Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 43 Resepsi


__ADS_3

Briana dan William tengah berada disebuah butik ternama yang memiliki banyak koleksi gaun mewah untuk pesta maupun pernikahan.


Seperti cincin pernikahan mereka yang membeli sudah jadi, Briana dan William juga akan membeli gaun pengantin serta stelan toxedo yang sudah jadi juga.


"Bagaimana gaunnya?" tanya Briana meminta pendapat William.


Briana mencobai gaun pengantin berwarna putih dengan aksen bawahan menjuntai hingga mata kaki dan panjang hingga satu meter kebelakang.


"Gaunnya bagus, kamu juga terlihat cantik saat mengenakannya," jawab William menatap wajah Briana.


Briana tersenyum mendengar pujian dari suaminya tapi sungguh hatinya masih resah dengan seseorang bernama Sabrina.


Tapi kenapa William justru bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Pria itu bahkan memperlakukan dirinya seperti biasanya.


"Apa aku perlu mencoba gaun yang lain?" tanya Briana.


"Tidak perlu. Itu saja sudah bagus," ucap William.


Briana mengangguk kebetulan juga ia menyukai gaun pengantin yang ia cobai sehingga setuju dengan William untuk tidak mencoba gaun yang lain.


Briana meminta William untuk mencobai tuxedo milik pria itu agar bisa melihat seberapa serasinya


pakaian pengantin milik mereka.


Sesuai ekspektasi Briana bila mereka sangat serasi bukan hanya dengan pakaian pengantinnya saja namun juga dengan orangnya.


"Lihat Liam kita serasi sekali." Briana berbicara menghadap cermin yang menampilkan gambar dirinya dan juga William.


Briana langsung merangkul lengan William kemudian menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.


Dengan masih menatap pada cermin William menangkup wajah Briana dengan tangan kirinya.


"Ya, kita memang serasi, kamu harus syukuri itu."


*


*


Hari H resepsi pernikahan tiba.


Resepsi pernikahan William dan Briana diadakan di sebuah hotel bintang 5 milik keluarga Horrison. Konsep resepsi pernikahan itu sangat mewah, dengan semua dekorasi ballroom hotel berwarna putih dan gold.

__ADS_1


Bunga mawar hidup berwarna putih dirangkai dan disusun sedemikian indah. Lampu-lampu kristal bergantungan di atas ballroom menghiasi ruangan yang semula biasa menjadi luar biasa indahnya.


Semua yang mempersiapkannya ialah Irene dan juga Larissa yang dibantu oleh keluarga mereka dan WO ternama.


Acara resepsi itu dihadiri oleh banyak orang mulai dari kalangan pengusaha maupun keluarga besar kedua mempelai.


Pintu ballroom terbuka memperlihatkan Briana dan Reyhan tengah berdiri disana. Briana didampingi oleh Reyhan masuk ke dalam ballroom menuju panggung kecil melewati kelopak bunga mawar yang sengaja ditaburkan untuk mereka injak.


William sudah berada lebih dulu di depan panggung yang sedang dituju oleh Briana dan juga Reyhan.


Tiba di hadapan William, Reyhan mempersatukan kedua tangan pengantin sembari berpesan.


"Jagalah putriku seperti aku menjaganya. Sayangilah putriku seperti aku menyayanginya.


Cintailah putriku seperti suami yang mencintai istrinya. Prioritaskan putriku seperti suami yang memprioritaskan istrinya. Perlakukan putriku sebagaimana seharusnya suami memperlakukan istrinya."


"William Horrison aku serahkan Briana Alesya Darwin pada engkau yang telah menjadi suaminya."


Air mata Briana luruh seketika mendengar pesan ayahnya pada pria yang sudah menjadi suaminya.


"Aku berjanji akan menjaganya, menyayaninya, dan mencintainya. Aku berjanji akan memprioritaskan dan memperlakukan sebagaimana seorang suami memprioritaskan dan memperlakukan istrinya."


"Aku terima putrimu yang telah menjadi istriku untuk menjalin bahtera rumah tangga bersamaku."


Reyhan menganggukkan kepala, kemudian melepas kedua tangan pengantin yang sudah saling bergandengan.


Pria setengah baya itu menepuk bahu menantunya, kemudian membalikan tubuh dan berjalan ke arah meja Larissa dan Brian duduk.


William menyeka lembut air mata Briana dan tersenyum pada istrinya.


"Apa kamu sedih karena telah dilepas oleh ayahmu?" tanya William yang dijawab anggukan kepala oleh Briana.


"Jangan bersedih lagi, mulai sekarang aku akan menepati janji yang telah aku ucapkan tadi," ucap William dan hendak mencium bibir Briana.


"Omo-omo, rupanya pengantin pria kita sudah tidak sabar ya," goda pembawa acara.


Ucapan pembawa acara itu menyadarkan William yang hendak mencium Briana. Pengantin baru itu tersenyum kikuk dan mengedarkan pandangan ke seluruh tamu undangan yang sedang senyum-senyum menatap ke arah mereka.


Briana dan William menganggukkan kepala memberi hormat pada semua orang disana.


"Bagaimana Tuan, bisa kita lanjutkan acara resepsinya?" tanya pembawa acara.

__ADS_1


"Ya silahkan dilanjutkan," jawab William.


"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan acara resepsi. Silakan Tuan William dan Nyonya Briana naik ke atas panggung," ucap pembawa acara.


William dan Briana mengikuti arahan pembawa acara untuk naik keatas panggung. Disana mereka diminta menceritakan perjalanan kisah cinta yang berawal dari William yang bekerja sebagai sopir Briana.


Hal itu tentu saja membuat William dan Briana terkejut karena tidak tahu bila mereka akan diminta menceritakannya. Semua konsep pernikahan bukan mereka yang mengatur.


Meski terkejut tapi Briana menceritakan juga detail perjalanan cinta mereka pada semua orang. Gambar dilayar lebar juga menampilkan foto-foto William dan Briana yang entah dari mana foto itu berasal.


Selesai menceritakan, Briana dan William menyalimi kedua orang tua mereka baru setelahnya menyalimi seluruh orang yang hadir di acara tersebut.


"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian selalu diberi kebahagiaan," ucap Larissa mencium pipi kanan dan kiri Briana kemudian pipi kanan dan kiri William.


"Terima kasih Mom."


Hal itu dilakukan juga oleh Irene saat memberikan selamat pada anak dan menantunya. Sedangkan Julian dan Reyhan menyalimi William dan memeluk pria itu.


Briana memeluk erat pada ayahnya, rasanya ia masih tidak ingin berpisah dengan ayahnya. Ia masih ingin dimanja olehnya tapi Briana sadar bila ia kini sudah menikah.


Selesai menyalimi kedua orang tua mereka, William dan Briana lanjut menyalimi seluruh keluarga besar yang hadir dalam acara tersebut.


Tak lupa juga mereka menyalimi Brian yang hadir seorang diri tanpa pasangan. Padahal Brian sudah mengajak Linda untuk menghadiri resepsi pernikahan Briana dan William namun wanita itu menolak dengan alasan tidak bisa meninggalkan pekerjaan karena semua pekerjaan Briana diserahkan padanya selaku sekretaris wanita itu.


"Mana pasanganmu, Brian?" tanya Briana dengan nada mengejek.


"Diam kau! Sudah tahu aku jomblo, masih saja menanyakan pasanganku," ucap Brian ketus.


"Oohh ya ampun, kasihannya saudaraku ini." Briana mengelus dagu Brian namun langsung ditepis oleh pria itu.


"Sekali lagi kau mengejekku, akan aku suruh William meninggalkanmu," ancam Brian membuat Briana terbelalak.


Bugh!


Akkhh!


Briana yang tidak terima dengan ancaman Brian segera menginjak kaki pria itu menggunakan high heels membuat Brian memekik kesakitan.


"Bri," tegur William.


"Brian duluan yang sudah mengancam aku Liam," ucap Briana.

__ADS_1


"Dasar bar-bar. Aku doakan semoga Liam balikan dengan masa lalunya," ucap Brian kesal tapi mulutnya buru-buru ia bekap setelah sadar dengan ucapannya.


__ADS_2