Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 46 Ujian Kesetiaan


__ADS_3

"Aku akan tetap pergi meski kamu mencegahku," ucap William kemudian keluar dari kamar presidential meninggalkan Briana didalamnya.


Briana menatap nanar pada pintu kamar yang baru saja tertutup. Terus terang saja hatinya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya hingga suaminya memilih pergi dibanding menuruti permintaannya.


Briana ingin menyusul tapi ia pasti sudah tidak sempat, sehingga ia memilih menunggu kepulangan William dikamar itu.


William yang sudah keluar dari kamar segera menghubungi sekretarisnya untuk menjemputnya dihotel tersebut. Pria bernama Reno itu tidak banyak bertanya pada William dan langsung pergi untuk menjemput atasannya.


William memilih keluar dari hotel melalui pintu belakang hotel karena pintu depan ia yakini masih banyak tamu undangan yang berlalu lalang.


Tiba di teras belakang hotel, bertepatan dengan Reno yang datang menjemputnya. William segera masuk ke dalam mobil dan meminta Reno untuk segera melajukan mobilnya.


"Kita langsung ke bandara saja," titah William pada sekretarisnya.


"Baik Tuan," ucap Reno.


William langsung memesan tiket pesawat menuju Jepang via online dengan keberangkatan kurang dari 2 jam lagi dari sekarang.


Dalam hati William terus berdoa semoga Sabrina baik-baik saja dan dia tidak terlambat menemuinya, namun disaat berdoa tiba-tiba ia teringat pada Briana yang ia tinggalkan seorang diri dikamar hotel demi menemui wanita lain.


Tentu saja tindakan William itu salah, ia juga mengakuinya. Tapi apa boleh buat. William tak mungkin mengabaikan Sabrina wanita yang sudah lama ia cintai, terlebih lagi kondisi wanita itu saat ini sedang sekarat.


Betapa menyesalnya William andai ia tahu bila kondisi Sabrina seperti itu karena ulahnya dan ia justru berbahagia dengan wanita lain.


Tiba di bandara, William langsung berpesan pada Reno untuk menjemput Briana esok hari tepat pukul 08.00 pagi.


"Jangan katakan padanya bila saya pergi ke Jepang," ucap William berpesan.


"Baik Tuan," ucap Reno.


"Setelah kamu menjemputnya, antarkan dia ke rumah saya," titah William.


"Baik Tuan," ucap Reno.


William bergegas melangkah masuk kedalam bandara dan akan langsung menaiki pesawat yang akan membawanya ke negara Jepang.


Setelah menunggu beberapa menit, pesawat yang William naiki akhirnya terbang menuju negara tujuan.


*


*

__ADS_1


"Pagi Nyonya. Perkenalkan saya Reno, sekretaris Tuan William. Saya diperintahkan beliau untuk menjemput anda pulang ke rumah," ucap Reno setelah Briana membukakan pintu kamar hotel.


Briana pikir orang yang mengetuk pintu kamar hotelnya itu ialah William, tapi ternyata bukan. Orang itu justru sekretaris suaminya.


"Kenapa bukan Liam yang menjemputku?" tanya Briana.


"Maaf, Nyonya, Tuan William sedang ada urusan penting," jawab Reno.


"Sepenting apa urusannya hingga ia mengabaikanku?" tanya Briana lagi.


"Saya tidak tahu Nyonya, saya hanya diminta menjemput anda dan mengantarkan kerumah Tuan William," jawab Reno.


"Aku tidak mau pulang bersamamu dan datang ke rumahnya tanpa Liam," ucap Briana.


"Tapi Nyonya ini perintah dari Tuan William, anda tidak bisa menolaknya," ucap Reno.


"Aku tidak perduli!" ucap Briana kemudian menutup pintu kamar.


Briana mengemasi barang-barang miliknya dan juga barang milik William masuk kedalam koper.


Ia tidak mau dijemput oleh Reno ia ingin dijemput suaminya.


Briana kembali menghubungi William namun nomor ponsel pria itu masih saja tidak aktif.


William baru saja turun dari pesawat dan segera menaiki taksi untuk menuju alamat rumah sakit yang diberikan nomor asing padanya.


Di dalam taksi William langsung menghidupkan ponselnya, dan saat itu juga pria itu bisa melihat bila ada banyak panggilan tak terjawab dari Briana.


"Maaf, Briana, aku tidak bisa menghubungimu dulu, tapi aku janji aku akan segera kembali," ucap William sembari menatap ponsel miliknya.


William mematikan lagi ponselnya agar Briana tak menghubunginya, kemudian meminta sopir taksi untuk menambah kecepatan laju mobil.


Entah berapa lama ia didalam taksi, kini William sudah tiba dialamat rumah sakit yang Vania berikan padanya.


William berlari masuk kedalam rumah sakit dan menghampiri resepsionis untuk menanyakan pasien bernama 'Sabrina Zayyan'.


"Ooh, pasien koma itu ada diruang ICU no. 19," ucap resepsionis menggunakan bahasa Jepang.


"Apa! Koma? Sejak kapan Sabrina Zayyan koma?" tanya William menggunakan bahasa Jepang juga.


"Iya Tuan, Sabrina Zayyan itu pasien koma sudah lebih dari 5 tahun," ucap resepsionis itu lagi.

__ADS_1


Berita itu benar-benar mengejutkan William, tapi untuk memastikannya William bergegas mencari ruangan di mana Sabrina dirawat.


Benar dugaannya bila nomor asing yang mengiriminya alamat rumah sakit ini bukan penipuan karena ia melihat kedua orang tua Sabrina didepan ruang ICU.


Langkah kaki William terasa berat, kakinya bergetar seperti tak mampu lagi untuk berjalan.


"Om, Tante."


Mendengar suara William yang berada di dekat mereka. Vania dan Hikaru sontak saja mengangkat kepala dan melihat William berada dihadapan mereka.


Hikaru bangkit dari duduknya, melihat William emosinya seketika meningkat. Pria itu mendorong kasar tubuh William hingga membentur dinding.


"Brengsek kau! Buagh!"


Hikaru meninju wajah William, sedangkan pria itu hanya diam mematung menerima pukulan dari ayah tunangannya.


William tak mengerti pada Hikaru yang terus mengatakan dirinya Brengsek. William akui ia lalai mengemudikan mobil hingga mengalami kecelakaan tapi ia sudah mendapat hukuman.


"Mas sudah." Vania mencegah Hikaru yang hendak memukul William lagi.


"Lihat itu Willy!" Hikaru menunjuk jendela kaca yang memperlihatkan Sabrina terbaring koma didalam ruang ICU.


William mengikuti arah jari telunjuk Hikaru.


"Sabrina," gumam William.


"Ya, dia Sabrina. Asal kamu tahu Willy, Sabrina belum sadar hingga sekarang itu karena kamu! Karena kamu lalai mengemudikan mobil dan membuatnya kecelakaan dan keguguran!" ucap Hikaru marah.


"Keguguran?" tanya William dengan bibir bergetar.


"Ya. Dia keguguran saat kalian mengalami kecelakaan. Saat itu ternyata Sabrina sedang hamil dua bulan. Janinnya kami makamkan di Jakarta, di halaman belakang rumah bila kamu ingin melihatnya," ucap Hikaru memalingkan wajah.


Sebenarnya Hikaru tidak ingin memberitahu William mengenai Sabrina yang mengalami keguguran, tapi ia harus memberitahu William karena bagaimanapun janin itu ialah anak dari pria dihadapannya.


Lagi-lagi William mendengar berita mengejutkan dirinya. Ia tak pernah tahu bila saat itu Sabrina tengah hamil. Bila ia tahu, ia tak mungkin mengajak Sabrina berlibur ke luar kota yang justru membuat mereka mengalami kecelakaan.


Tadinya Sabrina akan memberitahu William setelah mereka tiba di villa tempat mereka akan berlibur. Tapi sayangnya takdir baik tak berpihak padanya.


Teett Teett Teett.


Suara alarm ruang ICU berbunyi lagi, membuat ketiga orang disana langsung mendekat pada jendela untuk melihat Sabrina.

__ADS_1


"Sabrina kenapa Om?" tanya William pada Hikaru saat melihat Sabrina kejang.


__ADS_2