Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 44 Bahagia Diatas Penderitaan Sabrina


__ADS_3

Briana yang kesal dengan Brian buru-buru pergi dari sana menuju meja prasmanan untuk mencari hidangan yang sudah disediakan.


Berbagai macam makanan Briana masukkan kepiringnya, dia akan melampiaskan rasa kesalnya pada makanan yang ada di hadapannya.


Setelah selesai mengambil makanan, Briana duduk seorang diri di meja kosong. Briana memulai makannya.


William sendiri masih menatap tajam pada Brian yang asal bicara, ia tak menyukainya.


"Jaga ucapanmu, Brian. Jangan sampai karena kamu asal bicara itu jadi kenyataan," ucap William memperingati Brian.


"Maaf, aku tidak sengaja berkata seperti itu. Sungguh aku tidak bermaksud apa-apa dan mendoakan Briana yang buruk. Aku juga ingin dia bahagia bersamamu," ucap Brian tak enak hati.


"Jangan juga kamu mengatakan tentang masa laluku pada Briana, karena aku tidak mau dia tahu. Yang lalu biarlah berlalu, aku ingin menjalani rumah tangga bersamanya tanpa ada bayang-bayang masa lalu," ucap William.


"Iya aku mengerti. Aku tidak akan mengatakan pada Briana," ucap Brian.


William bergegas pergi meninggalkan Brian, namun bukan menghampiri Briana yang sedang makan melainkan naik keatas panggung.


Dipanggung itu sudah tersedia piano yang akan ia gunakan untuk melantunkan musik. William berniat akan mempersembahkan sebuah lagu untuk istrinya.


Semua pasang mata tertuju pada William yang kini sudah duduk didepan piano, tapi tidak dengan Briana. Wanita itu masih menikmati makanan yang ada dipiringnya tanpa menghiraukan disekitarnya.


Memang akhir-akhir ini Briana akui ia lebih suka makan. semua makanan terlihat enak di matanya sehingga ia tidak seperti dulu yang suka pilih-pilih makanan.


Nada piano mulai terdengar namun Briana masih tetap fokus pada makanannya, hingga suara William yang bernyanyi terdengar olehnya membuat Briana segera mengalihkan pandangannya.


"Liam." Briana yang hendak menggigit ayam goreng tercengang dengan mulut terbuka melihat William sedang menyanyikan lagu romantis dengan diiringi piano yang pria itu mainkan.


"Astaga! Briana! Lihatlah Liam nampak mempesona di atas panggung, tapi kamu justru acak-acakan begini." Larissa meletakkan ayam goreng yang dipegang Briana ke piring kemudian mengelap mulut dan pipi Briana yang celemotan.


"Mom, Liam bisa nyanyi? Dia juga bisa main piano?" tanya Briana tak percaya.


"Kamu sih sejak tadi malah makan saja. Sudah sana datangi suamimu." Larissa mendorong pelan tubuh Briana.


Briana berjalan ke arah panggung menghampiri William yang tengah bernyanyi dan bermain piano.


Tiba dipanggung Briana diberi mikrofon oleh pembawa acara untuk ikut bernyanyi dengan William. Kini sepasang pengantin baru itu bernyanyi bersama menyanyikan lagu romantis yang tengah William nyanyikan.

__ADS_1


Ya, William menyukai lagu romantis karena ia juga sesungguhnya ialah pria romantis, hanya saja Briana tidak mengetahuinya.


William tersenyum rupanya Briana menyukai lagu yang ia persembahkan untuknya bahkan wanita itu ikut bernyanyi bersamanya. Sembari bernyanyi Briana merangkulkan tangannya ke bahu William yang masih memainkan piano sembari bernyanyi.


Pasangan itu tentu saja sangat dikagumi oleh orang-orang yang melihat mereka. Baik William maupun Briana keduanya terlihat saling mencintai.


Di akhir lagu yang mereka nyanyikan William memelankan piano sesuai dengan irama lagu. Briana memeluk William dari belakang.


"Aku mencintaimu," ucapnya.


William menoleh dan tersenyum.


"Aku juga mencintaimu."


Betapa bahagianya Briana mendengar kata cinta yang terlontar dari mulut William. Briana beranggapan bila cintanya kini tidak lagi bertepuk sebelah tangan karena William kini mencintainya juga.


Sorak tepuk tangan dari para tamu undangan menyadarkan William dan Briana bila mereka tengah berada di hadapan banyak orang.


Keduanya tersenyum malu mendengar orang-orang yang menggodanya.


*


*


Di sebuah kamar hotel presidensial, ponsel William bergetar sejak tadi.


Kamar itu akan ditempati oleh William dan Briana menghabiskan malam pengantin disana.


William sengaja meninggalkan ponselnya agar ia bisa fokus dengan acara resepsi pernikahan tanpa gangguan dari orang-orang yang menghubunginya.


Meski William tahu bila ada panggilan masuk ke ponselnya, belum tentu juga pria itu akan mengangkatnya karena nomor tersebut ialah nomor tak dikenal.


"Brengsek kau Willy!" maki Hikaru yang menghubungi William dari Jepang namun tidak dijawab.


Hikaru mencengkram kuat ponselnya, marah karena tidak mendapat jawaban dari William.


Karena terus didesak oleh dokter, Hikaru dan Vania akhirnya memutuskan akan memberitahukan keberadaan dan kondisi Sabrina pada William agar pria itu bisa membesuk Sabrina seminggu tiga kali ke Jepang.

__ADS_1


"Apa masih tidak ada jawaban dari Willy?" tanya Vania.


"Bagaimana bisa putri kita menjalin hubungan dengan pria brengsek sepertinya!" geram Hikaru.


"Tenang Mas, kamu tidak boleh emosi. Kita bisa membicarakan dengan Willy baik-baik. Sabrina sedang membutuhkannya, jadi kita mau tidak mau harus memberitahunya," ucap Vania.


"Sabrina seperti ini itu karena Willy. Bila saat itu mereka tidak pergi berlibur ke luar kota, Sabrina pasti tidak mengalami kecelakaan," ucap Hikaru.


"Mas, sudah. Kita tidak usah terus menyalahkan Willy, semua sudah terjadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa untuk kesembuhan Sabrina dan memberitahukan Willy agar dia segera membesuknya," ucap Vania.


Hahh!


Hikaru menghela nafas kasar, kemudian menghidupkan ponselnya dan mencoba menghubungi William lagi.


Namun lagi-lagi panggilan telepon Hikaru tidak mendapat jawaban dari William membuat pria itu meninju dinding yang berada di dekatnya


Arrgghh! Bugh!


Vania terkejut melihat suaminya seperti itu tapi ini bukan waktu yang tepat untuk lama-lama terkejut karena di ruang ICU Sabrina tiba-tiba kejang dengan detak jantung semakin lemah.


Suara alarm dari ruangan ICU terdengar menandakan kondisi Sabrina memburuk membuat Hikaru bergegas memanggil dokter. Sedangkan Vania berdiri kaku di depan jendela dengan air mata yang terus berderai.


"Lihat Vania! Lihat itu! Bagaimana aku tidak terus menyalahkan Willy, anak kita sekarat didalam sana itu karena Willy!" Hikaru terduduk lemas di kursi tunggu depan ruang ICU.


Vania tidak menjawab, ia terus memperhatikan dokter dan beberapa perawat yang sedang menangani Sabrina yang sedang kejang.


Vania mengambil ponsel di dalam tasnya kemudian merekam Sabrina yang sedang sekarat dan mengirimkan rekaman itu ke nomor Whatsapp William.


Sama seperti Hikaru yang sejak tadi menghubungi William tapi tidak mendapat jawaban, video yang Vania kirim juga hanya centang dua berwarna abu-abu.


Vania tidak menulis banyak penjelasan mengenai video itu, hanya menuliskan alamat lengkap rumah sakit di mana Sabrina berada.


Terserah William akan membuka video itu atau tidak yang jelas Vania sudah memberitahukan bila Sabrina tengah sekarat.


Kedua orang tua Sabrina tidak tahu bila saat ini William tengah melakukan resepsi pernikahan dengan Briana.


Entah apa jadinya bila William tahu ia bahagia di atas penderitaan Sabrina yang tengah sekarat di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2