
Setelah mengakhiri sambutannya William dan Brian memegang gunting bersamaan kemudian memotong pita menandakan bila perusahaan Darwin Transportasi resmi dibuka.
Prok prok prok.
Tepuk tangan dari semua orang yang ada di ballroom membuat Brian mengangguk hormat menerima tepuk tangan tersebut.
Briana beserta kedua orang tuanya juga ikut berdiri dan bertepuk tangan bangga pada Brian yang kini sudah bisa mendirikan perusahaannya sendiri.
William kembali berbicara membuat semua orang mengalihkan perhatiannya pada pria itu.
Brian sendiri tak masalah bila acara peresmian perusahaannya dikuasai oleh William dan ia tenggelam dengan prestasi pria itu asalkan mulut Briana bisa tersumpal dan tak merendahkan William lagi.
"Mohon maaf hadirin sekalian bila saya di sini kembali berbicara. Saya ingin memperkenalkan seorang wanita yang baru beberapa bulan ini saya nikahi." William menghentikan sejenak ucapannya untuk melihat ekspresi Briana.
Briana masih menatap kearahnya dengan ekspresi kagum.
"Wanita itu ialah Briana Alesya Darwin," sambung William membuat Briana tercengang.
Mulut Briana bahkan ternganga melihat layar lebar di podium menampilkan foto pernikahan dirinya dan juga William yang diambil dirumah pak RT saat mereka baru menikah.
Apa itu artinya William Horrison itu suaminya.
"Tidak. Tidak mungkin William Horrison itu Liam suamiku." Briana menggelengkan kepala tak percaya bila pria sempurna di hadapannya itu ialah suaminya.
William turun dari atas podium kemudian menghampiri Briana yang masih menatap tak percaya kearahnya.
"Kamu ...." Briana tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Ya. Saya Liam, sopir pribadi anda yang menikahi anda," ucap William.
Briana melangkah mundur hingga menubruk Larissa yang berada dibelakang tubuhnya. Tubuh Briana juga serasa lemas. Ia syok sekali mengetahui Liam si sopir miskin yang menjadi suaminya itu ternyata bukan orang sembarangan.
"Briana kamu tidak apa-apa?" tanya Larissa menopang tubuh Briana yang nyaris ambruk.
"Tidak! Kamu tidak mungkin Liam si sopir miskin itu," ucap Briana dengan wajah terlihat pucat.
"Bri, Bri." Larissa menepuk-nepuk pipi Briana karena wanita itu justru pingsan dipelukakannya.
"Bagaimana ini Mas, Briana pingsan," ucap Larissa panik.
Reyhan tak menyahut tapi pria paruh baya itu bergegas membopong Briana untuk ia bawa kesalah satu ruangan dikantor itu.
Larissa menatap sekilas wajah William kemudian menyusul suaminya yang sudah berjalan lebih dulu keluar dari ballroom.
__ADS_1
William tersenyum puas melihat keterkejutan Briana hingga wanita itu pingsan. Ia tidak menyusul kedua mertuanya yang membawa Briana karena ia tahu istrinya itu baik-baik saja dan hanya terkejut.
"Apa kamu tidak berbohong Willy?" tanya Irene.
William membalikkan tubuhnya dan melihat bila kedua orang tuanya sudah berada di dekatnya. Pria itu menatap wajah Irene dan Julian bergantian.
"Ya, aku tidak berbohong Mah, Pah. Aku dan Briana sudah menikah dua bulan yang lalu," jawab William.
Betapa bahagianya Irene dan Julian mendengar jawaban dari William. Mereka yang menantikan William menikah, dan mengharapkan Briana menjadi menantunya akhirnya terwujud.
"Tapi aku akan menalaknya," ucap William kemudian berlalu pergi dari hadapan Irene dan Julian.
Raut wajah Irene dan Julian berubah seketika. Irene bahkan mengejar William yang pergi dari hadappannya.
"Kenapa kamu mau menalaknya?" tanya Irene.
"Karena kami tidak saling mencintai dan kami menikah itu karena terpaksa," jawab William tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Tidak Willy, kamu tidak boleh menalaknya," cegah Irene menghentikan langkah kaki William.
"Apapun yang aku putuskan, tidak ada satu orangpun yang bisa mencegahnya." William terus melanjutkan langkah kakinya meninggalkan Irene yang diam terpaku menatap kepergian putranya.
*
*
Larissa mengoleskan minyak kayu putih, ditelapak kaki Briana, telapak tangan dan juga hidung wanita itu.
Tidak butuh waktu lama Briana akhirnya membuka matanya. Wanita itu mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan William di ruangan itu.
"Kamu mencari Liam?" tanya Larissa.
"Apa aku ini mimpi, Mom? Bagaimana bisa Liam, sopir miskin yang selalu aku rendahkan itu ialah William Horrison?" tanya Briana.
Larisan menggeleng.
"Tidak! Kamu tidak mimpi, Bri. William Horrison itu memang Liam suamimu. Mommy juga terkejut tapi Mommy tidak seterkejut dirimu hingga pingsan," ucapnya kemudian.
"Aku malu Mom. Aku malu pada Liam karena ternyata dia bukan orang sembarangan," ucap Briana.
"Mommy dan Daddy kan sudah berkali-kali mengingatkan kamu, jangan pernah merendahkan orang lain. Hargailah orang lain, tapi kamu tidak pernah mendengarkan perkataan Daddy dan Mommy. Kamu terus saja merendahkan Liam dan sekarang kamu jadi malu sendiri kan padanya," ucap Larissa.
Briana menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Aku menyesal Mom," lirih Briana.
"Sudah kamu tidak perlu menangis. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah minta maaf lah pada Liam karena kamu pernah merendahkan dirinya." Larissa mengusap air mata yang menetes dipipi Briana.
"Bagaimana bila dia tidak mau memaafkan aku dan bahkan menalakku?" tanya Briana.
"Mommy yakin Liam tidak akan melakukan itu," ucap Larissa.
Di sisi lain William yang meninggalkan ballroom kini tengah berjalan keluar dari gedung kantor Darwin Transportasi.
William tak perduli bila ia belum memastikan kondisi Briana itu baik-baik saja atau tidak karena yang ia tahu Briana juga tidak pernah peduli padanya.
William tidak tahu saja sebetulnya Briana itu perduli padanya bahkan menyusulnya ke Kalimantan karena mengkhawatirkannya.
"Tunggu Liam."
Suara itu menghentikan tangan William yang sudah hendak membuka pintu mobil miliknya.
"Apa kamu tidak ingin melihat Briana yang tadi pingsan?" tanya Reyhan.
"Maaf saya sedang sibuk."
"Ini kah sifat aslimu yang sebenarnya?" tanya Reyhan membuat William yang hendak membuka pintu mobil tertahan lagi.
"Jujur saja saya lebih menyukai kamu menjadi Liam menantu saya dari pada Wiliam Horrison," sambung Reyhan.
"Maaf, tapi saya William Horrison," ucap William.
"Seharusnya saya juga marah dan kecewa padamu karena sudah membohongi saya dan keluarga saya dengan identitasmu sebagai pria miskin yang melamar pekerjaan. Tapi saya tidak merasa seperti itu karena saya benar-benar sudah menjadikan kamu sebagai menantu yang artinya mau kamu itu Liam si sopir miskin, atau William Horrison seorang pengusaha kaya kamu akan tetap menjadi menantu saya," ucap Reyhan.
"Anda tidak perlu melakukan itu lagi karena saya akan menalak Briana," ucap William yang tentu saja membuat Reyhan terkejut.
"Kenapa kamu mau menalaknya?" tanya Reyhan.
"Anda sudah tahu jawabannya, karena Briana tidak pernah memperlakukan saya sebagai seorang suami," jawab William.
"Tapi itu dulu Liam, saya yakin Briana sekarang sudah berubah," ucap Reyhan.
"Berubah? Ya tentu saja dia berubah, itu karena dia tahu sekarang ini saya orang kaya," ucap William tersenyum sinis.
"Tidak Liam, Briana sudah berubah semenjak kamu pamit pulang kampung. Dia bahkan menyusulmu ke Kalimantan," ucap Reyhan membuat William justru terkejut mendengarnya.
William baru mengetahui bila Briana menyusulnya ke Kalimantan saat ia pamit pulang kampung.
__ADS_1
Kini ia bimbang untuk melanjutkan pernikahannya atau menalak Briana dan mengakhiri pernikahan tanpa cinta itu.