Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 38 Tiduri Aku, Liam


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Setelah mengetahui bila suaminya ternyata pengusaha kaya, Briana berusaha sebisa mungkin untuk meminta maaf pada William karena sudah merendahkan dan tidak menganggap pria itu sebagai suaminya.


Briana bahkan beberapa kali meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mendatangi William di kantor pria itu.


Empat kali Briana datang ke kantor WT, empat kali juga ia tidak bisa bertemu dengan William karena pria itu sangat sibuk dan ia harus membuat janji terlebih dahulu bila hendak bertemu dengan William.


"Saya ini istrinya William, saya ingin bertemu dengannya sekarang." Briana menekan ucapannya.


"Tidak bisa Nyonya, Tuan William sedang sibuk. Silahkan anda membuat janji terlebih dahulu agar bisa bertemu dengan beliau," ucap resepsionis.


Ini yang kelima kali Briana mendatangi kantor William, dan selalu kalimat itu yang ia dengar dari resepsionis yang ditanyainya.


Briana tidak mau seperti sebelumnya yang tidak bisa bertemu dengan suaminya. Apapun akan Briana lakukan agar kali ini ia bisa bertemu dengan William.


"Katakan saja sekarang William sedang meeting atau sedang di ruangan kerjanya?" tanya Briana.


Briana sudah mencari informasi terlebih dahulu dimana ruangan CEO dan ruangan meeting para direksi berada. Sehingga kini Briana berniat akan menerobos masuk ke dalam kantor WT untuk mencari keberadaan William disana.


"Diruangan meeting Nyonya. Beliau sedang meeting dengan klien dari Jepang, oleh karena itu silakan anda mem-," perkataan resepsionis itu terhenti karena Briana sudah berlari masuk ke dalam lift.


Hal itu tentu saja membuat resepsionis panik dan segera mengejar Briana yang menerobos masuk tanpa izin.


Briana yang sudah masuk ke dalam lift segera menekan angka 30, di mana ruang meeting itu berada.


Setelah tiba di lantai 30, Briana bergegas keluar dari dalam lift dan segera mencari ruangan meeting.


Tak tok tak tok.


Suara hentakan high heels menginjak lantai mengiringi langkah kaki Briana yang tergesa menyusuri lorong lantai tersebut.


Akhirnya Briana tiba di depan ruang meeting dan langsung membuka kasar ruangan tersebut.


Brakk!


Pandangan semua orang di ruangan itu langsung tertuju padanya. Tapi Briana tidak perduli Ia hanya ingin bertemu dengan William.


"Siapa dia?" tanya klien William dengan bahasa Jepang.


"Dia istriku," jawab William dengan bahasa Jepang juga.


Klien William menganggukkan kepala kemudian mengakhiri meeting tersebut dan segera berpamit pada William untuk pergi dari ruang itu bersama dengan beberapa orang yang ia bawa.


"Kita harus bicara," ucap Briana setelah klien William pergi.


"Apa yang ingin kamu bicarakan sampai mengganggu waktu meetingku?" tanya William.


"Aku ingin minta maaf," jawab Briana.

__ADS_1


"Untuk?" William mengangkat sebelah alisnya.


"Karena pernah merendahkanmu dan tidak pernah menganggapmu sebagai suamiku," ucap Briana menekan gengsinya.


Prok prok prok.


William bertepuk tangan sembari bangkit dari duduknya. Pria itu mengitari Briana yang masih berdiri ditempatnya.


"Rupanya benar dugaanku," ucap William.


"Maksudmu?" tanya Briana tak mengerti.


"Kamu itu wanita matre," jawab William tepat di wajah Briana.


Dada Briana naik turun, niat baiknya tidak diterima oleh William, dan ia justru dikatai wanita matre oleh suaminya sendiri.


"Aku yakin kalau aku bukan pengusaha kaya kamu pasti tidak akan meminta maaf padaku," ucap William memundurkan sedikit wajahnya.


"Itu tidak benar," ucap Briana.


"Tidak benar? Apanya yang tidak benar? Semua sudah jelas kamu mendatangiku ke kantor ini karena sudah tahu kalau aku pengusaha kaya kan?" tanya William.


"Tidak Liam, itu tidak benar. Aku benar-benar tulus ingin meminta maaf padamu. Aku mencintaimu," ucap Briana yang justru ditanggapi gelak tawa William.


Briana terheran melihat William menertawainya. Apa pria itu tidak mempercayai perkataannya? Apa perkataannya itu dianggap William omong kosong?


"Bullshit!"


"Aku tidak bicara omong kosong, Liam. Aku sungguhan mengatakan itu," ucap Briana.


William tersenyum sinis.


"Kalau kamu mencintaiku kenapa kamu tidak mengatakannya sejak aku masih menjadi sopirmu?" tanya William.


"Itu karena aku ...." Briana tidak melanjutkan perkataannya.


"Karena apa? Karena aku dulu miskin dan sekarang aku kaya jadi kamu mengatakannya sekarang?" tanya William.


"Tidak! Bukan seperti itu," ucap Briana.


"Kalau bukan seperti itu, lalu seperti apa?" tanya William.


Briana bungkam, ia tidak mampu menjawab pertanyaan William karena ia juga bingung untuk menjelaskan pada pria itu.


"Tidak bisa menjawab kan?" tanya William lagi.


William melangkahkan kakinya menuju pintu berniat untuk keluar dari ruangan tersebut, tapi Briana justru memeluknya dari belakang.


"Aku akan membuktikan bila aku benar-benar mencintaimu, Liam," ucap Briana masih memeluk William.

__ADS_1


"Dengan cara apa kamu akan membuktikannya?" tanya William.


"Aku akan memberikan hakmu sebagai seorang suami," jawab Briana.


William melepas pelukan Briana kemudian membalikkan tubuh untuk menghadap wanita itu.


"Memberi aku hak sebagai seorang suami. Apa itu artinya kamu mau aku tiduri?" tanya William maju satu langkah.


Briana mundur satu langkah, dan William maju satu langkah. Terus begitu hingga tubuh Briana menubruk dinding ruang meeting.


William memajukan wajahnya dan hendak meraup bibir Briana tapi wanita itu memalingkan wajah.


William mencoba sekali lagi hendak mencium bibir Briana tapi wanita itu memalingkan wajah lagi.


"Kenapa terus menghindar? Bukannya kamu tadi mengatakan akan memberikan hakku sebagai seorang suami?" tanya William.


"Aku hanya belum siap," jawab Briana.


William tersenyum sinis, kemudian menjauhkan tubuhnya dari Briana yang menempel di dinding.


Pria itu melanjutkan langkah kakinya keluar dari ruang meeting tersebut.


Melihat William pergi, Briana bergegas mengejar pria itu dan berusaha berbicara lagi.


Sayangnya hingga William tiba di ruangannya Briana tidak bisa menghentikan langkah kaki pria itu.


Briana ikut masuk ke ruang kerja William dan kini sedang berdiri saling berhadapan dengan pria itu.


"Apa maumu mengikutiku?" tanya William.


"Pembicaraan kita belum selesai, Liam," jawab Briana.


"Pembicaraan mana lagi yang belum selesai? Bukannya semua sudah jelas bila kamu mengatakan cinta itu karena kamu tahu bila aku pengusaha kaya," ucap William.


"Bagaimana dengan permintaan maaf ku? Apa kamu mau memaafkanku?" tanya Briana.


"Ya. Aku akan memaafkanmu," jawab William.


William hendak menduduki kursi kerjanya tapi Briana buru-buru mencegahnya.


"Hufftt." William menghela nafas.


"Ada apa lagi, bukannya aku sudah memaafkanmu?" tanyanya kemudian.


Briana melangkah maju mendekat pada William kemudian sedikit berjinjit dan merangkulkan kedua tangannya di leher pria itu lalu menciumnya.


William mendelik, ia terkejut dengan aksi Briana. Tadi dirinya hendak mencium Briana tapi wanita itu tidak mau. Sekarang justru Briana yang menciumnya lebih dahulu.


Ciuman itu tidak berlangsung lama karena Briana juga belum mahir dalam hal itu. Briana melepas ciuman tersebut kemudian menatap lekat pada mata William.

__ADS_1


"Tiduri aku, Liam."


__ADS_2