Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 33 Alamat Palsu


__ADS_3

"Siapa ya?" tanya wanita paruh baya yang membuka pintu rumah setelah Briana mengetuknya.


"Apa betul ini rumah Liam?" tanya Briana.


"Liam? Siapa Liam?" tanya wanita paruh baya itu.


Briana dan Linda saling pandang karena bingung kenapa wanita paruh baya di hadapan mereka justru menanyakan siapa Liam padanya.


"Alamat Ini benar kan rumah ini?" tanya Briana menunjukkan alamat yang ia bawa.


"Betul Mbak alamat rumah dikertas itu memang benar alamat rumah ini, dan rumah ini adalah rumah saya," ucap Ibu tersebut.


"Kalau betul ini rumah ibu apa artinya Liam itu anaknya ibu?" tanya Briana lagi.


"Maaf, Mbak, saya di sini hanya tinggal sendiri suami saya sudah meninggal dan saya juga tidak memiliki anak," ucap ibu itu.


"Ibu yakin bila Ibu hanya tinggal sendirian dan tidak memiliki anak?" tanya Briana lagi.


"Betul Mbak saya tidak bohong kalau mbak tidak percaya saya akan tunjukkan kartu keluarga milik saya." Ibu itu segera masuk ke dalam rumah untuk mengambil kartu keluarga miliknya dan segera menunjukkannya pada Briana.


Briana dengan cepat mengambil kartu keluarga tersebut kemudian membaca dan memeriksanya. Benar seperti apa yang ibu itu katakan, bila beliau hanya tinggal seorang diri di rumah sederhana tersebut.


Wajah pucat Briana semakin pucat karena kecewa tidak mendapatkan apa yang sedang ia cari.


Briana menatap Linda yang berada di sebelahnya yang tadi ikut memeriksa kartu keluarga milik ibu tersebut.


"Berarti alamat yang kita cari ini ...." Briana tidak mampu meneruskan perkataannya.


Pupus sudah harapan Briana untuk bertemu dengan William karena ternyata alamat yang sejak dua hari yang lalu ia cari itu ialah alamat palsu.


Briana tersenyum masam mengingat dirinya seolah dipermainkan oleh William yang telah memberikan alamat palsu tersebut.


"Bisa-bisanya Liam mempermainkan aku Lin," ucap Briana pada Linda.


Briana bahkan menitikkan air mata karena ia benar-benar kecewa pada hasil pencarian alamat tersebut.


"Sabar Nona." Linda mengusap punggung Briana.


Tanpa mengeluarkan satu katapun Briana membalikkan tubuh dan berjalan menghampiri tukang ojek yang masih menunggunya.


Sepanjang perjalanan naik ojek, Briana terus mengusap air mata yang terus membasahi pipinya.


'Sebenarnya kamu tinggal di mana Liam?' batin Briana.

__ADS_1


Meski ia marah pada William yang mempermainkan dirinya, tapi Briana tidak bisa memungkiri bila ia sangat mengkhawatirkan William yang sudah lebih dari dua minggu tidak ada kabarnya.


Tiba di pelabuhan Briana dan Linda menaiki speed boat untuk tiba di kabupaten dan akan kembali kehotel dimana mereka sudah membookingnya selama 4 hari.


Linda mengerti apa yang tengah Briana rasakan saat ini, sehingga wanita itu membiarkan Briana yang terus menangis dimobil taksi dengan wajah yang dipalingkan menghadap jendela.


Tiba dihotel, Briana diantar oleh Linda masuk ke dalam kamar untuk segera beristirahat.


Linda merebahkan tubuh Briana yang sudah lemas karena dua kali naik speed boat, dua kali juga wanita itu mabuk laut.


"Ya ampun Nona anda demam," ucap Linda setelah meletakkan punggung tangannya diatas kening Briana.


Linda segera meminta pelayan hotel menyiapkan air kompresan untuk mengompres Briana yang sekarang sedang demam.


Wanita itu mengurungkan niatnya untuk beristirahat di kamar sebelah karena ia kini sedang mengompres Briana.


"Anda pasti kecapean dua hari ini tidak istirahat hanya untuk mencari alamat palsu yang Liam berikan." Linda menatap iba pada Briana yang sudah terlelap.


Kring.


Ponsel Briana berdering dan bisa Linda lihat bila yang menghubungi atasannya itu ialah Brian.


Linda mengabaikan panggilan di ponsel Briana, karena ia juga tidak mungkin menjawab panggilan telepon diponsel atasannya.


Kring.


"Halo Tuan," ucap Linda setelah menjawab panggilan telepon dari Brian.


"Ck! Kamu ini Lin, masih saja bicara formal padaku padahal aku bukan lagi atasanmu," ucap Brian.


"Maaf, Tuan Brian, bagi saya selama saya masih bekerja dengan Pak Reyhan anda tetaplah atasan saya," ucap Linda.


"Berulang kali sudah aku katakan bila tidak ada yang seperti itu, kamu masih saja memiliki persepsi yang sama," ucap Brian.


"Ada perlu apa anda menghubungi saya?" tanya Linda yang memilih mengabaikan ucapan Brian.


"Mana Briana kenapa dia tidak menjawab panggilan teleponku?" tanya Brian.


"Nona Briana kelelahan sekarang sudah tidur," jawab Linda.


"Benarkah? Apa pencarian alamat rumah Liam sudah kalian temukan?" tanya Brian.


"Maaf tuan saya tidak bisa menceritakannya karena itu sebaiknya anda tanyakan saja pada Nona Briana," jawab Linda.

__ADS_1


"Ahh, sudahlah. Percuma aku menghubungimu," ucap Brian kemudian mengakhiri sambungan telepon tersebut.


*


*


Briana dan Linda kembali ke Jakarta tepat setelah empat hari mereka meliburkan diri dari pekerjaan.


Briana yang sempat sakit tentu saja tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir sehingga kembali ke Jakarta sesuai dengan jadwalnya.


Tiba di bandara keduanya dijemput oleh Brian yang memang diperintahkan Larissa untuk menjemput kedua wanita itu.


"Bukannya kamu pergi ke Kalimantan untuk menyusul Liam, lalu kenapa sekarang Liam tidak ikut bersamamu?" tanya Brian pura-pura tidak tahu.


"Aku tidak menemukannya," jawab Briana.


Brian mengangkat sebelah alisnya.


"Bagaimana bisa?" tanyanya kemudian.


"Alamat yang aku cari ternyata alamat palsu," jawab Briana.


"Ppttth, Hahaha." Brian tertawa lepas.


Sudah Brian duga bila Briana pergi ke Kalimantan akan pulang dengan tangan kosong, karena seseorang yang sedang dicari oleh wanita itu sedang berada di Jakarta.


Briana menatap tajam kearah Brian yang sedang menertawainya. Sedangkan Brian terus tertawa tanpa memperdulikan tatapan tajam dari Briana.


"Sepertinya kamu senang sekali aku dipermainkan oleh Liam," ucap Briana pada Brian dengan kedua tangan yang ia silangkan di depan dada.


"Hahh? Apa? Aku senang? Tentu saja tidak. Aku hanya lucu saja melihatmu menyusul Liam ke Kalimantan padahal selama dia berada di sisimu kamu tidak pernah menghargainya," ucap Brian setelah menghentikan tawanya.


"Itu bukan urusanmu," ucap Briana ketus.


"Ya baiklah, itu memang bukan urusanku. Aku hanya ingin memberi saran untukmu, berterus teranglah pada dirimu sendiri bahwa kamu mencintai Liam. Jangan kamu bohongi dirimu dengan terus mengelaknya," ucap Brian memberi saran pada Briana.


Briana tidak menanggapi ucapan Brian, wanita itu memilih pergi lebih dulu menuju mobil Brian meninggalkan koper besar miliknya yang memang sejak tadi Linda yang membawanya.


"Ck! Kau ini Bri, masih saja menyusahkan orang lain," ucap Brian melihat Linda yang kesulitan membawa dua koper.


Brian menggelengkan kepala kemudian mengeluarkan ponsel miliknya untuk merekam Briana yang sedang berjalan tergesa ke arah mobilnya.


Rekaman itu langsung Brian kirim ke nomor WhatsApp William.

__ADS_1


__ADS_2