Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 31 Siapa kau?


__ADS_3

"Pagi Mom, Dad." Sapa Brian yang baru saja tiba dirumah Reyhan. Brian juga menyalimi tangan kedua orang tuannya dan ikut duduk diruang keluarga.


Kebetulan hari ini hari minggu sehingga kedua orang tua Brian itu tengah duduk bersantai disana.


"Syukurlah kamu masih ingat rumah," sindir Larissa.


"Tentu saja aku ingat rumah, Mom. Aku hanya sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk peresmian perusahaanku," ucap Brian.


"Memangnya kapan perusahaanmu akan diresmikan?" tanya Reyhan.


"Tiga hari lagi, dan hari ini undangan peresmiannya akan disebarkan," jawab Brian.


"Semoga saja Briana sudah pulang ya kalau tiga hari lagi supaya dia bisa ikut menghadiri acara peresmian perusahaanmu," ucap Larissa.


"Loh, memangnya Briana kemana Mom?" tanya Brian tidak tahu.


"Kamu tidak tahu ya Brian, Briana kan menyusul Liam ke Kalimantan," ucap Larissa memberi tahu.


Brian melebarkan matanya bahkan bangkit dari duduknya tapi tidak lama kemudian pria itu tertawa terbahak-bahak.


Hahaha.


Larissa dan Reyhan saling pandang melihat Brian tertawa lepas setelah mendengar Briana menyusul William ke Kalimantan.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Larissa heran tapi Brian masih saja tertawa.


"Brian, apa yang kamu tertawakan, memangnya ada yang lucu?" tanya Larissa.


Brian menggelengkan kepala sembari duduk ditempat sebelumnya dan berusaha menghentikan tawanya.


"Ppttt, Hahaha."


Sekuat tenaga Brian menahan tawanya tapi tetap saja ia terus saja tertawa, menertawakan Briana yang menyusul William ke Kalimantan padahal orangnya ada di Jakarta.


"Brian," tegur Larissa.


Hemmpp, hufftt.


Brian menarik nafasnya terlebih dahulu kemudian menghembuskannya, terus mengulangi seperti itu hingga tawanya mereda.


"Fix kamu benar-benar sudah mencintai Liam, Bri," gumamnya pelan.


"Kapan Briana pergi ke Kalimantan, Mom?" tanya Brian pada Larissa kemudian.


"Kemarin lusa dia pergi bersama Linda," jawab Larissa.


"Memangnya Briana tahu alamat rumah Liam di Kalimantan?" tanya Brian.


"Briana diberi alamat rumah Liam oleh Daddy mu," ucap Larissa memberitahu lagi.


Brian mengalihkan pandangannya menatap pada Reyhan yang sedang duduk di sebelah Larissa.


"Daddy tahu alamat rumah Liam dari mana?" tanya Brian.

__ADS_1


"Dari Liam sendiri," jawab Reyhan.


"Memangnya kapan Liam memberikan alamat rumanya pada Daddy?" tanya Brian lagi.


"Waktu dia baru kerja sebagai sopir-nya Briana," jawab Reyhan.


Brian menggelengkan kepala, tak habis pikir pada William yang benar-benar menyembunyikan identitasnya pada semua orang bahkan memberikan alamat palsu.


"Apa Briana di Kalimantan sudah menemukan alamat yang dia cari?" tanyanya kemudian.


"Daddy kurang tahu Brian, seharian kemarin Briana tidak ada mengabari kami," ucap Reyhan.


"Bagaimana kalau aku hubungi dia?" tanya Brian.


"Ya, hubungilah Briana," titah Reyhan.


Brian menganggukan kepala dan segera menghubungi Briana melalui panggilan video.


Brian melambaikan tangan pada kamera ponselnya saat panggilan video tersebut dijawab oleh Briana.


"Hai Bri, sedang mencari Liam ya?" tanya Brian menggoda Briana.


"Diam kau!" pekik Briana dari seberang telepon.


"Akui saja bila sekarang kamu sudah mencintai suamimu," goda Brian dengan sebelah alis yang ia naik turunkan.


"Tidak! Aku tidak mencintainya. Aku mencari Liam ke Kalimantan karena mengkhawatirkannya saja, tidak lebih." Briana mengelak.


"Astaga, Bri, kamu masih saja mengelak bila itu tanda-tanda cinta." Brian geleng-geleng.


"Terserahmu saja Bri, tapi aku doakan semoga kamu bisa menemukan alamat rumah Liam," ucap Brian.


"Apa maksudmu?" tanya Briana tak mengerti.


"Tidak apa-apa aku hanya mendoakan saja," ucap Brian.


"Dasar kau ini, aku tidak butuh doa darimu karena aku pasti akan menemukan alamat rumah Liam," ucap Briana dengan yakin.


"Ya semoga saja," ucap Brian.


"Kalian ini, kenapa jadi berdebat di telepon sih?Mana sini ponselmu." Larissa merebut ponsel Brian dari tangan pria itu.


Kini ponsel Brian sudah ada di tangan Larissa, dan wanita paruh baya itu sedang menatap wajah Briana dilayar ponsel tersebut.


"Bagaimana pencarian alamat rumah Liam?" tanya Larissa.


"Aku belum menemukannya Mom, tapi aku sudah berada di kabupaten yang ada di alamat itu," jawab Briana.


"Benarkah? Semoga saja hari ini kamu bisa menemukan alamat rumah Liam ya," ucap Larissa.


"Iya Mom semoga saja," ucap Briana.


"Oh iya Bri, tiga hari lagi Brian akan meresmikan perusahaannya, dan Mommy harap kamu sudah pulang dari Kalimantan bersama Liam ke Jakarta," ucap Larissa.

__ADS_1


"Akan aku usahakan Mom," ucap Briana.


"Ya sudah kalau begitu Mommy tutup ya panggilan teleponnya, kamu jangan lupa sarapan dulu bila akan pergi mencari alamat rumah Liam," ucap Larissa mengingatkan Briana.


"Iya Mom," ucap Briana.


Panggilan Vidio tersebut berakhir, tapi diponsel Briana ada lagi panggilan masuk dari nomor tak dikenal.


William menghubungi Briana kembali karena tadi malam panggilan teleponnya tidak dijawab oleh wanita itu.


Briana mengerutkan keningnya saat melihat nomor tak dikenal itu sama dengan nomor yang tadi malam menghubunginya.


"Ini nomor siapa?" tanya Briana pada dirinya sendiri.


Nomor whatsapp William tidak ada foto profilnya sehingga Briana tidak mengetahui bila yang menghubunginya itu ialah pria yang sedang ia cari alamat rumahnya.


Briana memilih mengabaikan panggilan telepon tersebut tapi William terus menghubunginya.


"Ini nomor siapa sih nelpon terus?" tanyanya lagi.


Pada akhirnya Briana menjawab juga panggilan telepon tersebut.


"Halo," ucap Briana dengan ketus.


"Iya Halo, bisa bicara dengan Nona Briana Alesya Darwin," ucap William disebrang telepon dengan suara yang ia samarkan.


"Ini siapa?" tanya Briana tidak mengenali suara samar William.


"Saya penggemar beratmu Nona Briana," jawab William menahan tawanya.


"Bisa anda katakan saja siapa anda sebenarnya?" tanya Briana yang sudah mulai kesal pada si penelpon.


"Sudah saya katakan saya penggemar beratmu, Nona Briana," ucap William lagi.


"Saya tidak butuh penggemar. Cepat katakan siapa kamu atau saya akhiri sambungan teleponnya," ucap Briana.


"Ya ampun Nona, jadi wanita itu jangan galak-galak nanti tidak ada pria yang mau dengan anda loh," ucap William dengan suara samarnya.


"Saya tidak perduli," ucap Briana.


"Yakin tidak perduli? Kalau Nona menjadi perawan tua bagaimana?" tanya William.


"Hei! Kau doain saya perawan tua?" tanya Briana tidak terima.


"Bukan Nona. Saya kan hanya bertanya kalau Nona menjadi perawan tua bagaimana?" ucap William mengulangi pertanyaannya.


"Hehh, orang tidak jelas! Saya tidak butuh basa basi darimu, cepat katakan siapa kamu atau aku cakar wajahmu bila berhasil menemukanmu," ancam Briana yang sudah kesal pada si penelpon.


William di seberang telepon membekap mulutnya menahan tawa membayangkan wajah kesal Briana saat ini.


"Siapa kau?" tanya Briana.


Bukannya menjawab William justru mematikan sambungan telepon tersebut karena sudah tidak tahan dengan tawa yang sejak tadi ia tahan.

__ADS_1


Hahaha.


__ADS_2