Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 57 Tidak Bisa Menolak


__ADS_3

"Brian cepat ambilkan air minum kasihan Linda tersedak," titah Briana pada saudara kembarnya.


Brian tidak menjawab namun ia langsung membukakan air mineral dan memberikan pada Linda.


Linda menerima air mineral tersebut kemudian meneguknya membuat batuk yang ia alami hilang seketika.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Brian menatap Linda khawatir.


Linda menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa aku baik-baik saja," ucapnya.


"Cie cie yang khawatir," goda Briana lagi.


"Diam!" Brian menatap tajam ke arah Briana. Ia tidak suka digoda seperti itu yang justru membuatnya malu.


Sementara Linda hanya tersenyum canggung dengan kedua pipi yang sudah memerah karena ia juga sama seperti Brian.


Tidak ingin menggoda lagi, Briana akhirnya memutuskan pergi dari sana dengan tangan yang terus merangkul lengan suaminya untuk kembali mencicipi makanan yang ada di sana.


"Aaa," ucap Briana menyuapi William manisan mangga muda.


William menggeleng. "Tidak mau, itu pasti kecut," ucapnya.


"Tidak kecut kok, ini manis. Namanya saja manisan," ucap Briana kemudian menyodorkan lagi manisan mangga muda itu kemulut William, namun lagi-lagi pria itu menggelengkan kepala.


"Ayolah cicipi sedikit saja," bujuk Briana berharap William mau mencicipinya.

__ADS_1


Melihat Briana terus membujuknya membuat William tidak tega juga dan mau tidak mau ia memakannya.


Krauk krauk.


"Iya Sayang manisannya nggak kecut. Ini enak," ucap William.


Briana tersenyum, kemudian memberikan semua manisan yang ada di tangannya pada William.


"Kalau begitu habiskan," titahnya.


"Hahh?"


Namun William tidak bisa menolak, karena Briana sudah melototinya.


*


*


Ya, hingga usia kandungan Briana 5 bulan wanita itu masih saja bekerja di perusahaan ayahnya meski dengan perut yang besar.


William sudah mengenakan setelan kantor dengan kemeja warna putih dan rompi hitam di bagian dalam jas, serta stelan jas berwarna hitam pula. Hanya tinggal mengenakan dasi saja pria itu sudah selesai bersiap.


Sementara Briana, ia akan pergi ke kantor menggunakan dress panjang berwarna biru dan sepatu flat yang nyaman.


"Yakin kamu masih mau kerja?" tanya William memastikan lagi.

__ADS_1


"Yakin dong Mas, sampai aku akan melahirkan baru lah aku berhenti bekerja dan fokus mengurus anak-anak," jawab Briana.


"Perutmu sudah besar sekali sayang, aku khawatir bila kamu bekerja nanti akan kelelahan," ucap William.


"Tidak apa-apa Mas. Dari pada aku bosan dirumah, mending aku habiskan waktuku dengan bekerja," ucap Briana.


"Ya sudah terserahmu saja yang penting kamu ingat-ingat waktu jangan sampai kelelahan pekerjaan," ucap William mengingatkan.


"Iya iya suamiku yang tampan." Briana menggelitik dagu William namun tangan itu segera dicekal oleh William dan membisikan sesuatu.


"Sepertinya kita akan terlambat ke kantor," bisiknya.


"Kenapa?" tanya Briana.


"Karena kamu menggelitiki aku dan membuatnya bangun." William mengarahkan tangan Briana kesesuatu yang sudah membesar.


"Ayo tanggung jawab," ucapnya.


"Hehehe, aku pagi ini ada meeting Mas," ucap Briana menyengir.


"Tunda meetingnya, kamu tanggung jawab dulu apa yang sudah kamu perbuat," ucap William dan mendekatkan wajahnya.


"Mass, aku benar-benar ada meeting." Briana menjauhkan wajah William.


William tidak mendengarkan ucapan Briana. Pria itu kembali mendekatkan wajahnya dan meraup bibir istrinya.

__ADS_1


Bila sudah seperti ini Briana tidak bisa menolaknya, karena ia juga sudah mabok kepayang.


__ADS_2