
Ting.
Pintu lift terbuka, Briana dan William keluar dari lift bersamaan untuk menuju kamar presidensial yang letaknya dilantai teratas gedung hotel itu.
"Aww!" Briana menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa?" tanya William.
"Kakiku sakit," jawab Briana meringis menahan sakit dikakinya.
Ya, sejak tadi Briana sudah merasakan bila kakinya sakit karena lecet terlalu lama mengenakan high heels.
"Coba sini aku lihat." William berjongkok di depan Briana.
"Kakimu lecet," ucapnya setelah melepas kedua high heels yang Briana kenakanp.
"Heem." Briana mengangguk.
"Kenapa tidak bilang sejak tadi kalau kakimu lecet," ucap William.
"Kan acaranya belum selesai," ucap Briana.
"Terus kalau acaranya belum selesai kamu tidak melepas high heels walaupun kakimu sudah lecet?" tanya William
Briana mengangguk.
"Aku malu bila harus melepas high heels di depan umum," ucapnya kemudian.
"Tidak perlu melepasnya di depan umum kamu bisa melepasnya dikamar sembari beristirahat," ucap William.
"Aku tidak enak dengan tamu yang datang bila aku tidak mengikuti acara resepsi hingga selesai," ucap Briana.
"Ya sudah, kalau begitu kamu aku gendong ya." William kembali berdiri.
"Tidak usah, aku masih bisa jalan sendiri kok," tolak Briana mengibaskan kedua tangannya.
"Sudah tidak apa-apa ayo aku gendong."
"Tidak usah Liam, aku-. Akkhh!"
Briana terkejut saat tubuhnya digendong ala bridal style oleh William. Briana sontak saja merangkulkan kedua tangannya dileher pria itu.
"High heelsku ketinggalan." Briana menunjuk high heels yang ditinggalkan William di lantai.
"Biarkan saja." William terus berjalan sembari menggendong Briana untuk menyusuri lorong lantai hotel khusus untuk orang-orang penting sepertinya.
__ADS_1
Tiba di kamar, William merebahkan Briana di atas ranjang berseprai putih dengan bertaburan kelopak bunga mawar yang dibentuk love diatasnya.
William memeriksa kaki Briana yang lecet kemudian meniupnya membuat Briana mengulum senyum diperlakukan manis seperti itu.
"Tunggu sebentar aku ambilkan air hangat di kamar mandi," ucap William kemudian bangkit dari duduknya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Karena di dalam kamar mandi tidak ada baskom maupun gayung, William memilih membasahi handuk hotel dengan air hangat, kemudian memerasnya dan membawanya ke hadapan Briana.
Handuk basah itu William tempelkan ke tumit kaki Briana serta jari kelingking wanita itu yang lecet.
"Ssttt. Aww!"
"Perih ya?" tanya William menatap Briana.
Briana mengangguk membuat William mengompres kaki wanita itu dengan hati-hati. Setelahnya William mengeringkan kaki Briana dan meluruskan diatas tempat tidur.
"Terima kasih ya," ucap Briana pada William yang dibalas senyuman oleh pria itu.
"Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu ya." William sudah hendak meninggalkan Briana namun wanita itu mencekal pergelangan tangannya.
"Bantu aku melepas gaun ini," ucap Briana memegang gaun yang masih ia kenakan.
William tak menjawab namun pria itu mendekati punggung Briana dan menurunkan resleting gaun wanita itu.
"Mau ganti baju saja atau mau mandi?" tanya William.
Dengan senang hati William kembali menggendong Briana untuk masuk kedalam kamar mandi. Di sana William membantu melepaskan gaun pengantin Briana secara utuh dan meminta Briana untuk berendam lebih dulu.
William membuka tuxedo yang ia kenakan kemudian ikut masuk ke dalam bak mandi dan berendam bersama dengan istrinya.
Setelah dirasa cukup dengan berendamnya Briana dan William membilas tubuh mereka di bawah kucuran air shower.
"Perlu aku gendong lagi?" tanya William pada Briana yang sudah mengenakan handuk.
"Tidak usah, aku masih bisa jalan sendiri. Kamu selesaikan saja mandimu," jawab Briana pada William yang masih mengguyur tubuhnya.
William mengangguk kemudian lanjut membilas tubuhnya dengan sedikit menggosok. Sedangkan Briana bergegas keluar dari dalam kamar mandi untuk segera mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan.
Briana mengenakan lingerie berwarna hitam tanpa mengenakan bra maupun ****** *****. Sebenarnya Briana malu mengenakan baju haram itu tapi ia ingin membuat kesan malam pertama yang romantis untuk suaminya meski ini bukan yang pertama kali untuk mereka melakukannya.
Briana duduk diatas ranjang dengan punggung ia sandarkan di sandaran ranjang, menunggu William keluar dari dalam kamar mandi.
Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. William keluar dari dalam sana hanya menggunakan handuk sebatas pinggang, menampilkan otot-otot tubuhnya yang kekar.
Briana suka sekali melihatnya ia bahkan tak berkedip melihat otot ditubuh suaminya dan ingin segera merabanya.
__ADS_1
"Kamu menungguku?" tanya William menghampiri Briana sembari tersenyum lebar.
"Iya," jawab Briana malu-malu. Saking malunya Briana menggigit bibir bawahnya.
William duduk di hadapan Briana kemudian mengusap rambut panjang wanita itu. Briana merangkul kan kedua tangannya dileher William kemudian mencium bibir pria itu lebih dulu.
William membalas ciuman Briana dengan tubuh yang ia tempelkan pada tubuh istrinya. Tangannya bergerilya seiring hasrat yang semakin membuncah dalam tubuhnya.
Tangan Briana juga ikut bergerilya meraba otot-otot tubuh pria itu dan sesekali meremasnya.
"Kamu cantik sekali malam ini," ucap William melepas ciuman mereka dan menyatukan keningnya pada kening Briana.
William sudah hendak merebahkan tubuh Briana diatas tempat tidur namun ia urungkan karena terdengar suara ponsel miliknya yang terus bergetar.
"Tunggu sebentar ya aku matikan ponsel dulu," ucap William kemudian meraih ponsel miliknya diatas nakas.
Kening William mengkerut saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari nomor asing yang sama. Pria itu tidak langsung mematikan ponsel namun justru mengecek riwayat panggilan tersebut.
"Siapa yang nelpon?" tanya Briana masih ditempatnya.
William menggeleng namun jari jempolnya terus mengotak atik ponsel miliknya untuk membuka pesan masuk disana.
Lagi-lagi ada nomor asing yang menghubunginya tapi nomor itu mengirimkan pesan padanya membuat pria itu bergegas membukukanya.
Satu pesan berisi sebuah vidio dan satu pesan lagi bertuliskan sebuah alamat rumah sakit terbaik di Jepang.
William segera membuka vidio tersebut dan menontonnya.
JEDER!
Serasa disambar petir tubuh William seketika kaku ditempat melihat vidio yang menampilkan sosok wanita yang ia cintai sedang sekarat. Nafas Willam tersengal dengan jantung berdetak kencang. William kalut, ia juga khawatir.
Tanpa pikir panjang William buru-buru berjalan menghampiri koper miliknya dan mengenakan pakaiannya.
"Liam kenapa pakai baju?"
Pertanyaan Briana itu tidak diherani oleh William, pria itu terus mengenakan seluruh pakaiannya dengan isi kepala memikirkan Sabrina. Dimana Sabrina? Bagaimana keadaannya? Kenapa ia kejang?
Briana memperhatikan William dengan bingung. Ada apa hingga membuat suaminya kalut seperti itu?
Selesai mengenakan pakaian William segera meraih handle pintu, namun langkahnya terhenti saat mendengar Briana berbicara.
"Apa urusan kamu itu sangat penting hingga akan melewatkan malam pengantin kita?" tanya Briana.
"Tentu saja," jawab Willian hendak melangkah keluar tapi terhenti karena Briana berbicara lagi.
__ADS_1
"Kalau aku minta kamu tetap disini apa kamu akan tetap pergi?" tanya Briana.