Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 25 Bukan Orang Biasa


__ADS_3

"Willy Sayang," panggil Irene saat masuk ke ruang kerja William.


Irene datang membawakan makan siang untuk William. Kepulangan William tentu saja ia ketahui dari Julian yang lebih dulu mengetahuinya.


"Mamah." William bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Irene.


Irene memeluk sayang tubuh William saat pria itu berhenti dihadapannya. Hampir dua bulan lamanya William pergi dari rumah tanpa memberi kabar padanya.


Beruntungnya Irene mengetahui bila William menjadi sopir Briana dan tinggal di rumah Reyhan Anggara, jadi ia tidak begitu mengkhawatirkan pria itu.


"Kamu ke mana saja Nak, Mamah dan Papah mengkhawatirkan mu?" tanya Irene pura-pura tidak mengetahui keberadaan William selama ini.


"Aku baik-baik saja, Mamah tidak perlu mengkhawatirkan ku," ucap William datar.


"Duh kenapa bicaranya seperti itu sih, Nak? Mamah dan Papah kamu benar-benar mengkhawatirkanmu," ucap Irene.


"Aku tahu Mamah mengkawatirkan aku bukan karena cemas, melainkan karena aku belum menikah," ucap William.


"Ya, itu salah satunya. Tapi Mamah benar-benar mengkhawatirkan kamu Willy, Mamah takut terjadi sesuatu padamu saat kamu pergi dari rumah," ucap Irene tapi tidak diherani William.


"Sudahlah, kamu mana percaya bila Mamah benar-benar mengkhawatirkan mu," ucap Irene mengalah.


William memang tidak mempercayai kekhawatiran Irene, karena bagi William, Irene sama saja seperti Julian, sama-sama selalu menyuruhnya menikah.


Irene kemudian menduduki sofa yang ada diruangan itu lalu mengajak William duduk disebelahnya.


"Ayo makan siang Nak." Irene membuka kotak makan siang untuk William kemudian ia sodorkan dihadapan pria itu.


William diam saja tapi ia mendudukkan bokongnya disebelah Irene kemudian mengambil makan siang yang Irene bawakan untuknya.


William memakan makan siang itu dengan pelan tanpa berbicara satu patah katapun. Sedangkan Irene hanya memandangi William yang tengah menikmati makan siang yang ia bawakan.


Setelah memastikan William selesai dengan makannya, Irene segera berbicara lagi.


"Mamah sudah mencari kamu kemana-mana tapi tidak menemukanmu. Memangnya kamu pergi kemana Willy?" tanya Irene lagi pura-pura tidak tahu.


"Aku bekerja menjadi sopir orang kaya," jawab William jujur.


"Benarkah? Mamah kira kamu pergi dari rumah tidak akan lama tapi ternyata kamu pergi hampir dua bulan, sampai-sampai Papah kamu kewalahan mengelola dua perusahaan sekaligus," Irene menjeda ucapannya.


"Apa yang membuat kamu lama pergi dari rumah?" sambungnya dengan bertanya.

__ADS_1


"Aku nyaman menjadi orang biasa," jawab William jujur.


"Tapi kamu bukan orang biasa, Willy. Kamu CEO Will Transport, kamu juga pewaris perusahaan Papah kamu. Kamu tidak boleh lagi pergi seperti itu," ucap Irene.


"Aku tidak akan pergi dari rumah bila kalian tidak terus memaksa aku untuk menikah," ucap William.


"Mamah minta maaf karena itu. Mamah ingin kamu segera menikah atau setidaknya membawa seorang wanita untuk dikenalkan pada kami sebagai kekasihmu, tapi hingga usiamu 30 tahun kamu tidak pernah lagi mengenalkan pada kami karena kamu belum bisa melupakan Sabrina yang sudah meninggalkanmu," ucap Irene.


"Baiklah, aku akan membawa seorang wanita untuk aku kenalkan pada kalian, tapi bukan sebagai kekasihku melainkan sebagai istriku," ucap William tentu saja membuat Irene terperangah.


"Benarkah? Kamu tidak bohong kan Willy?" tanya Irene tak percaya pada perkataan William yang artinya pria itu bersedia untuk menikah.


"Aku sungguh-sungguh akan memperkenalkan seorang wanita pada kalian sebagai istriku," ucap William yang teringat bila dirinya sudah menikahi Briana.


Irene tersenyum lebar, ia senang sekali mendengar ucapan William. Akhirnya putra semata wayangnya akan memperkenalkan seorang wanita sebagai istri padanya.


"Mamah akan menantikannya Willy, kamu jangan pernah membohongi Mamah," ucap Irene yang diangguki oleh William.


*


*


"Emm, saya mau cari sepatu pria." Briana menjawabnya dengan ragu-ragu.


"Ditoko ini sepatunya khusus untuk pria, Mbak, silahkan anda pilih dan lihat-lihat dulu didalam," ucap karyawan toko mempersilahkan Briana masuk ketoko itu.


Briana menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam toko sepatu tersebut.


Wanita itu melihat-lihat sepatu pria disana dan memilihkan sepatu untuk William.


Tidak sengaja mata Briana melihat pada sepasang sepatu sama persis dengan sepatu bolong milik William yang ada di kamarnya.


Briana mendekati sepatu tersebut kemudian mengambilnya untuk melihat harga yang tertera disepatu itu.


Mata Briana terbelalak saat melihat harga pada sepatu yang ia pegang.


"Mbak, apa benar sepatu ini harganya 15 juta?" tanya Briana pada karyawan toko tersebut.


"Benar Mbak, ini harganya 15 juta," jawab karyawan toko tersebut.


"Sepatu seperti ini ada tidak dijual dipasar, Mbak?" tanya Briana yang justru ditertawai karyawan toko disana.

__ADS_1


"Dipasar mana ada yang jual sepatu seperti ini, Mbak. Sepatu ini hanya dijual dimall dan harganya juga tidak semua orang bisa membelinya," ucap karyawan toko.


Briana terdiam dengan pandangan menatap pada sepatu yang sama persis dengan sepatu bolong milik Liam.


'Mungkin sepatu Liam KW atau juga sepatunya pemberian dari orang lain,' batin Briana.


Briana melanjutkan lagi melihat-lihat sepatu disana hingga akhirnya ia menemukan sepasang sepatu yang menurutnya sangat cocok untuk William kenakan.


Bibir Briana tersenyum lebar saat membayangkan sepatu itu melekat dikaki William.


"Saya beli sepatu ini saja Mbak," ucap Briana menunjuk pada sepatu yang ada dihadapannya.


"Baik Mbak, tunggu sebentar ya, sepatunya biar saya bungkuskan dulu," ucap karyawan toko tersebut kemudian mengambil sepatu pilihan Briana lalu membungkuskannya.


Briana membayar sepatu tersebut yang harganya dua kali harga sepatu milik William dirumahnya kemudian membawanya mencari pakaian untuk William.


Hari ini Briana benar-benar menghabiskan waktunya untuk berbelanja kebutuh William karena ia benar-benar berharap William akan kembali.


Briana tidak tahu perasaan apa yang tengah ia rasakan saat ini, yang jelas ia ingin William kembali dan terus bersama dengannya.


Disaat Briana keluar dari dalam mall dengan belanjaan yang penuh ditangannya, Briana tidak sengaja melihat Brian baru saja turun dari mobil.


Brian pergi ke mall untuk mencari sesuatu yang akan ia berikan pada William atas kerja sama yang baru saja ditandatangani pria itu.


"Brian," sapa Briana pada saudara kembarnya.


Brian yang baru menyadari keberadaan Briana segera menghampiri Briana yang berdiri tak jauh dari tempatnya berjalan.


Tiba di hadapan Briana, Brian mengangkat sebelah alisnya saat melihat paper bag yang dijinjing oleh Briana.


"Kamu beli barang untuk siapa?" tanyanya kemudian.


Mendengar pertanyaan dari Brian, Briana segera menyembunyikan paper bag yang ia jinjing dibelakang tubuhnya.


"Ini barang untukku," jawabnya kemudian.


"Masa sih barang untuk mu?" tanya Brian tak percaya.


"Ya, tentu saja ini barang untukku. Kalau bukan untukku lantas untuk siapa lagi aku membelinya," ucap Briana.


"Bisa saja untuk Liam," ucap Brian membuat Briana terbelalak.

__ADS_1


__ADS_2