
Briana keluar dari kamar hotel membawa dua buah koper miliknya dan juga milik William.
"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Briana menghentikan langkah kakinya saat melihat Reno duduk disofa yang ada dilorong lantai itu.
Reno buru-buru berdiri kemudian menghadap Briana dan mengangguk hormat terlebih dahulu.
"Saya menunggu anda keluar Nyonya," ucap Reno.
"Sudah saya katakan saya ingin Liam yang menjemput saya. Lebih baik saya pulang sendiri dibandingkan harus diantar pulang olehmu," ucap Briana ketus.
Setelah mengatakan itu Briana kembali berjalan menggeret kedua koper di tangan kiri dan kanannya.
"Nyonya tolong dengarkan saya. Ini perintah dari Tuan, anda harus mau pulang bersama saya," ucap Reno tapi tidak diherani oleh Briana.
"Nyonya," panggil Reno mengejar Briana tapi wanita itu masih saja terus berjalan.
"Nyonya saya minta kerja samanya. Bila anda tidak membiarkan saya mengantar anda pulang, bisa-bisa saya akan dimarahi Tuan William."
Briana menghentikan langkah kakinya, kemudian membalikan tubuh menghadap pada Reno yang berada di belakang tubuhnya.
"Baiklah saya akan membiarkanmu mengantar saya pulang, tapi dengan satu syarat ...." Briana tidak meneruskan perkataannya.
Wanita itu menatap pada Reno untuk melihat ekspresi wajah pria itu. Bisa Briana lihat bila Reno meneguk salivanya dengan kasar karena pria itu sudah tahu syarat apa yang akan Briana katakan.
"Beritahu tahu saya urusan penting apa yang Liam kerjakan dan kemana dia pergi," ucap Briana.
Reno serba salah, ia tak mungkin mengatakan bila William pergi ke Jepang karena atasannya itu sudah melarangnya, tapi bila ia tidak mengatakannya maka Briana tidak mau diantar olehnya dan bila William tahu ia pasti kena marah.
"Cepat katakan ada urusan apa dan kemana Liam pergi?" tanya Briana mendesak Reno untuk berbicara.
"Maaf, Nyonya, saya tidak bisa mengatakan ke mana beliau pergi," ucap Reno.
"Kalau begitu saya tidak mau diantar pulang olehmu." Briana melanjutkan langkah kakinya.
Reno kembali mengejar Briana dan membujuk wanita itu agar mau ia antar pulang. Tapi Briana tidak mengherani bujukan Reno hingga pada akhirnya pria itu mengatakan juga.
"Ke Jepang. Tuan William tadi malam pergi ke Jepang, saya sendiri yang mengantarkan beliau hingga bandara," ucap Reno memberitahu Briana.
Briana membalikan tubuhnya.
__ADS_1
"Ada urusan apa dia ke Jepang?" tanya Briana.
"Kalau itu saya benar-benar tidak tahu Nyonya, karena beliau tidak mengatakan pada saya," jawab Reno.
"Saya mohon anda mau saya antar pulang ke rumah," ucapnya lagi.
Briana tampak berfikir, ia bisa melihat bila Reno tidak membohonginya. Pria itu benar-benar tidak mengetahui ada urusan apa William ke Jepang.
Tapi Briana ingin tahu, sayangnya ia tidak tahu ke mana ia harus mencari tahu.
"Bawa semua koper ini." Briana berjalan lebih dulu setelah memberikan kedua koper di tangannya pada Reno.
Reno mengikuti Briana dari belakang dengan membawa kedua koper ditangannya. Dalam benak Reno syukurlah Nyonya-nya itu mau ia antar pulang.
*
*
William mengulurkan tangan menyentuh jendela kaca yang memperlihatkan Sabrina tengah berjuang bertahan hidup di dalam sana.
Air mata pria itu tak tertahan lagi, ia tak kuasa melihat wanita yang ia cintai semenderita itu. Ia tidak bisa membayangkan bila suatu saat Sabrina sadar dari komanya dan mengetahui bila dirinya sudah menikah dengan wanita lain. Sabrina pasti semakin menderita.
Pria itu kemudian menatap pada kedua orang tua Sabrina yang berada di sebelahnya.
"Kenapa kalian tidak memberitahu aku bila Sabrina koma karena kecelakaan yang kami alami?" tanya William.
Ada rasa marah pada Vania dan Hikaru yang sudah menyembunyikan kondisi Sabrina darinya, tapi ia sadar mereka melakukan itu pasti ada alasannya.
"Kami hanya tidak ingin Sabrina berhubungan lagi denganmu," ucap Hikaru.
William menggeleng.
"Kami saling mencintai, kalian tidak seharusnya seperti itu," ucap William.
"Tidak harus seperti itu? Lalu kami harus seperti apa? Membiarkan Sabrina menjalin hubungan denganmu yang sudah merenggut kesuciannya, dan membuatnya sekarat dirumah sakit?" tanya Hikaru yang benar-benar marah pada William.
William terdiam, ia juga menyalahkan dirinya sendiri. Tubuhnya luruh kelantai. Ia memohon dan meminta maaf pada Hikaru dan Vania dihadapan keduanya.
"Aku mohon maafkan aku Om, Tante," ucap William.
__ADS_1
"Memangnya kamu pikir kami akan semudah itu memaafkanmu? Tidak Willy! Kami tidak akan pernah memaafkanmu. Saya juga tidak akan mengizinkanmu membesuk dan menyentuh seujung kuku Sabrina," ucap Hikaru.
William menggeleng, ia tidak masalah bila kedua orang tua Sabrina tidak bisa memaafkannya, tapi ia ingin agar kedua orang tua itu bisa mengizinkannya masuk ke dalam ruang ICU untuk membesuk Sabrina.
Ia merindukan Sabrina. Selama ini ia salah paham mengira Sabrina sengaja menghilang karena sudah menikah dengan pria lain dan meninggalkannya saat ia masih di penjara. Tapi ia salah. Pada kenyataannya justru ia yang menikah dengan wanita lain.
"Aku mohon izinkan aku masuk ke dalam untuk membesuknya," mohon William.
"Apa kamu bisa mengembalikan Sabrina sembuh seperti sedia kala? Bila iya, kamu boleh membesuknya," ucap Hikaru.
William terdiam, ia tidak bisa menyembuhkan Sabrina apa itu artinya ia tidak boleh membesuknya.
William menggeleng lagi, meski ia tidak bisa menyembuhkan Sabrina tapi ia harus bisa membesuknya.
William ingin berbicara dengan Sabrina berharap perkataannya bisa didengar oleh Sabrina yang berada dialam bawah sadar.
Apapun yang terjadi, meski kedua orang tua Sabrina melarangnya untuk membesuk Sabrina, ia akan tetap membesuknya, tekad William. Tapi tanpa di duga Vania justru membantunya berdiri dan membawa William duduk dikursi tunggu.
"Kamu boleh membesuknya, tapi nanti setelah dokter dan perawat selesai memeriksa Sabrina," ucap Vania.
Vania tidak ingin menyia-nyiakan keberadaan William di Jepang. Ia ingin Sabrina segera sadar. Ia yakin dengan kehadiran William di sisi Sabrina wanita itu akan segera sadar.
"Terima kasih Tante," ucap William.
Vania menatap suaminya.
"Bukannya sejak kemarin kamu terus menghubungi Willy untuk datang kemari. Tapi kenapa setelah Willy disini kamu melarangnya masuk? Biarkan dia masuk Mas, biarkan dia membesuk Sabrina," ucap Vania pada suaminya.
Hikaru tak menjawab, ia diam saja tapi ia tidak akan melarang lagi William untuk masuk.
Tidak lama kemudian pintu ruang ICU dibuka oleh dokter Kei dan dua orang perawat yang keluar dari dalamnya.
"Bagaimana keadaan Sabrina, dok?" tanya William.
Dokter muda itu menatap William terlebih dahulu kemudian berganti menatap kedua orang tua Sabrina mengisyaratkan bila ia bertanya 'dia siapa?'.
"Dia kekasih Sabrina," ucap Vania memberitahu dokter Kei.
"Baiklah karena anda kekasih Sabrina, jadi saya akan menjawab pertanyaan anda."
__ADS_1