Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 30 Semoga Kamu Bahagia


__ADS_3

William tersenyum miring mendengar perkataan Brian baru saja.


"Tidak mungkin Briana yang angkuh dan sombong itu mencintaiku," ucap William tak percaya.


William tidak tahu saja apa yang Brian katakan itu benar adanya. Briana sudah mulai mencintainya bahkan sedang menyusulnya kealamat palsu yang ia berikan.


"Kalau kamu tidak mempercayai perkataanku bagaimana kalau kita menghubunginya?" tawar Brian.


"Emm, boleh. Aku juga ingin mendengar suaranya," ucap William.


"Wah wah wah, apa ini? Sepertinya kamu juga mulai mencintai Briana?" tanya Brian menggoda William.


"Entahlah Brian, tapi aku memang merindukan saat-saat dia mengomeliku," ucap William berterus terang.


"Kalau begitu kamu saja yang menghubunginya," ucap Brian memberi saran.


William mengangguk setuju.


"Berikan nomor ponsel Briana padaku," pintanya kemudian.


"Tentu saja," ucap Brian kemudian mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana dan mengirimkan kontak Briana pada William.


William bergegas membuka ponsel miliknya untuk melihat kontak Briana yang Brian kirim.


Tanpa berfikir panjang William segera menghubungi nomor ponsel Briana melalui panggilan Whatsapp.


Sayangnya Briana yang baru saja menghentikan pencarian alamat rumah William itu, sudah terlelap pulas dan tidak mendengar suara ponselnya berdering.


"Tidak dijawab," ucap William.


"Coba biar aku saja yang menghubunginya." Brian lantas menghubungi nomor ponsel Briana tapi sama seperti William, panggilan teleponnya tidak juga mendapat jawaban.


"Ya kan, tidak dijawab," ucap William.


"Tidak biasanya Briana mengabaikan panggilan telepon dariku," gumam Brian.


"Mungkin dia sudah tidur," ucap William.


Brian melihat jam tangan yang melingkar dilengannya, disana waktu menunjukkan pukul 21.00.


"Baru jam sembilan masa dia sudah tidur," ucap Brian.


"Iya ya Brian. Tumben sekali Briana jam sembilan sudah tidur," ucap William yang tahu bila selama ini Briana selalu tidur larut malam.

__ADS_1


"Besok aku akan pulang kerumah orang tuaku untuk mengundang mereka keacara peresmian perusahaan. Disana aku akan melihatkan Briana untukmu," ucap Brian.


"Terima kasih Brian, kamu tahu saja bila aku tidak mungkin melihatnya sendiri kerumah orang tuamu," ucap William.


"Memangnya kamu tidak akan kembali kerumah orang tuaku?" tanya Brian.


"Entahlah Brian, semuanya tergantung pada Briana sendiri," jawab William.


Brian tidak langsung menjawab, ia justru menyandarkan tubuhnya dikursi yang sedang ia duduki.


"Maksud kamu bila Briana mau menghargaimu sebagai suami, maka kamu akan kembali kerumah orang tuaku?" tanya Brian memastikan.


"Salah satunya itu, tapi aku ingin mematahkan sikap angkuhnya terlebih dahulu agar ia tahu diatas langit masih ada langit," jawab William.


"Itu memang harus kamu lakukan agar Briana tidak bersikap seperti itu lagi padamu," ucap Brian mendukung William.


Setelahnya kedua pria itu membubarkan diri untuk pulang kerumahnya masing-masing. Brian pulang keapartement miliknya, sedangkan William pulang kerumahnya sendiri.


Sejak kembalinya William ketempat asalnya, pria itu tidak kembali kerumah kedua orang tuanya. William kembali kerumahnya sendiri dan justru orang tuannya-lah yang kerap kali mengunjunginya.


Seperti sekarang ini kedatangan William sudah disambut oleh kedua orang tuannya yang sejak sore sudah tiba dirumahnya.


"Ya ampun Willy, Mamah dan Papah dari tadi datang kerumahmu itu agar bisa menghabiskan waktu bersama kamu tapi kamu justru pulang malam," omel Irene.


"Brian, anak pertamanya Reyhan?" tanya Julian memastikan.


"Betul Pah," jawab William kemudian menduduki sofa kosong disana.


"Pantas saja beberapa kali Papah melihat Brian datang kekantormu, ternyata dia sedang menjalankan bisnis transportasi sepertimu," ucap Julian.


"Perusahaan Brian sebentar lagi akan diresmikan, Papah tunggu saja undangannya," ucap William.


"Wah, bukannya itu adalah kesempatan kamu mencari calon istri ya. Disana pasti banyak klien wanita," ucap Julian.


"Berhenti membahas itu, Pah," ucap William cepat.


"Papah tidak akan berhenti sebelum kamu menikah. Tidak ada salahnya kamu sekalian mencari calon istri disana, barang kali saja ada yang cocok denganmu," ucap Julian.


William memutar bola matanya jengah, kemudian bangkit dari duduknya berniat hendak pergi kekamar.


"Kapan kamu akan mengenalkan seseorang sebagai istrimu, Willy?" tanya Irene membuat William mengehentikan langkah kakinya.


"Secepatnya," jawab William tanpa membalikkan tubuh.

__ADS_1


William melanjutkan langkah kakinya kemudian menaiki anak tangga untuk segera masuk kedalam kamarnya.


Julian dan Irene yang ditinggal William hanya bisa menggelengkan kepala.


"Tuh kan Mah, Willy pasti bohong akan mengenalkan seseorang pada kita sebagai istrinya. Dia kekasih saja tidak punya apa lagi istri," ucap Julian.


"Iya ya Pah, Willy kekasih saja tidak punya apa lagi istri. Bisa-bisanya Mamah mempercayai ucapannya," ucap Irene tak habis fikir.


"Papah sudah kehabisan cara membujuknya Mah." Julian memijit pelipisnya.


"Mamah juga tidak tahu harus bagaimana lagi kita membujuk Willy agar mau menikah. Semuanya sudah kita lakukan tapi tetap saja tidak berhasil," keluh Irene.


"Anak kita itu benar-benar bikin sakit kepala saja. Untung cuma punya anak satu, bagaimana bila dulu kamu melahirkan 5 anak yang memiliki sifat seperti Willy," ucap Julian.


"Iihh, Papah." Irene mencubit Julian dengan wajah yang memberengut.


"Loh memang iya kan. Bayangkan saja bagaimana jadinya kalau kita benar-benar memiliki 5 anak seperti yang kamu inginkan dulu dan mereka semua sama seperti Willy," ucap Julian.


"Berarti ada untungnya juga ya Pah, setelah melahirkan Willy Mamah tidak bisa hamil lagi," ucap Irene.


"Nah, semuanya memang harus disyukuri," ucap Julian yang diangguki kepala oleh Irene.


*


*


William yang sudah sampai dikamarnya tidak langsung beristirahat, pria itu membersihkan diri terlebih dahulu baru setelahnya duduk diatas ranjang.


William melihat figura diatas nakas yang berisi foto Sabrina dan dirinya membuatnya segera meraih figura tersebut.


"Bagaimana kabarmu sekarang, Sab?" tanya William dengan jari jempol mengusap foto wajah Sabrina.


"Apa sekarang kamu sudah menikah dan melupakan janji kita?" tanyanya berbicara pada figura tersebut.


"Bila memang benar kamu sudah menikah, semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu dan jangan salahkan aku bila aku disini juga menikah. Aku lelah menunggumu tanpa ada kepastian kapan kamu kembali," ucap William yang benar-benar tidak tahu bila Sabrina masih terbaring koma dirumah sakit.


Entah apa jadinya bila William tahu Sabrina hingga kini masih koma dan belum sadarkan diri.


Puas berbicara dan memandangi wajah Sabrina, William meletakkan kembali figura tersebut ketempat asalnya kemudian mengambil figura disebelahnya berisi foto pernikahannya dengan Briana.


Foto tersebut Larissa berikan padanya saat ia pamit pulang kampung. Ada untungnya juga Larissa mengambil foto saat ia dan Briana menikah sehingga kini pria itu bisa memandangi wajah Briana dalam foto tersebut.


"Kau gadis angkuh dan sombong, sebentar lagi akan aku patahkan keangkuhan dan kesombonganmu," ucap William menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2