
"Maaf, Mbak, saya hanya bisa mengantar kalian sampai disini," ucap sopir taksi online menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah makan.
"Tapi ini sudah benar kan kabupaten yang sedang saya cari?" tanya Briana.
"Benar Mbak, ini sudah benar. Anda bisa tanyakan saja pada orang-orang disekitar sini," ucap sopir taksi memberi saran.
Briana menganggukkan kepala, kemudian menoleh pada Linda yang sejak tadi diam saja disebelahnya.
"Kamu kenapa diam saja? Ayo kita turun," ajak Briana pada Linda.
"Iya Nona," ucap Linda.
Briana memberikan uang pada sopir taksi yang sudah mengantarkannya, kemudian turun dari mobil yang diikuti oleh Linda yang juga ikut turun.
"Kita mencari alamat ini kearah mana dulu ya Lin?" tanya Briana yang kebingungan.
"Saya juga tidak tahu Nona, tapi kita bisa coba mencari kearah kanan lebih dulu," ucap Linda memberi saran.
"Baiklah kita coba mencari kearah kanan," ucap Briana setuju.
Briana berjalan lebih dulu sembari terus membawa kertas bertuliskan alamat rumah yang tertulis disana. Sedangkan Linda hanya mengikuti Briana dari belakang karena ia juga tidak tahu alamat yang sedang Briana cari.
Briana dan Linda terus berjalan kearah kanan sembari melihat nama gang dan juga nama jalan disana.
Kurang lebih 2 KM Briana dan Linda berjalan menyusuri jalanan diarah kanan namun mereka tidak kunjung menemukan nama jalan yang sedang mereka cari.
"Nona, kita lanjutkan mencari alamat rumah suami Nona besok saja ya. Saya sudah lelah dari tadi berjalan kaki," keluh Linda membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan memegangi lututnya.
"Tidak bisa Linda, kita harus segera menemukan alamat rumah ini. Kita istirahatnya nanti saja kalau sudah menemukan rumahnya," ucap Briana.
"Tapi Nona, saya sudah tidak kuat lagi kaki saya pegel sekali," keluhnya lagi.
"Ayolah Linda tahan sedikit saja, kita harus segera menemukan alamat ini. Suami saya sudah lebih dari dua minggu tidak kembali ke Jakarta, saya mengkhawatirkannya," ucap Briana.
"Nona mengkhawatirkannya atau merindukannya?" tanya Linda kembali menegakkan tubuhnya.
"Dua-duanya," jawab Briana jujur.
"Apa Nona juga mencintainya?" tanya Linda lagi.
"Saya tidak tahu mencintainya atau tidak yang jelas sekarang ini saya sangat merindukannya," jawab Briana.
"Itu namanya cinta Nona. Tidak ada orang yang merasakan rindu bila ia tidak mencintai," ucap Linda.
__ADS_1
Briana terdiam dengan isi kepala memikirkan perkataan Linda baru saja.
'Benarkah aku mencintainya?' tanya Briana dalam hati.
"Memangnya siapa sih suami Nona?" tanya Linda kemudian.
Briana ragu hendak memberi tahu Linda, tapi bagaimanapun sekretarisnya harus mengetahui siapa suaminya karena Linda sekarang sedang membantu dirinya mencari alamat rumah William.
"Kamu sudah mengenal orangnya," ucap Briana.
"Kalau saya sudah mengenal orangnya, lantas siapa dia Nona?" tanya Linda.
"Suami saya itu Liam, sopir pribadi saya," ucap Briana.
"Apa!" pekik Linda terkejut.
"Liam, sopir pribadi anda itu suami anda?" tanyanya kemudian.
"Ya, dia itu suami saya, sudah lebih dari sebulan saya dinikahinya. Saya dinikahi sopir sendiri," jawab Briana pada akhirnya memberi tahu Linda.
Linda terbelalak, lagi-lagi terkejut mendengar kejujuran yang baru saja Briana katakan.
Linda tidak menyangka bila Briana dan Liam yang seperti kucing dan anjing itu ternyata sepasang suami dan istri.
"Oleh karena itu, saya minta bantuan kamu untuk mencari alamat ini. Aku ingin bertemu Liam dan mengajaknya kembali ke Jakarta," ucap Briana.
Briana tersenyum lebar, Linda mau menemaninya lagi untuk mencari alamat Liam.
Hari semakin larut tidak Briana perdulikan karena ia ingin segera bertemu dengan William dan memeluk pria itu untuk melepas rasa rindu yang ia rasakan.
"Lin, kok nama jalan yang ada dialamat ini tidak kita temukan juga ya," tanya Briana yang kebingungan.
"Iya Nona, disini tidak ada nama jalan kenanga apa lagi nomor rumah ini," jawab Linda.
"Terus kita harus cari kemana lagi alamat ini, Lin?" tanya Briana yang sudah lelah.
"Makanya itu sebaiknya kita cari penginapan didekat sini Nona, kita istirahat saja dulu dan pencarian alamat ini kita lanjutkan besok saja," ucap Linda memberi saran.
Hufftt.
Briana menghela nafas kasar. Ia merasa frustasi karena pencarian alamat rumah William tidak membuahkan hasil.
"Iya Lin, mungkin sebaiknya kita sudahi dulu pencarian alamat rumah Liam," ucap Briana setuju.
__ADS_1
Linda merangkul bahu Briana, memberi semangat untuk atasannya itu. Meski sempat kesal pada Briana yang tidak tahu terima kasih padanya, tapi Linda tidak tega juga melihat Briana seperti itu.
"Seratus meter dari sini ada penginapan, Nona. Ayo kita kesana," ajak Linda.
Briana menganggukkan kepala kemudian berjalan bersama Linda untuk menuju penginapan tersebut.
Linda dan Briana akhirnya beristirahat disana dan akan melanjutkan pencarian alamat rumah William besok pagi.
*
*
Ditempat berbeda William dan Brian baru saja selesai dengan meetingnya. Keduanya membahas mengenai kerja sama yang mereka lakukan.
Brian berencana akan meresmikan perusahaan transportasi yang ia bangun dalam waktu dekat ini.
Brian tentu saja akan memperkenalkan William pada semua orang bila pria itulah seseorang yang berdiri dibelakang dirinya yang membangun perusahaan tersebut.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Briana saat tahu kamu CEO Will Transport," ucap Brian.
"Briana? Ahh, saudara kembarmu itu bagaimana kabarnya sekarang?" tanya William yang sudah lebih dua minggu tidak mengetahui kabar Briana.
"Yang benar saja kamu Liam tidak tahu kabar istrimu sendiri?" tanya Brian dengan nada meledek.
"Ya begitulah, Brian. Aku mengabarinya atau tidak, Briana mana perduli," jawab William tersenyum getir.
"Maafkan saudaraku itu ya, Liam." Brian menepuk bahu William.
"Heem, tak masalah. Maafkan aku juga yang tidak memberi kabar pada Briana dan juga orang tuamu," ucap William.
"Sebaiknya kamu kabari Briana dan orang tuaku, Liam. Briana memang tidak mengkhawatirkanmu, tapi kedua orang tuaku pasti mengkhawatirkanmu," titah Brian.
"Ya, nanti aku akan menghubungi mereka," ucap William.
"Oiya, saat terakhir kali aku bertemu Briana aku melihat dia membeli barang-barang pria, mungkin saja itu untukmu," ucap Brian memberitahu William.
"Sepatu milikku saja dia buang ke tong sampah, mana mungkin Briana memberikan barang-barang untukku," ucap William tak percaya.
"Tapi benar loh Liam, Briana membeli barang-barang pria, kalau bukan untukmu lantas untuk siapa dia membelinya?" tanya Brian.
"Mungkin saja untuk kekasihnya," jawab William.
"Tidak mungkin, Liam. Briana itu tidak penah pacaran, dia bahkan belum pernah jatuh cinta," ucap Brian.
__ADS_1
William menganggukkan kepala, ia juga teringat dengan buku diary milik Briana yang pernah ia baca, disana Briana menuliskan bila dirinya belum pernah jatuh cinta.
"Tapi aku rasa, sekarang Briana sudah jatuh cinta padamu," ucap Brian.