Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 35 Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Briana yang penasaran siapa pemilik barang-barang mewah itu segera membuka kertas yang sengaja ditinggalkan di dalam kotak itu.


Pakailah saat acara peresmian perusahaanku.


Dari : Brian


"Jadi semua barang ini untukku," ucap Briana dengan mata berbinar.


Briana tak menyangka semua barang mewah yang membuatnya takjub itu ialah miliknya.


Wanita itu bergegas mengunci pintu kamar kemudian membawa semua barang mewah itu ke wolk in closet berniat hendak mencobainya.


Gaun biru malam pas ditubuhnya tidak sesak dan tidak longgar bahkan high heelsnya juga pas di kakinya.


Briana juga menjinjing tas mewah berbahan kulit buaya membuat penampilannya begitu sempurna.


"Oh ya ampun aku sempurna sekali."


Briana menatap cermin yang menampilkan tubuhnya yang tengah mengenakan semua barang mewah itu.


Seumur-umur Briana tidak pernah dibelikan baju oleh Brian apa lagi gaun. Jangankan dibelikan baju hanya sekedar menemaninya belanja saja pria itu tidak mau. Brian selalu saja memberi alasan ini dan itu bila Briana memintanya menemani belanja.


Terlebih lagi Brian yang baru merintis usahanya tentu saja tidak akan mungkin sanggup memberi semua barang-barang mewah itu.


Briana yakin semua barang mewah itu bila ditotal harganya mencapai puluhan miliar, dan Brian pasti tidak punya uang sebanyak itu hanya untuk membelikan barang untuknya.


Dari pada penasaran Briana memilih menelpon Brian untuk memastikannya sendiri.


"Ada apa?"


"Apa benar kamu yang memberiku gaun, high heels serta tas mewah?"


"Ya, itu aku."


"Kamu tidak lagi kesambet kan memberikan aku barang-barang mewah ini?"


"Aisshh, kau ini Briana. Bukannya mengatakan terima kasih kau justru mengataiku kesambet." Brian menggerutu di seberang telepon.


"Bukan begitu, aku hanya tidak yakin kamu punya uang sebanyak ini sampai-sampai membelikan aku barang-barang mewah."


"Kamu ngatain aku miskin?"


"Bukan ngatain, tapi emang kenyataannya kan? Hahaha."

__ADS_1


Briana mengakhiri sambungan telepon tersebut.


Rasanya senang sekali bila Brian marah padanya. Sungguh mengganggu Brian membuatnya terhibur bahkan melupakan rasa kecewa karena tidak menemukan William.


*


*


Hari peresmian perusahaan Brian tiba.


Briana datang kegedung kantor perusahaan Brian bersama dengan Brian, Reyhan dan Larissa dengan mobil yang sama.


Di dalam gedung sudah dipenuhi oleh tamu undangan yang tak lain ialah keluarga besar Reyhan Anggara serta orang-orang yang menduduki jajaran penting diperusahaan barunya.


Brian juga mengundang para kolega bisnis keluarganya serta orang-orang yang pernah bekerja sama dengannya saat masih bekerja di kantor Darwin Properties.


Kedatangan keluarga Reyhan tentu saja membuat antusiasme semua orang tertuju pada mereka. Reyhan dan Larissa yang memiliki paras tampan dan cantik serta kecerdasan dan atitude yang baik tentu saja membuat mereka sangat disegani oleh semua orang.


Brian dan Briana sosok anak kembar Reyhan dan Larissa juga sangat dihormati bahkan tak jarang kolega bisnis Reyhan ingin menjodohkan putra-putri mereka pada Brian dan Briana.


Brian berjalan menyapa semua orang yang hadir di ballroom kantor kemudian menghampiri sekretarisnya untuk mempersiapkan sambutan yang akan ia sampaikan didepan umum.


Reyhan dan Larissa serta Briana juga menyapa beberapa kolega bisnis perusaan Darwin Properties salah satunya ialah Julian.


"Selamat datang Tuan Julian," sapa Reyhan pada Julian Horrison.


Keluarga Reyhan dan Julian tentu saja saling mengenal karena keduanya sudah cukup lama bekerja sama dalam bidang Properti dan Kontruksi dalam beberapa tahun terakhir ini.


Meski begitu keluarga Reyhan tidak tahu bila Liam sopir pribadi Briana itu ialah anak dari pasangan Julian dan Irene karena mereka tidak pernah bertemu secara langsung dengan William.


"Hai Briana, kapan kamu mau main ke rumah saya?" tanya Julian.


"Saya masih belum sempat Pak, lain kali pasti saya akan main ke rumah Bapak," jawab Briana.


"Kamu itu pasti jawabnya lain kali terus. Tante ini sungguh-sungguh ingin mengenalkan kamu sama anak Tante," ucap Irene.


"Anak Tante?" tanya Briana.


"Iya anak Tante, Bri, namanya William Horrison. Kamu tidak akan nyesel deh kenalan sama dia. Anak Tante itu CEO Will Transport selain itu dia tampan dan gagah. Kamu pasti akan menyukainya," Irene.


Briana tersenyum kikuk. Rasanya tidak etis ia yang sudah menikah berkenalan dengan pria lain untuk tujuan menikah. Masa ia menikah dua kali dengan dua pria berbeda.


"Maaf Tante saya tidak bisa berkenalan dengan anak Tante."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena saya sudah menikah," jawab Briana mengigit Bibir bawahnya.


Jawaban Briana itu di luar dugaan Irene dan juga Julian yang tentunya langsung kecewa saat mendengarnya.


Kedua orang tua William benar-benar hendak menjodohkan putra mereka dengan Briana.


Julian bahkan beberapa kali memberikan foto Briana dan alamat restoran untuk William dan Briana kencan, tapi foto dan alamat restorant itu selalu diremas dan dibuang oleh William.


"Benarkah kamu sudah menikah?" tanya Irene kecewa.


"Iya Tante aku sudah menikah. Suamiku namanya Liam, dan sekarang dia sedang di Kalimantan."


Irene dan Julian saling pandang pupus sudah harapan mereka menjadikan Briana sebagai menantu, karena ternyata Briana sudah lebih dulu menikah dengan pria lain.


"Kapan kamu menikahnya, kenapa kami tidak diundang?"


Belum sempat Briana menjawab pertanyaan Irene, pintu ballroom terbuka membuat fokus mereka teralihkan kearah William yang tengah berjalan memasuki ruangan itu.


William tidak seperti dulu saat masih menjadi sopir pribadinya. Pria itu mengenakan kemeja hitam dipadukan dengan dasi hitam bergaris biru serta stelan jas berwarna biru malam senada dengan gaun yang Briana kenakan.


Ya, sebenarnya gaun yang Briana kenakan serta stelan jass yang dikenakan William ialah stelan couple tapi Briana belum menyadarinya.


Rupanya barang-barang mewah yang Briana kira dari Brian itu sebenarnya dari William.


Postur tubuh tinggi tegap serta paras yang tampan dan rambut yang disisir kebelakang membuat penampilan William begitu sempurna.


Briana terpesona oleh ketampanan William, saking terpesonanya wanita itu bahkan tak berkedip.


"Liam," gumamnya.


Benarkah pria yang sedang berjalan itu adalah suaminya? Tapi kenapa penampilannya berbeda? Kalau bukan suaminya kenapa mereka begitu mirip?


William melirik sekilas pada Briana saat melewati wanita itu tapi dengan cepat pandangannya ia fokus kedepan.


William berjalan menuju Brian yang tengah berbincang dengan beberapa klien penting yang tak lain ialah kliennya juga.


"Mom, aku tidak salah lihat kan kalau itu Liam?" Briana menolehkan wajahnya pada Larissa disebelahnya.


Beruntungnya saat bertanya seperti itu Irene dan Julian sudah menjauh dari Briana karena kedua orang tua William menduduki tempat yang sudah disediakan.


"Mommy tidak tahu Bri, tapi dia begitu mirip dengan menantu Mommy," jawab Larissa.

__ADS_1


"Iya Bri, dia begitu mirip dengan Liam. Tapi siapa dia?" tanya Reyhan.


Pandangan Briana kembali menatap William yang tengah berbincang dengan Brian. Bisa Briana lihat bila Brian begitu akrab dengan pria yang mirip dengan suaminya. Sepertinya Brian begitu mengenal baik sosok pria itu. Tapi siapa pria itu?


__ADS_2