Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 9 Akan Saya Usahakan


__ADS_3

"Saya minta maaf, karena sudah mengira anda sedang memantau kami," ucap pria yang menuduh Briana.


"Makanya jangan asal nuduh saya mesum. Untuk apa saya memantau kalian para pria sedang buang hajat, tidak ada gunanya." Briana bangkit dari duduknya dengan kesal.


"Sekali lagi kami minta maaf, Mbak," ucap pria yang satunya sedikit membungkukkan tubuhnya.


Briana tidak mengherani lagi perkataan ketiga orang yang sudah menuduhnya mesum itu.


Ia segera pergi dari ruangan itu untuk keluar dari restorant menuju mobilnya yang terparkir diparkiran mobil.


Setibanya di luar restoran Briana melihat William sudah berdiri sembari bersandar dimobilnya. Wanita itu segera menghampiri William dengan wajah yang masih menahan kesal.


"Nona Briana dari mana saja?" tanya William yang sudah lama menunggu Briana disana.


"Kamu nanya saya dari mana? Saya dari tadi mencarimu, Liam. Seharusnya saya yang nanya kamu dari mana saja?" Briana memarahi William, melampiaskan kekesalannya pada pria itu.


"Loh, Nona Briana mencari saya ke mana? Saya dari tadi di sini menunggu anda," jawab William.


Ya. Memang benar sejak tadi William menunggu Briana berdiri bersandar di mobil wanita itu. Tapi orang yang ditunggu oleh William tidak kunjung datang. William juga sudah masuk ke dalam restoran untuk mencari keberadaan Briana di dalam sana, tapi ternyata tidak ada.


Saat William mencari Briana bertepatan dengan wanita itu yang sedang di sidang oleh ketiga orang yang mengiranya mesum.


"Sudahlah, saya malas berdebat denganmu. Cepat bukakan pintu untuk saya," titah Briana kemudian.


"Baik Nona," ucap William.


William kemudian membukakan pintu mobil di mana Briana akan duduk didalamnya. Baru setelahnya Ia masuk kedalam mobil itu mendudukan tubuhnya dibalik kemudi.


"Mau kembali ke kantor atau pulang ke rumah, Nona?" tanya William setelah melajukan mobilnya ke jalanan.


"Pulang," jawab Briana dengan ketus.


"Bukannya tadi pekerjaan anda belum selesai ya. Kenapa Nona mau pulang?" tanya William.


"Suka-suka saya dong mau pulang atau tidak. Kamu disini hanya sopir, tidak usah banyak bicara apa lagi mengenai pekerjaan saya. Kamu tidak akan mengerti sesulit apa pekerjaan saya itu," jawab Briana tak kalah ketus dari sebelumnya.


"Saya kan hanya bertanya, Non." William kembali fokus menatap jalanan.


"Makanya tidak usah banyak tanya. Cukup kamu sopiri saya kemana saya minta," ucap Briana dengan tegas.


"Baik Non," ucap William menurut.

__ADS_1


William tidak bertanya lagi, ia hanya fokus menatap jalanan yang sedang ia lalui membuat suasana di dalam mobil itu begitu sunyi. Baik William maupun Briana sama-sama tidak ada yang bicara.


Briana memilih memainkan ponsel miliknya dari pada mengobrol dengan William.


Baginya William itu pria yang sangat menyebalkan, yang selalu menguras emosinya saat berhadapan dengan pria itu.


Tidak lama kemudian mobil yang dikemudikan oleh William memasuki halaman rumah orang tua Briana.


William membukakan pintu mobil untuk Briana turun, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada wanita angkuh itu.


'Ck! Kalau bukan karena ingin menjadi orang biasa, aku tidak mau menjadi sopir wanita angkuh itu,' batin William dengan pandangan terus memperhatikan Briana masuk ke dalam rumah.


Didalam rumah ternyata kedua orang tua Briana belum tidur, karena waktu baru menunjukkan pukul 09.30 malam.


"Bri, kamu sudah pulang?" tanya Larissa melihat putrinya hendak berlalu melewatinya yang sedang duduk diruang tamu.


Briana menghentikan langkah kakinya.


"Sudah Mom," jawabnya kemudian.


"Tumben sekali pulang awal. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Larissa lagi.


"Daddy ingin bicara denganmu Bri. Kamu duduk dulu di sini," titah Reyhan sedikit meninggikan suaranya karena Briana sudah hendak menaiki anak tangga.


"Iya Dad," ucap Briana.


Wanita itu mau tidak mau kembali menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk di sofa ruang tamu.


Briana menghempaskan tubuhnya untuk duduk di salah satu sofa kosong di sana bersamaan denga William masuk ke dalam rumah itu.


"Liam, kamu juga duduk dulu," titah Reyhan pada William.


"Baik Pak," ucap William kemudian menduduki sofa kosong disebelah Briana.


Setelah memastikan Briana dan William duduk dengan tenang, Reyhan segera mengutarakan apa yang ingin Ia bicarakan pada kedua orang itu.


"Briana, kamu sudah mengenal Liam kan sebagai sopirmu?" tanya Reyhan memastikan.


"Sudah Dad," jawab Briana singkat.


Reyhan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Mulai sekarang dan selanjutnya, kemanapun kamu pergi, kamu akan disopiri serta dikawal oleh Liam," ucap Reyhan.


Briana melirik sekilas pada William yang sedang duduk di sebelahnya. Rasanya ia tidak sudi terus-terusan di sopir oleh pria menyebalkan itu.


"Aku tidak mau dia yang menjadi sopirku, Dad. Apa aku bisa meminta dia digantikan oleh orang lain?" tanya Briana.


"Bukannya tadi siang Daddy sudah memintamu untuk membantu menyeleksi calon sopir untukmu? Tapi kamu sendirikan yang tidak menghadirinya kan. Kamu justru kembali ke kantor tanpa sepengetahuan Daddy. Jadi ... inilah pria yang Daddy pilih sebagai sopirmu. Kamu harus menerimanya," ucap Reyhan.


Briana tidak menyahuti, ia kesal sekali karena permintaannya tidak dikabulkan oleh Reyhan. Ia justru harus menerima William sebagai sopirnya.


"Kamu dengarkan Bri, apa yang tadi Daddy katakan?" tanya Reyhan karena Briana tidak menyehuti ucapannya.


"Dengar Dad," jawab Briana.


"Good," ucap Reyhan.


Pria paruh baya itu kemudian menatap pada William yang duduk di sebelah Briana.


"Bagaimana pengalaman pertama kamu menjadi sopir Briana?" tanya Reyhan.


"Cukup menyenangkan, Pak," jawab William.


"Saya harap kamu akan betah menjadi sopir Briana, mengingat sifat judesnya pasti kamu akan banyak mendapat perkataan kasar darinya," ucap Reyhan yang sudah tahu bagaimana sifat Briana.


William tersenyum paksa. Apa yang dikatakan Reyhan itu memang benar. Baru satu hari ia menjadi sopir Briana, dirinya sudah mendapat perkataan-perkataan kasar dari wanita itu.


Bukan hanya perkataan kasar saja yang sudah William dapatkan, tapi ia juga mendapat cakaran diwajahnya.


"Daddy apa-apan sih. Kalau dia tidak betah menjadi sopirku ya biarkan saja, jangan pakai bawa-bawa aku yang judes segala," ucap Briana tidak terima dikatai judes.


"Bri," tegur Larisaa.


Reyhan menatap tajam pada Briana yang berkata demikian.


"Meski Liam ini hanya sopir, Daddy berharap kamu bisa menghargainya. Selain karena usia Liam lebih tua dari kamu, kamu juga harus belajar menghargai seseorang siapapun itu orangnya," ucapnya kemudian, membuat Briana langsung bangkit dari duduknya.


Wanita itu melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menuju kamarnya yang berada di lantai 2.


"Kamu lihat sendiri kan, bagaimana kelakuan putri saya itu. Saya harap kamu akan tahan dengan sifat angkuhnya sehingga terus bisa menjadi sopir sekaligus pengawal untuknya," ucap Reyhan menatap William.


"Akan saya usahakan, Pak," ucap William.

__ADS_1


__ADS_2