
William melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang ICU Sabrina. William mengenakan pakaian, dan tutup kepala berwarna hijau khusus untuk keluarga pasien yang hendak membesuk pasien koma. Selain itu William juga mengenakan masker dan sarung tangan agar ruangan ICU tetap steril.
Sembari terus melangkah semakin masuk ke dalam ruang ICU, William menatap Sabrina yang masih terbaring koma dengan isi kepala mengingat perkataan dokter Kei yang tadi menjelaskan kondisi wanita itu.
"Kondisi Sabrina semakin memburuk. Oksigen yang kami pasang juga terkadang tidak diterima oleh tubuhnya sehingga mengakibatkan tubuh Sabrina kejang. Tapi sejauh ini Sabrina masih bisa bertahan hidup. Dan saya rasa dia memiliki keinginan hidup yang tinggi. Teruslah berdoa untuk kesembuhannya."
Tiba di sebelah Sabrina yang sedang koma, William menduduki kursi yang sudah disediakan disana.
Pria itu meraih tangan kanan Sabrina kemudian menggenggam dan mengecupnya. Tangan itu terasa lebih kecil dari terakhir kali William menggenggamnya.
"Sab, ini aku Willy."
William menghentikan ucapannya untuk melihat bagaimana respon tubuh Sabrina saat tahu ia ada disisinya.
Tubuh Sabrina tidak memberi respon apapun, hanya kelopak mata yang tertutup sedikit bergerak.
"Maaf aku baru datang membesukmu. Aku baru tahu bila kamu selama ini koma setelah kita mengalami kecelakaan waktu itu. Aku juga baru tahu bila kecelakaan itu membuat kamu mengalami keguguran. Andai saja saat itu aku tidak mengajakmu berlibur ke luar kota kamu pasti tidak akan mengalami koma dan anak kita masih ada bersama kita."
William menarik nafas yang terasa sesak di dadanya. Sungguh sangat berat baginya untuk menerima kenyataan wanita yang ia cintai mengalami koma dan keguguran karena ulahnya.
"Aku mohon bangunlah Sab, kamu sudah terlalu lama tertidur disini. Ini sudah waktunya kamu bagun, semua orang menunggumu termasuk aku."
Lagi-lagi William tak melihat ada tanda-tanda pergerakan dari tubuh Sabrina yang sedang koma. Tapi pria itu tak menyerah ia akan terus mengajak berbicara setiap kali membesuk Sabrina karena itu juga salah satu rangsangan terhadap alam bawah sadar Sabrina. Meski tubuh Sabrina tidak merespon tapi ia yakin wanita itu mendengarnya.
William kemudian menceritakan kenangan perjalanan cinta mereka yang menjalin hubungan sejak menengah pertama dan masuk kesekolah menengah atas yang sama kemudian melanjutkan kuliah hingga S2 di universitas yang sama.
William sama sekali tidak menceritakan bila dirinya sudah menikah dengan wanita lain karena ia khawatir hal itu akan memicu kondisi Sabrina semakin memburuk.
'Briana,' batin William teringat pada istrinya yang pasti sedang menunggunya di rumah.
"Aku pulang dulu ya, Sab. Lusa aku akan membesukmu lagi," pamit William kemudian mengecup kening Sabrina dan mengelus pipi wanita itu.
Sebelum membuka pintu keluar William melihat Sabrina terlebih dahulu berharap saat itu Sabrina membuka matanya namun harapan itu pupus karena wanita itu masih saja memejamkan mata.
William kemudian membuka pintu ruangan ICU dan disana ia langsung dihampiri oleh Vania yang memberikan pertanyaan padanya.
"Apa tubuh Sabrina merespon saat kamu mengajaknya berbicara?" tanya Vania.
__ADS_1
"Tidak ada Tante," jawab William menggelengkan kepala.
"Benarkah?" tanya Vania kecewa padahal Ia sudah berharap sekali Sabrina sadar setelah William membesuknya.
"Maaf Tante, aku harus pulang sekarang. Tapi lusa aku janji akan datang lagi untuk membesuk Sabrina," ucap William.
"Tidak bisakah kamu tetap di sini untuk terus mendampingi Sabrina yang sedang koma hingga dia sadar?" tanya Vania.
William terdiam karena bingung untuk menjawabnya. Ia tak mungkin mengatakan pada Vania bila ia hendak pulang untuk menemui istrinya.
Kesalahan sebelumnya saja belum dimaafkan oleh kedua orang tua Sabrina, William tak mau bila ia mengatakan yang sebenarnya itu akan membuatnya semakin dibenci oleh mereka.
"Tidak bisa Tante. Aku ada pekerjaan penting, semalam datang kemari aku meninggalkan pekerjaanku. Aku janji lusa akan datang lagi kemari dan akan lebih lama disini," ucap William.
"Ohh ya sudah. Kamu hati-hati di jalan," ucap Vania.
William mengangguk kemudian mendekat pada Hikaru yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Aku pulang dulu Om," pamit William namun tidak diherani oleh Hikaru.
Setelahnya William bergegas keluar dari rumah sakit untuk menuju bandara dan akan kembali ke Jakarta.
*
*
"Apa Briana ada di rumah Bi?" tanya William pada pelayan.
William baru saja tiba dirumahnya setelah perjalanan panjang dari Tokyo ke Jakarta.
Tiba di Jakarta hari sudah berganti pagi, dan saat ini ia tiba dirumah waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.
"Ada Tuan. Tapi sejak kemarin Nyonya Briana tidak keluar dari kamar Tuan," ucap pelayan.
William mengerutkan keningnya.
"Kenapa tidak keluar?" tanya William tak mengerti.
__ADS_1
"Kata Nyonya, beliau akan keluar dari kamar bila Tuan yang mengajaknya. Sepertinya Nyonya benar-benar merindukan Tuan."
Perkataan pelayan itu membuat William menarik bibirnya dan tersenyum. Perasaan sedihnya juga seketika lebih baik. William kini ingin cepat-cepat menemui istrinya dan memeluknya.
"Kalau begitu saya kekamar, Bi," ucap William kemudian melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
Tiba di depan pintu kamarnya, sayup-sayup William mendengar seseorang sedang muntah. William bergegas membuka pintu kamar dan mengedarkan pandangannya mencari Briana namun tidak ada.
"Bri," panggil William namun tidak ada jawaban.
William melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar.
"Bri," panggilnya lagi namun masih sama tidak ada jawaban.
Hoek hoek.
Uhuk uhuk.
Suara-suara itu berasal dari kamar mandi membuat William segera membuka pintu kamar mandi tersebut.
"Briana kamu kenapa?" tanya William panik melihat Briana muntah dan wajahnya yang sudah pucat.
Briana menoleh kemudian menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa, Liam, aku hanya pusing dan mual saja," jawab Briana.
William membantu Briana berjalan keluar dari kamar mandi dan mendudukkan wanita itu di tepi ranjang.
"Tunggu sebentar ya aku ambilkan air hangat," ucap William dan sudah hendak pergi namun Briana memegang tangannya.
"Kamu dari mana baru pulang sekarang?" tanya Briana.
Wajah William berubah pias, ia tak mungkin memberitahu Briana yang sebenarnya bila ia kemarin pergi ke Jepang untuk membesuk Sabrina tunangan-nya jauh sebelum ia menikah dengan Briana.
"Aku kemarin ada urusan pekerjaan. Tunggu di sini aku akan ambilkan air hangat." William bergegas keluar dari kamar.
Pria itu terpaksa tidak jujur pada Briana, demi kebaikan bersama. Tapi William janji ia akan segera berterus terang pada istrinya. William tidak mau menutupi semua itu terlalu lama, karena nagaimanapun istrinya adalah belahan jiwanya. William sangat mencintainya.
__ADS_1