


"Jauh sekali rumahnya," gumam Briana setelah membaca alamat rumah yang provinsinya berada dipulau Kalimantan.


"Aku susul Liam tidak ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Briana ingin menyusul William dan memastikan pria itu sudah tiba dikampung halaman, tapi ia tidak tahu alamat rumah tersebut. Briana juga malu bila ia menyusul William pasti akan membuat pria itu kegeeran pikirnya.


Tidak lama kemudian Linda masuk ke ruang kerja tersebut untuk menagih laporan yang dikerjakan oleh Briana.


Beruntungnya Briana sudah menyelesaikan pekerjaannya tidak seperti sebelumnya yang harus pulang larut malam baru bisa menyelesaikannya.


"Linda, kamu pernah pergi ke Kalimantan tidak?" tanya Briana.


"Belum pernah Nona, memangnya kenapa?" tanya Linda balik.


"Tidak apa-apa Linda, saya hanya bertanya," ucap Briana.


Linda menganggukkan kepala kemudian membereskan berkas yang ada dimeja Briana.


Briana masih kepikiran pada alamat rumah William, ia bingung hendak menyusulnya atau tidak karena hati dan pikirannya tidak sama.


"Linda," panggil Briana.


"Iya Nona." Linda menghentikan tangannya yang sedang membereskan berkas, kemudian menatap pada Briana dihadapannya.


"Kamu tahu alamat ini tidak?" tanya Briana menunjukkan pada Linda alamat yang ia dapat dari Daddy-nya.


"Kalimantan? Tidak tahu Nona, kan saya belum pernah kesana," jawab Linda setelah melihat alamat yang ditunjukkan Briana.


"Emm, apa kamu mau temani saya mencari alamat ini?" tanya Briana ragu-ragu mengatakannya.


"Hahh! Mencarinya Nona?" tanya Linda terkejut.


"Ya, mencari alamat itu, Linda. Saya ingin memastikan bila dia sudah tiba dikampung halamannya." Briana menjeda ucapannya.

__ADS_1


'Dan saya juga merindukannya,' sambungnya tapi didalam hati.


__ADS_2