Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 56 Memutuskan Pergi


__ADS_3

"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Vania setelah Briana dan William keluar dari ruangan itu.


Diruang rawat Sabrina hanya tersisa Vania dan Hikaru saja.


"Aku baik-baik saja Mah," jawab Sabrina.


"Bohong! Kamu tidak baik-baik saja," ucap Vania dan saat itu juga Sabrina menangis.


Vania memeluk Sabrina membuat wanita itu menangis dipelukan Mamah-nya. "Menangislah Sab, jangan kamu tahan. Mamah tahu kamu tidak baik-baik saja." Vania mengusap punggung Sabrina.


Sabrina tak menyahut, ia masih terus menangis meluapkan rasa sesak di dadanya kehilangan calon buah hati dan juga calon suaminya.


Setelah merasa sedikit tenang Sabrina langsung menuntut penjelasan kedua orang tuanya mengenai semua yang terjadi pada dirinya.


Hikaru dan Vania menjelaskan semuanya pada putri mereka, tidak ada yang ditutupi, semua ia ceritakan termasuk mereka yang sudah menjebloskan William ke penjara dan juga menyembunyikannya dari pria itu.


Sabrina menduga ada sesuatu yang terjadi di saat ia sedang koma hingga William kini sudah menikah. Dan benar dugaannya, setelah mendengar penjelasan dari kedua orang tuanya kini Sabrina mengerti permasalahannya.


"Kami salah, Nak sudah menyembunyikanmu dari Willy. Andai waktu bisa diputar Mamah dan Papah tidak akan menyembunyikanmu dan Willy pasti hingga sekarang belum menikah dengan wanita lain dia pasti masih menunggumu," ucap Vania penuh sesal.


"Kami egois, Nak sudah menyembunyikanmu dari Willy. Maafkan Papah dan Mamah," ucap Hikaru jugap menyesal.


Sabrina tidak menyahuti kedua orang tuanya ia terus menangis. Ia mencintai William tapi ia juga tidak mungkin merusak kebahagiaan pria itu bersama Briana. Sabrina akan bahagia bila William bahagia. Ia memutuskan pergi dari kehidupan mantan kekasihnya.


Hanya salam perpisahan ia ucapkan pada William dan Briana, setelahnya ia benar-benar pergi memulai hidup baru dengan menekuni pekerjaan sebelumnya yakni sebagai seorang model.


*


*


Beberapa bulan kemudian.


Usia kandungan Briana baru menginjak 5 bulan namun perutnya terlihat sangat besar. Hasil pemeriksaan terakhir kalinya betapa bahagianya Briana dan William mengetahui bila mereka akan mendapatkan bayi kembar tiga dengan jenis kelamin laki-laki.


Kurang dari 4 bulan lagi Briana sudah bisa melahirkan bayi kembarnya namun tentu saja tidak dianjurkan melahirkan secara normal karena itu sangat beresiko untuk keselamatan ibu dan janin.


William yang bahagia hari-harinya disibukkan dengan menjelajah internet menyiapkan nama untuk bayi kembarnya.

__ADS_1


Kini sepasang suami istri itu sedang berada di tempat tidur. Briana duduk bersandar sembari membaca buku kehamilan yang diberikan Larissa padanya.


Sementara William tidur diatas pangkuan Briana dengan pipi kanan menempel perut besar istrinya dan pandangan fokus pada ponsel membuka internet mencari nama untuk anaknya.


"Nama apa yang cocok untuk anak kita ya?" tanya William sembari terus menscroll layar ponselnya.


"Ya ampun Mas, seminggu ini yang kamu pikirin itu terus." Briana geleng-geleng kepala tak habis fikir pada suaminya.


Sudah beberapa bulan ini Briana memanggil William dengan sebutan 'Mas' karena merasa tak sopan terus-terusan memanggil suaminya dengan sebutan nama.


"Mau bagaimana lagi aku masih belum mendapatkan nama yang bagus," ucap William.


"Tidak usah bagus-bagus yang penting namanya penuh arti untuk kita." Briana menutup buku kehamilan yang sedang ia baca dan meletakkan di sebelahnya.


"Memangnya kamu ingin memberikan nama apa untuk anak kita?" tanya William.


"Belum ada sih," jawab Briana.


"Tuh kan kamu saja belum ada nama untuk anak kita." William memencet hidung Briana.


"Ihh, kamu nih Mas kebiasaan deh mencet-mencet hidung aku." Briana menepis tangan suaminya.


"Bohong! Aku makin gendut kan. Hayo ngaku kamu tadi mau bilang begitu," ucap Briana.


"Tidak, eh emm iya. Kamu gendut. Tapi tidak apa-apa kok aku tetap cinta kamu." William meringis karena Briana sudah melototinya.


"Awas kamu Mas kalau nyari wanita lain. Aku gendut seperti ini karena lagi hamil anakmu, kalau aku tidak hamil tubuhku juga bagus," ucap Briana.


"Astaga, sayang siapa juga yang mau mencari wanita lain. Maaf aku salah bicara tadi, aku sudah ngatain kamu gendut." William memeluk Briana.


Sikap sensitif Briana saat hamil sangat membuat William sakit kepala, karena salah bicara seperti tadi saja Briana sudah marah padanya.


"Mau kan maafin aku?" tanya William dan Briana menganggukkan kepala.


Selama hamil ini Briana tidak pernah ngidam makanan, tapi ngidamnya justru yang aneh-aneh. William sendiri bahkan tidak habis pikir pada Briana pasalnya ialah yang menjadi sasaran ngidamnya sang istri.


William pernah diminta Briana menggunakan baju badut dan berjoget di lampu merah. William juga pernah diminta Briana menjadi tukang parkir, dan lebih tak masuk akal lagi ia diminta merayu banci membuatnya dikejar-kejar banci itu. Mengingat itu William bergidik merinding.

__ADS_1


Tapi William tidak bisa menolaknya, semua yang diminta Briana ia lakukan agar anak yang ada di dalam kandungan istrinya itu tidak ileran.


"Yuk turun kita jalan-jalan sore," ajak William.


"Jalan-jalan ke mana?" tanya Briana.


"Mencari makanan mungkin," jawab William


"Emm, boleh. Tapi tunggu sebentar aku ganti baju dulu," ucap Briana.


"Sini aku bantu." William membantu Briana melepas daster yang dikenakan menggunakan daster yang lebih bagus.


Setelah selesai keduanya segera pergi jalan-jalan kesuatu tempat yang menjajakan banyak makanan mulai dari makanan tradisional hingga makanan mancanegara ada di sana.


William terus menggandeng tangan Briana karena wanita itu sudah mulai kesulitan berjalan. Briana bahkan sesekali menghembuskan nafas karena kelelahan.


"5 bulan saja perutmu sudah sebesar ini, bagaimana nanti bila sudah 9 bulan." William mengelus perut Briana.


"Pasti sangat besar, tapi aku menikmatinya." Briana tersenyum pada William.


Keduanya terus berjalan menghampiri gerobak makanan yang sudah berjejer sejak siang tadi.


Briana menujuk gerobak pentol bakar membuat William menuntun Briana mendekat ke arah gerobak tersebut.


Tidak tanggung-tanggung, Briana menghabiskan 5 tusuk pentol bakar sekaligus dengan saus bumbu kacang yang membuat pentol itu terasa nikmat.


Sementara William hanya menghabiskan satu tusuk dan ia sudah kenyang melihat Briana yang makan dengan lahap.


Selesai makan pentol bakar Briana pindah ke penjual ice cream dan kebetulan disana ada Brian sedang bersama Linda dan anak laki-laki.


"Cie cie," goda Briana pada Brian.


Sementara Brian yang mendengar suara Briana segera menoleh dan menatap kesal kearah saudara kembarnya.


"Gimana ada kemajuan tidak?" tanya Briana menaik turunkan sebelah alisnya.


"Seperti yang kamu lihat," ucap Brian acuh.

__ADS_1


"Kalau yang aku lihat sepertinya ada kemajuan, ya kan Lin?" tanya Briana pada Linda membuat wanita itu tersedak.


Uhuk uhuk.


__ADS_2