Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 67 Rencana


__ADS_3

Briana kemudian bercerita pada William bila sebenarnya cita-citanya sejak kecil ingin menjadi seorang dokter. Tapi karena dirinya yang tidak begitu pintar, Briana jadi memilih belajar bisnis dan mulai bekerja di perusahaan Daddy-nya semenjak lulus kuliah.


Sementara Brian saudara kembarnya memang lebih pintar darinya sehingga pria itu bersekolah di Harvard Bussines School dan berkuliah di Harvard University.


Begitu lulus S1 Brian langsung menempati kursi Direktur Utama dan dalam satu tahun setelahnya ia memilih membangun sendiri perusahaan karena terinspirasi oleh sosok suaminya.


"Sekarang juga Brian akan melanjutkan S2 nya di Hardvard University," ucap Briana.


William mengusap lengan Briana. "Tidak apa-apa sayang, jangan bersedih. Siapa tahu anak kita nanti salah satunya bisa menjadi seorang dokter. Aku sejak dulu ingin sekali bergabung menanam saham di rumah sakit Biantara tapi setelah di pikir-pikir sebaiknya aku mendirikan sendiri saja," ucapnya.


"Yakin Mas, kamu mau mendirikan sendiri rumah sakit?"tanya Briana memastikan.


"Iya Sayang. Perusaahaan papah Julian kan berada di bidang konstruksi, sementara perusahaanku bidang transportasi dan aku masih ingin mendirikan rumah sakit lalu belajar mengenai manajementnya. Jadi setelah anak kita dewasa nanti mereka akan memegang masing-masing satu dengan tujuan menghindari terjadinya perebutan keduduka0pn," ucap William menjelaskan.

__ADS_1


"Ahh iya Mas. Anak kita kan 3 jadi setidaknya kita harus memiliki tiga perusahaan agar bisa diteruskan oleh anak-anak kita," ucap Briana paham.


"Nah itu dia maksudku Sayang." William mengusap kepala Briana.


"Perusahaan Daddy Reyhan memang satu tapi anak perusahaannya banyak bahkan di Jepang juga ada. Aku tidak masalah sih Mas, bila Daddy Reyhan memberikan Darwin Properties pada Brian karena aku sadar aku tidak mampu untuk mengelolanya. Tapi yang jadi masalahnya Mommy Larissa tetap memintaku untuk melanjutkan mengelola Butik Riris," ucap Briana.


"Kalau begitu kita bikin anak lagi saja. Anak ke-4 kita perempuan supaya bisa meneruskan Butik Riris," ucap William memberi saran jahil.


"Aww! Sakit sayang." William mengusap bekas cubitan Briana.


"Makanya kalau ngomong itu jangan sembarangan," gerutu Briana.


"Siapa yang ngomong sembarangan sayang, aku kan cuma ngasih saran. Syukur-syukur saranku itu dikabulkan Tuhan kita punya anak banyak," ucap William menyengir namun begitu melihat Briana melotot ...

__ADS_1


"Iya iya Sayang tidak," ucapnya.


"Jangan mikirin nambah anak dulu, ini saja belum lahir. Mas Liam sih tidak merasakan bagaimana repotnya aku hamil. Boleh saja nambah anak tapi beri jarak kelahiran setidaknya 5 sampai 7 tahun," ucap Briana sontak saja membuat William berbinar.


Tadi ia sudah pasrah bila sang istri tidak mau menambah anak padahal ia ingin punya banyak anak. Namun sekarang bibirnya kembali tersenyum karena maksud Briana ia tidak ingin memiliki anak lagi itu karena ingin memberi jarak lahir yang cukup jauh.


Dan William mengerti maksudnya agar sang istri tidak kerepotan mengurus anak-anak mereka.


"Tentu sayang. Mungkin beri jarak 5 tahun sudah cukup jadi saat si kembar tiga ini usia 6 tahun anak kita selanjutnya baru lahir," ucap William.


"Hemm." sahut Briana hanya berdehem namun sudah membuat William begitu senang.


Ia jadi membayangkan dirinya dan Briana kerepotan mengurus anak-anak mereka. Itu lah hal yang William nantikan.

__ADS_1


__ADS_2