Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 23 Kembali ke tempat asal


__ADS_3

Dua minggu berlalu.


William memutuskan kembali ketempat asalnya karena sudah puas dengan perannya sebagai sopir Briana.


Selain itu ada beberapa hal yang harus William urus tapi bukan mengurus KTP, karena ia tidak benar-benar kehilangan KTP-nya.


William akan memberi pelajaran untuk Briana yang selalu merendahkan dirinya.


"Kamu yakin Bri tidak mau ikut Liam pulang kampung?" tanya Larissa pada Briana yang memperhatikan William mengemasi pakaiannya.


"Tentu saja yakin," jawab Briana tanpa menatap Larissa.


Sejujurnya Briana sedih mengetahui William hendak pulang kampung, terlebih lagi kampung halaman William berada di Kalimantan yang entah kapan mereka akan dipertemukan lagi.


William melirik sekilas pada Briana yang baru saja berbicara seperti itu, kemudian lanjut mengemasi semua pakaian miliknya masuk ke dalam ransel.


Larissa menganggukkan kepala menanggapi jawaban Briana. Ia tidak akan memaksa bila Briana tidak mau ikut William pulang kampung.


"Berapa hari kamu dikampung halamanmu, Liam?" tanya Larissa.


"Tidak lama Mom, mungkin hanya dua minggu," jawab William tentu saja bisa didengar oleh Briana.


"Ya, jangan lama-lama kamu disana. Begitu kamu selesai mengurus identitasmu segeralah kembali ke Jakarta," ucap Larissa.


"Tentu Mom, aku akan segera kembali ke Jakarta," ucap William.


William diantar oleh Reyhan, Larissa dan juga Briana ke sebuah pelabuhan. Tidak memiliki identitas tentu saja tidak memungkinkan untuk William menaiki pesawat terbang, sehingga ia akan membuat seolah dirinya pergi ke Kalimantan menggunakan kapal laut.


Tiba dipelabuhan William menyalimi kedua mertuanya untuk berpamitan kemudian mengecup kening Briana yang entah kenapa wanita itu tidak menolaknya.


"Hati-hati ya Liam, bila sudah tiba di rumahmu kabari kami," pesan Larissa.


"Pasti Mom. Kalau begitu aku pergi sekarang," ucap William yang diangguki Reyhan dan juga Larissa tapi tidak dengan Briana.


Briana hanya menatap datar pada kepergian William yang berjalan semakin menjauh dari tempatnya berdiri untuk segera masuk kedalam pelabuhan.


Briana masuk kedalam mobil dengan perasaan tak menentu, sedih bercampur kehilangan atas kepergian William yang pergi pulang kampung.


"Tidak. Aku tidak sedih atau pun kehilangannya," gumam Briana menepis semua rasa yang ada dihatinya.


Setelahnya ketiga orang yang baru saja mengantarkan William ke pelabuhan itu segera kembali pulang kerumah.

__ADS_1


Willam keluar dari dalam pelabuhan setelah memastikan orang-orang yang mengantarnya pergi dari sana.


William berjalan menghampiri sebuah mobil mewah yang terparkir ditepi jalan kemudian masuk kedalam mobil tersebut.


"Acting anda bagus juga," ucap Brian yang sejak tadi memperhatikan William.


Rupanya mobil yang dihampiri William ialah mobil milik Brian yang akan mengantarkan pria itu ke tempat yang akan dituju oleh William.


Sejak pertemuan pertama mereka dua minggu yang lalu, Brian dan William menjadi sangat dekat. Brian kerap kali meminta bantuan William disaat ia kesulitan dengan bisnisnya.


"Sudah aku katakan jangan terlalu formal padaku, Brian, aku ini adik iparmu," ucap William menegur Brian.


"Iya iya adik ipar." Brian menepuk bahu William yang duduk disebelahnya.


"Sekarang kita akan pergi kemana?" tanyanya kemudian.


"Antarkan aku ke kantor WT," titah William pada Brian.


"Siap adik ipar," ucap Brian kemudian melajukan mobilnya untuk menuju kantor WT.


*


*


Kurang lebih 7 minggu William meninggalkan kantor WT tanpa memperdulikannya sama sekali.


"Akhirnya kamu kembali juga Willy," ucap Julian yang sedang duduk di kursi CEO Will Transport dimana kursi itu biasa diduduki oleh William.


"Iya, aku sudah kembali Pah. Bagaimana kabar Papah?" tanya William sembari menduduki sofa di ruangan itu.


"Kabar Mamah dan Papah tidak baik-baik saja karena kamu sampai sekarang belum menikah," ucap Julian.


William tersenyum kecut, lagi-lagi Julian membahas hal yang paling tidak ia sukai.


"Sudahlah Pah jangan bahas itu dulu, aku baru saja datang," keluh William.


"Tidak bisa Willy, hal ini harus secepatnya kita bahas dan kita selesaikan. Apa kamu masih belum bisa melupakan Sabrina?" tanya Julian.


"Aku tidak tahu." William memalingkan pandangannya.


William benar-benar tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Entah masih mencintai Sabrina cinta pertamanya yang hingga sekarang tidak ada kabarnya. Atau perasaannya sedikit berubah karena hadirnya sosok Briana yang sekarang sudah menjadi istrinya.

__ADS_1


Sedikit banyaknya Briana sudah memberi warna dalam hidupnya yang sejak kepergian Sabrina tidak pernah ia rasakan lagi.


Hanya saja William masih tidak menyukai sikap angkuh Briana yang selalu merendahkan dirinya.


"Papah akan mengatur lagi kencan untukmu agar kamu bisa melupakan Sabrina," ucap Julian yang tentu saja langsung ditolak oleh William.


"Aku tidak mau Pah," tolak William.


"Kenapa kamu terus saja menolak kencan yang sudah Papah atur? Papah tahu kamu tidak ingin menikah itu karena kamu masih menunggu Sabrina kembali, tapi kamu lihat sendiri Willy, hingga sekarang sudah lima tahun berlalu Sabrina tidak juga kembali. Sabrina mungkin saja sudah menikah dan bahagia dengan pria lain," ucap Julian.


"Tidak Pah, aku yakin Sabrina belum menikah," ucap William dengan yakin.


"Apa yang membuat kamu seyakin itu bila kamu saja tidak pernah mendapat kabarnya selama lima tahun?" tanya Julian.


"Karena dia mencintai aku Pah, aku yakin dia tidak akan mungkin menikah dengan pria lain," jawab William.


"Itu bila dia memberi kabar padamu, Willy, bila tidak memberi kabar seperti ini kamu tidak boleh seyakin itu. Berhentilah menunggunya dan menikahlah dengan wanita lain," ucap Julian


Julian bangkit dari duduknya berjalan mendekat pada William lalu meletakan selembar foto wanita beserta alamat restorant dihadapan William.


"Papah harap kamu datang," ucap Julian kemudian pergi dari sana.


Julian melirik sekilas pada Brian yang berdiri dipinggir pintu, ia tahu bila Brian ialah anak pertama Reyhan Anggara tapi ia tidak tahu bila Brian ialah kakak ipar putranya.


Setelah kepergian Julian, William mengambil foto wanita beserta kertas yang bertulisan alamat restoran kemudian meremasnya dan melemparkan ke tong sampah.


"Masuklah Brian," titah William pada Brian yang menunggu di luar ruangannya.


William akan membantu Brian untuk mengembangkan bisnis transportasi yang baru dirintis pria itu. Hal itu juga lah salah satu alasan William kembali ke tempat asalnya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Brian setelah duduk disofa berhadapan dengan William.


"Tanyakan saja," ucap William dengan pandangan fokus menatap berkas yang ia pegang.


"Siapa Sabrina?" tanya Brian.


William menghentikan membaca berkas yang yang ia pegang kemudian mengalihkan pandangannya menatap pada Brian dihadapannya.


"Apa kamu mendengar pembicaraanku dengan Papah ku ?" tanyanya kemudian.


"Iya Liam, aku mendengar semua yang kalian bicarakan," jawab Brian.

__ADS_1


William mengangguk mengerti.


"Sabrina itu tunanganku," ucap William.


__ADS_2