
"Bagaimana kondisi Briana, Willy?" tanya Irene yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat Briana.
"Ssttt. Briana sedang tidur, dia baik-baik saja tadi hanya kontraksi palsu." William meletakkan jari telunjuknya di bibir mengisyaratkan agar ibunya bicara perlahan.
Irene langsung mengatupkan bibirnya. Tadi ia sangat mengkhawatirkan menantunya jadi begitu masuk ke dalam ruangan itu dia langsung bertanya tanpa sadar bila perkataannya itu cukup keras.
Sementara Larissa memilih memastikan sendiri kondisi Briana dengan mendekat pada putrinya, kemudian mengusap puncak kepala Briana lalu mengecup keningnya.
Tak lupa juga Larissa mengusap perut Briana yang sudah terlihat sangat besar. Hanya tinggal menghitung hari saja janin yang ada didalam kandungan wanita itu bisa dilahirkan.
"Briana dianjurkan dirawat sampai dia melahirkan," ucap William setelah mendekat pada Larissa.
Dia berbicara sangat pelan agar tidak mengganggu Briana yang sedang terlelap.
"Semoga saja persalinannya lancar. Mommy dulu hamil Brian dan Briana saja kesulitan tidur dan kesulitan bergerak apa lagi Briana yang hamil kembar 3 pasti melebihi apa yang Mommy rasakan dulu." Larissa menatap khawatir pada Briana yang sedang terlelap.
__ADS_1
"Mommy jangan khawatir, aku akan selalu menjaganya. Dan setelah anak kami lahir aku juga akan membantu Briana untuk merawatnya," ucap William menenangkan Larissa dari rasa khawatirnya.
Larissa menganggukkan kepala. "Mommy percaya kamu bisa melakukannya," ucapnya sembari mengusap bahu menantunya.
Tidak lama kemudian Briana membuka mata. Orang pertama yang ia cari ialah William.
"Mas."
"Iya Sayang, Mas ada disini," ucap William kemudian menggenggam tangan Briana.
"Kamu dan anak kita baik-baik saja, tapi kamu akan dirawat di sini sampai anak kita lahir," ucap William.
"Tapi aku pengen pulang," rengek Briana.
Ia tidak suka berada di rumah sakit terlalu lama. Aroma obat dari rumah sakit mengingatkannya pada jarum suntik. Lantas mengingat saat jarum suntik itu menancapkan ketubuhnya dan saat itu juga Briana baru sadar bila ia sedang diinfus.
__ADS_1
"Mas, lepaskan infus ini dari tanganku aku tidak mau di tusuk jarum." Briana mengibas-ngibaskan tangan yang sedang diinfus membuat darahnya mengalir pada selang infus.
"Sayang, tenang. Aku minta kamu tenang. Ini tidak apa-apa, kamu juga tidak merasakan sakit kan. Kamu harus diinfus agar kondisi tubuhmu fit lagi." William berusaha menenangkan Briana.
"Tapi aku tidak mau di tusuk jarum, Mas." Briana masih mengibaskan tangannya membuat William segera menghentikan pergerakan tangannya.
Sementara itu Larissa dan Irene hanya bisa memandangi interaksi mereka sembari duduk di sana. Mereka yakin William mampu menenangkan Briana yang fobia pada jarum suntik.
William memegang kuat tangan Briana. "Dengar Sayang. Tidak lama lagi kamu akan menjalani operasi sesar dan saat itu bukan hanya jarum suntik saja yang mengenai tubuhmu namun juga dengan pisau dan alat bedah lainnya. Jadi aku mohon tenangkan dirimu dan biasakan diinfus seperti ini," ucapnya.
Tangan Briana yang tadi terasa kaku kini perlahan mulai melemah. Ia menyadari satu hal bila dirinya harus menghilangkan fobia pada jarum suntik.
"Memangnya kenapa sih kamu takut sekali pada jarum suntik?" tanya William. Ia bisa menyimpulkan bila Briana memiliki fobia pada jarum suntik meski wanita itu tidak menceritakannya.
Briana membuang muka. Ia enggan mengingat masa lalu yang membuatnya memiliki fobia itu karena baginya itu sangat menyakitkan.
__ADS_1