
Briana mendengar semua apa yang William bicarakan disambungan telepon, tapi itu tidak membuatnya berubah pikiran untuk memberi ruang suaminya bertanya pada hati siapa wanita yang dicintainya.
Briana akan tegar bila William memilih masa lalunya dibandingkan dirinya.
Setelah mengakhiri sambungan telepon, William kembali masuk kedalam kamar dan berbaring di sebelah Briana.
Ia merangkul tubuh Briana dari belakang berharap istrinya mau menghadap kearahnya namun hingga ia terlelap Briana tak kunjung membalikkan tubuh.
Pagi datang.
William bangun dari tidurnya sudah tidak mendapati Briana di sebelahnya. Pikiran William jadi ke mana-mana terlebih lagi tadi malam ia baru saja berkata jujur mengenai masa lalunya. Ia takut Briana pergi meninggalkannya, sehingga ia langsung bangkit dari tempat tidur untuk mencari keberadaan istrinya.
Membuka pintu kamar mandi barangkali Brian ada di sana, namun ternyata tidak ada. William bergegas keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan sedikit berlari.
Ia kalut tidak mendapati istrinya saat bangun tidur, namun langkah kaki perlahan melambat setelah ia melihat sosok wanita yang sedang ia cari berada di dapur.
"Sayang," panggil William pada Briana yang tengah membantu Irene menyiapkan sarapan.
William melangkah mendekat pada Briana yang hanya menoleh saat dipanggilnya.
"Sini aku bantu." William mengambil alih mangkuk besar berisi nasi yang dipegang Briana.
Briana sendiri tidak mencegahnya dan membiarkan William menggantikan pekerjaan itu.
William juga menarikan kursi agar Briana bisa duduk di sana, kemudian ia duduk di sebelahnya.
"Mamah tinggal dulu ya mau manggil Papah di kamar," ucap Irene.
"Iya Mah," ucap Briana sedangkan William tidak menyahutinya. Pria itu hanya fokus pada Briana yang masih mengabaikannya.
William meraih tangan Briana kemudian menggenggamnya. "Besok aku akan membesuk Sabrina lagi, tapi aku berharap kamu mau ikut denganku," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Untuk apa aku ikut denganmu, bila kamu ingin membesuknya besuk lah sendiri. Aku tidak mau ikut," ucap Briana sembari melepaskan tangan William dari tangannya. Namun William meraihnya lagi dan menggenggamnya.
"Dengarkan aku sayang. Aku tidak ingin kamu salah paham, aku ingin kamu yakin padaku bila wanita yang aku cintai itu hanya kamu. Percayalah Sabrina itu hanya masa laluku dan kamu masa depanku. Jadi ... aku mohon ikutlah denganku membesuk Sabrina, dengan cara itu kamu bisa mengerti posisi aku," ucap William penuh harap.
Briana tidak langsung menjawab, ia menatap mata suaminya untuk memudahkan dirinya mengambil keputusan. Disana terlihat jelas bila William mengharapkan dirinya ikut membesuk Sabrina. Pada akhirnya ia pun menganggukkan kepala.
"Terima kasih." William mengecup tangan Briana kemudian beralih menyambar bibir wanita itu, menciumnya dan sedikit mellumat.
Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Briana segera mendorong tubuh William agar menjauh darinya.
"Aku masih marah tahu, kamu jangan cium-cium aku," ucapnya.
"Masa sih masih marah? Tapi tadi aku cium, kamu membalasnya," goda William pada Briana.
Briana tampak malu membuatnya langsung memalingkan wajah kearah lain asal tidak menghadap suaminya. Ia bahkan merutuki dirinya sendiri yang mudah sekali dirayu William.
"Aduh duh ada yang malu-malu kucing nih," William mengelus dagu Briana.
William menarik tubuh Briana dan sedikit mengangkat agar duduk di pangkuannya. Briana langsung akan turun tapi William buru-buru mendekap.
"Ku mohon, tetaplah seperti ini," ucap William membuat Briana mengurungkan niat itu.
William meletakkan dagunya di bahu Briana.
"Aku dan Sabrina menjalin hubungan sudah sangat lama sejak saat usia kami masih 15 tahun. Saat dewasa kami memutuskan untuk menikah dan kami bahkan sudah melewati batas pacaran. Kami bertunangan dan dua bulan lagi akan menikah tapi sayangnya, takdir baik tidak berpihak pada kami."
"Sesaat setelah bertunangan aku mengajak Sabrina berlibur keluar kota dan pada saat itu kami mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Sabrina yang ternyata tengah hamil anakku mengalami keguguran dan koma hingga saat ini. Aku di penjara beberapa tahun dan tidak tahu mengenai kabar Sabrina. Aku pikir Sabrina meninggalkanku, aku terpuruk dan aku putus asa mencarinya."
"Janji menikah yang telah aku ucapkan padanya membuatku selalu menolak pemintaan Mamah dan Papah yang ingin aku menikah dan memiliki keturunan hingga tanpa sengaja aku menikahimu karena kesalahpahaman. Jujur saja saat itu aku tertarik padamu tapi sikap angkuhmu mematahkan segalanya, hingga pada saat kamu menyatakan cinta padaku dan membuktikannya aku perlahan mulai mencintaimu."
Briana terus mendengarkan apa yang suaminya ceritakan padanya. Ia tidak menanggapi satu kata pun, tapi ia senang suaminya mau terbuka padanya.
__ADS_1
"Sesaat setelah resepsi pernikahan kita selesai, malam itu aku mendapat kiriman video Sabrina yang tengah koma mengalam kejang. Saat itu aku terkejut, panik, gemetar dengan dadaku terasa sesak melihat wanita yang selama ini aku cintai dan aku cari ternyata tengah sekarat. Tanpa pikir panjang aku meninggalkanmu dan pergi ke alamat rumah sakit yang dikirimkan padaku. Aku pikir aku masih mencintai Sabrina tapi saat aku berada di sana aku tidak bisa memungkiri bila aku yang selalu teringat padamu. Maafkan aku saat itu meninggalkanmu." William mengecup pipi Briana.
Briana mengangguk kemudian menoleh dan membalas mengecup pipi William. "Iya aku percaya pada ceritamu. Mungkin saat itu kamu sangat panik sehingga tidak menuruti permintaanku untuk tetap berada di sana. Tapi ...." Briana tidak melanjutkan ucapannya.
"Tapi kenapa? katakan saja," pinta William.
"Tapi bagaimana bila Sabrina sadar dan menagih janji menikah yang pernah kamu ucapkan padanya?" tanya Briana.
William terdiam. Ia ingin Sabrina segera sadar tapi tidak pernah terpikir olehnya bila setelah sadar Sabrina akan menagih janjinya.
"Kenapa diam? Kamu sendiri pasti tidak tahu jawabannya kan?" Briana tersenyum getir.
"Aku percaya kamu kini mencintaiku, tapi aku tidak percaya bila Sabrina sadar dia tidak akan menagih janji itu," ucap Briana lagi.
William mengeratkan rangkulannya di tubuh Briana. "Tidak usah kamu pikirkan itu, karena Sabrina belum tentu akan sadar." ucapnya.
Briana mengurutkan kening. "Mamangnya kenapa?"
"Karena kemungkinan Sabrina sadar hanya 10%."
"10% itu masih memungkinkan dia sadar, jangan kamu anggap enteng. Suatu saat nanti aku yakin Sabrina pasti akan sadar dan menagih janjimu," ucap Briana.
Belum sempat William menanggapi ucapan Briana, ponsel didalam sakunya berdering.
'Tante Vania' Briana membaca nama yang tertera di ponsel William membuatmu segera menajamkan telinga.
Dan lagi William tidak bisa menolak panggilan telepon tersebut, sehingga ia mau tidak mau menjawabnya.
"Hiks hiks,"
Terdengar isak tangis dari sebrang telepon membuat William panik takut terjadi sesuatu.
__ADS_1