
William memarkirkan mobilnya di halaman rumah Reyhan yang luas. Pria itu cukup terheran melihat ada tiga mobil terparkir dihalaman itu yang sudah pasti bukan mobil milik mertuanya.
"Ada tamu?" tanya William menoleh pada Briana disebelahnya.
"Aku tidak tahu tapi sepertinya memang sedang ada tamu," ucap Briana.
"Ayo turun." William membuka pintu mobil di sebelahnya kemudian turun lebih dulu.
Briana juga membuka sendiri pintu mobil di sebelahnya tanpa menunggu William yang membukakan pintu mobil untuknya.
Setelahnya Briana menghampiri William yang menunggu di depan mobil kemudian mengajak pria itu masuk ke dalam rumah.
Langkah kaki keduanya terhenti saat tiba di depan pintu utama mereka melihat kedua orang tua William dan keluarga besar pria itu.
Kedua orang tua William sedang berbicara berhadapan dengan kedua mertuanya. Rupanya tiga mobil yang terparkir di halaman rumah Reyhan itu salah satunya ialah mobil baru milik Julian.
Larissa yang melihat lebih dulu William dan Briana datang segera bangkit dari duduknya dan segera menghampiri keduanya.
"Kenapa kalian berdiri saja di pintu? Ayo cepat masuk." Larissa menarik tangan William dan Briana untuk menuju ruang tamu.
Tiba di sana Larissa langsung meminta William dan Briana duduk di sofa.
William menatap Julian dan Irene bergantian kemudian menatap Reyhan dan Larissa berganti juga.
"Kamu pasti bertanya ya, kenapa Papah dan Mamah kamu ke sini bersama dengan Oma, Opa, Om dan Tante kamu. Kami datang ke sini ingin melamar Briana secara resmi untuk menjadi istrimu sekaligus membicarakan pernikahan kalian," ucap Julian.
"Kalian tidak usah repot-repot, karena aku bisa melakukannya sendiri." William menatap semua keluarganya.
"Ya, Papah tahu kamu mandiri Willy. Tapi Papah ingin keluarga kita diikut sertakan dalam persiapan pernikahan kalian," ucap Julian.
"Benar Willy, Mamah ingin sekali ikut direpotan dalam persiapan pernikahanmu. Kamu satu-satunya anak Mamah, dan kamu juga satu-satunya cucu di keluarga kita, kalau bukan kamu yang merepotkan kami maka siapa lagi? Jadi Mamah mohon jangan tolak kami untuk membantu persiapan peresmian pernikahanmu," ucap Irene dengan penuh permohonan.
William tidak menyahut membuat ayah dari Julian segera ikut bicara.
"Opa bahagia sekali saat tahu kamu sudah menikah. Itulah yang selama ini Opa inginkan melihat kamu menikah dan memiliki anak. Opa harap kamu tidak menolak keinginan Opa dan keluargamu yang lainnya untuk membantu mempersiapan acara resepsi pernikahanmu," ucap pria yang sudah berusia 75 tahun.
Melihat seluruh keluarganya memohon diikut sertakan dalam persiapan resepsi pernikahan, William tidak tega juga dan pada akhirnya pria itu menganggukkan kepala.
Semua keluarga William tersenyum lebar, senyum mereka bahkan menular pada Briana dan kedua orang tua wanita itu.
__ADS_1
Setelahnya kedua keluarga itu lanjut membicarakan pernikahan Briana dan William yang akan dilegalkan dan semua urusan akan diurus oleh pengacara keluarga Horrison.
Sedangkan acara resepsi akan dilaksanakan dua minggu lagi mengingat persiapan yang merepotkan dan proses melegalkan pernikahan ke Pengadilan Agama tidak semudah membalikkan telapak tangan.
*
*
Hari-hari berlalu.
Tidak terasa kurang lebih 3 hari lagi Briana dan William akan melaksanakan resepsi pernikahan mereka.
Proses pelegalan pernikahan mereka juga berjalan dengan baik. William dan Briana tidak perlu menikah ulang dan hanya dimintai bukti pernikahan siri mereka serta berkas lainnya oleh pengacara yang mengurus proses pelegalan pernikahan tersebut.
Hari ini buku nikah mereka sudah bisa diambil di Kantor Pengadilan Agama dan hanya tinggal butuh tanda tangan dari William dan Briana saja.
William menjemput Briana kekantor Darwin Properties untuk mengajak wanita itu mengambil buku nikah dan mencari cincin kawin yang Briana inginkan, sekaligus fitting baju pengantin untuk acara resepsi pernikahan mereka.
Briana tersenyum lebar pada William yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya.
"Ayo kita pergi," ajak William setelah masuk kedalam ruangan itu.
"Ke Pengadilan Agama, mengambil buku nikah kita," jawab William membuat Briana langsung bangkit dari duduknya.
Briana berlari kecil ke arah William dengan bibir yang tersenyum lebar kemudian memeluk tubuh suaminya.
"Aku senang sekali akhirnya pernikahan kita sah di mata hukum dan agama," ucap Briana senang.
William membalas pelukan Briana dengan bibir tersenyum kecil melihat betapa bahagianya wanita yang sedang memeluknya itu.
"Apa kamu bahagia?" tanyanya kemudian.
"Jangan ditanya lagi, aku sangat bahagia Liam." Briana mengeratkan pelukannya dengan bibir yang masih tersenyum.
William mengusap rambut panjang Briana. Dalam benaknya William berdoa semoga ia selalu bisa membuat Briana bahagia seperti ini.
Meski William tidak tahu bagaimana perasaannya pada Briana, tapi ia bertekad akan membahagiakan wanita yang sudah menjadi istri itu.
Briana mengurai pelukannya di tubuh William, kemudian menatap pria itu yang terus mengusap rambutnya.
__ADS_1
"Kenapa terus mengusap rambutku?" tanya Briana.
William menggeleng pelan, kemudian menarik lagi tubuh Briana untuk ia dekap. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Briana.
Kini giliran Briana yang mengusap rambut William. Entah kenapa Briana merasa suaminya tidak sedang baik-baik saja.
"Ada apa?" tanya Briana dengan tangan yang masih mengusap rambut suaminya.
"Tidak ada apa-apa. Ayo kita pergi sekarang, jadwal kita padat sekali hari ini." William mengurai pelukannya di tubuh Briana dan mengajak Wanita itu pergi.
"Tunggu sebentar, aku siap-siap dulu." Briana menghampiri meja kerjanya kemudian memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas dan merapikan berkas yang menumpuk di mejanya.
Sebelum berangkat Briana berpesan terlebih dahulu pada Linda bila ia akan pergi ke Pengadilan Agama sekaligus mengurus persiapan resepsi pernikahan mereka.
Bila tidak berpesan seperti itu Briana khawatir akan ada orang yang mencari dirinya dan Linda yang pasti akan ditanyain tidak mampu menjawabnya.
William dan Briana keluar dari lift, berjalan bersamaan melewati lobi yang ramai dengan karyawan kantor yang sedang beristirahat.
Keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang yang melihat mereka. Terlebih lagi William dan Briana berjalan bersama dengan sesekali melempar senyuman.
"Aku tidak menyangka Liam itu suaminya Nona Briana."
"Astaga! Mereka benar-benar pasangan sempurna."
"Mereka sangat serasi."
"Pasangan yang harmonis."
William dan Briana bisa mendengar para karyawan yang membicarakan mereka tapi mereka memilih mengabaikannya.
Tiba di Pengadilan Agama, William dan Briana diminta menandatangani buku nikah dan beberapa berkas nikah yang perlu tanda tangan mereka.
"Selamat atas pernikahan anda Tuan William dan Nona Briana," ucap pengacara yang mengurus pelegalan pernikahan mereka.
"Terima kasih, Pak, sudah membantu melegalkan pernikahan kami." William menjabat tangan pengacara itu yang terulur di hadapannya.
"Sama-sama Tuan, semoga pernikahan kalian selalu diberikan kebahagiaan," ucap pengacara itu mendoakan.
"Amin," sahut serentak Briana dan William tapi sesungguhnya mereka tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
__ADS_1
Mereka hanya bisa berharap dan selebihnya mereka serahkan pada Yang Maha Kuasa.