Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 22 Permintaan William


__ADS_3

Saat tiba di lantai satu Briana melangkahkan kakinya pelan, kemudian mendekati ruang keluarga untuk melihat William dan Reyhan di dalam sana.


Dilihat olehnya kedua pria di sana sedang menatap serius pada televisi yang menyiarkan pertandingan sepak bola.


Kedua pria itu tidak menyadari bila Briana memperhatikan mereka. Briana cemburu pada William karena kedua orang tuanya lebih menyayangi pria itu dibandingkan dirinya.


"Sedang apa Bri?" tanya Larissa mengagetkan Briana.


Larissa melongokkan kepalanya melihat masuk kedalam ruang keluarga. Bisa ia lihat bila di dalam sana ada Reyhan dan juga William.


"Ooh, kamu pasti mau manggil Liam ya?" tanya Larissa menaik turunkan sebelah alisnya.


"Apaan sih Mom, aku mana perduli padanya," ucap Briana melengos pergi dari sana.


Briana pergi ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil air minum kemudian membawanya masuk ke dalam kamar.


Tiba dikamar, Briana merebahkan lagi tubuhnya di tempat ia menggelar selimut dan segera memejamkan matanya untuk terlelap.


Pukul 11.00 malam William masuk ke kamar setelah selesai menonton pertandingan sepak bola di televisi.


"Benar-benar tidur dilantai," gumam William saat melihat Briana tertidur di lantai.


Melihat Briana tertidur seperti itu, William merasa kasihan, ia tidak tega membiarkan Briana tertidur dilantai. Pada akhirnya william mendekati Briana, lalu mengangkat tubuh wanita itu dan memindahkannya ke atas ranjang.


Briana yang sudah tertidur pulas tidak merasakan bila William sudah memindahkan dirinya. William juga menyelimuti tubuh Briana hingga bagian dada tertutup.


Setelahnya William menduduki sofa yang ada di kamar itu, duduk terdiam dengan pandangan menatap Briana yang sedang terlelap.


'Maafkan aku Sab, aku sekarang sudah menikahi wanita lain,' batin William.


Ada rasa bersalah dihati William pada Sabrina tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Meski pernikahan dirinya dan juga Briana terjadi karena kesalah pahaman, tapi William tidak bisa membatalkan pernikahan itu. Ia tidak mau mengecewakan Reyhan dan juga Larissa yang begitu baik padanya.


Lama termenung disana membuat William akhirnya mengantuk dan merebahkan tubuhnya disofa.


William mengalah membiarkan Briana tidur di ranjang sedangkan dirinya tidur disofa. Ia tahu sekali Briana pasti tidak akan mau tidur seranjang dengannya.


*


*


Pagi datang.

__ADS_1


Briana bangun lebih dulu dibandingkan William yang memang semalam tidur larut malam.


Di saat membuka mata, Briana cukup terheran karena terbangun dirinya sudah berada di atas ranjang, padahal semalam ia tertidur di lantai hanya dengan beralas selimut.


"Siapa yang memindahkan aku?" tanya Briana bergumam sendiri.


Briana mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar untuk mencari keberadaan William karena ia tidak melihat pria itu tidur di ranjang yang sama dengannya.


"Ternyata kamu mengalah padaku," gumamnya lagi saat melihat William terlelap disofa panjang dengan posisi kaki yang menggantung di pinggiran sofa.


Briana turun dari ranjang dengan membawa selimut ditangannya berniat hendak menyelimuti tubuh William.


"Ahh, masa bodoh lah." Briana meletakkan kembali selimut yang sudah ia pegang, mengurungkan niatnya untuk menyelimuti William dan membiarkan pria itu tidur kedinginan.


Briana memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah dan berganti pakaian olahraga. Ia akan berlari pagi keliling kompleks seperti biasanya.


Disaat Briana sudah keluar dari kamar, William membuka matanya terbangun juga dari tidurnya. William akan kembali berperan sebagai sopir Briana karena wanita itu masih menganggapnya seperti itu.


Seperti biasanya dipagi hari William akan mencuci mobil Briana kemudian memanaskan mesin mobil sebelum ia kemudikan.


Disaat ia sedang mencuci mobil Briana, ada sebuah mobil mewah berhenti disebelah mobil yang sedang dicucinya.


Rupanya Brian lah yang mengemudikan mobil mewah itu. Brian datang seorang diri untuk mengunjungi keluarganya yang sudah hampir dua bulan tidak ia kunjungi.


Dari kejauhan Brian sudah melihat William sedang mencuci mobil Briana. Brian awalnya mengira bila ia salah orang, tapi setelah tiba didekat William, Brian kini yakin bila pria yang sedang mencuci mobil itu ialah William Horrison.


William sendiri mendengar seseorang memanggil namanya dengan lengkap tentu saja terbelalak. William segera menolehkan wajahnya pada Brian yang tadi memanggil namanya.


"Iya benar, anda William Horrison kan?" tanya Brian memastikan lagi.


"Bagaimana anda tahu nama saya?" tanya William balik.


"Saya penggemar anda Tuan William," jawab Brian dengan senang karena bertemu dengan panutannya.


"Hahh?" William terperangah tak menyangka bila ia memiliki penggemar padahal ia bukan idol ataupun artis.


"Anda siapa?" tanyanya kemudian.


"Saya Brian, Tuan, anak pertama Reyhan Anggara," jawab Brian memperkenalkan dirinya.


Brian juga mengulurkan tangannya pada William untuk berjabat tangan pada seseorang yang selama ini menjadi panutannya. Bakat berbisnis yang William miliki serta keuletan pria itu lah yang membuat Brian mengagumi sosok William Horrison.

__ADS_1


Dari situlah Brian sedikit demi sedikit belajar tentang bisnis transportasi dan mulai menggelutinya beberapa bulan terakhir ini.


Brian menatap penampilan William dari ujung rambut hingga ujung kaki yang tampak sederhana dengan penampilan seperti orang biasa.


"Kenapa penampilan anda seperti ini? Anda juga kenapa mencuci mobil?" tanya Brian yang tidak tahu bila William ialah sopir Briana sekaligus adik iparnya.


"Saya sopir di rumah ini," jawab William.


"What! Anda sopir dirumah ini?" tanya Brian terkejut.


William menganggukan kepalanya membenarkan pertanyaan Brian.


"Bagaimana bisa Daddy memperkerjakan CEO WT sebagai sopir dirumah ini?" tanya Brian tak habis fikir.


"Dirumah ini tidak ada yang tahu siapa saya, karena saya menyembunyikan identitas saya. Jadi tolong jangan katakan pada siapapun bila saya William Horrison," pinta William.


"Apa anda sedang menyamar menjadi orang lain? Sudah berapa lama anda melakukannya?" tanya Brian.


"Belum begitu lama, mungkin lebih satu bulan," jawab William membuat Brian menggeleng tak habis fikir.


Tidak lama kemudian Briana pulang dari lari paginya. Briana segera menghampiri Brian yang sedang mengobrol dengan William.


"Kapan datang Brian?" tanya Briana pada Brian.


Brian menolehkan wajahnya pada Briana yang berada disampingnya.


"Baru saja," jawab Brian datar.


"Astaga Brian! Tadi aku melihat kamu akrab sekali mengobrol dengan Liam, tapi kenapa padaku kamu datar sekali." Briana memukul kepala Brian.


"Astaga Bri! Sampai sekarang kamu masih saja barbar." Brian mengusap kepalanya yang dipukul Briana.


"Aku kasih tahu padamu ya, dia itu sopir miskin yang sangat menyebalkan. Kamu jangan coba-coba bergaul dengannya," ucap Briana.


Brian melirik pada William yang memasang wajah datar. Ia tak enak pada William karena Briana merendahkan pria itu didepannya.


Brian tidak tahu saja bila Briana sudah sering melakukannya tanpa memperdulikan perasaan William.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, Bri," tegur Brian.


"Kamu tidak tahu saja Brian, gara-gara sopir ini aku jadi dinikahinya." ucap Briana kesal.

__ADS_1


"Hahh? Dinikahinya?!" tanya Brian terkejut.


__ADS_2