
Beberapa jam sebelumnya.
Dokter Kei masuk ke dalam ruang ICU di mana Sabrina terbaring koma. Saat itu Vania dan Hikaru sudah tidak ada dirumah sakit karena saat malam hari mereka kembali kerumah.
Ini bukan yang pertama kali bagi dokter Kei datang menemui Sabrina seorang diri, melainkan sudah berulang kali sejak beberapa tahun terakhir ini.
Dokter muda itu berdiri tepat menghadap wajah Sabrina yang masih memejamkan mata.
"Hai, saya dokter Kei datang lagi ingin mengobrol dengan mu. Apa kamu mengizinkannya?" tanya dokter Kei yang jelas tidak mendapat jawaban dari Sabrina.
"Ahh, iya, kamu tidak mungkin menjawab pertanyaan saya karena kamu masih koma. Tapi saya tidak perduli dengan itu. Saya akan terus bertanya kapan kamu akan sadar, apa setelah sadar kamu mengenali suara saya yang setiap malam selalu mengajakmu bicara dan bercerita?"
"Aku harap iya. Tapi tidak masalah bila kamu juga tidak mengenali suara saya asalkan kamu segera sadar."
Dokter Kei kemudian duduk di kursi yang berada disebelah branker Sabrina. Ia ingin menggenggam tangan wanita itu, mengusap rambutnya dan mencium keningnya, tapi ia menahannya. Kei tidak ingin melewati batas bahwa Sabrina ialah pasiennya.
Bukan tanpa alasan Kei ingin melakukannya, semua itu karena ia telah mencintai Sabrina.
Menjadi dokter yang menangani Sabrina selama lebih dari 5 tahun membuat Kei tidak bisa mencegah perasaannya tumbuh begitu saja pada wanita yang sedang koma.
Kei sempat akan dikeluarkan dari rumah sakit karena ia menolak perintah atasannya yang meminta melepas semua peralatan medis ditubuh Sabrina. Beruntungnya saat ia menyampaikan keputusan rumah sakit untuk melakukan itu kedua orang tua Sabrina menolak, sehingga ia bisa bernafas lega dan berusaha melakukan yang terbaik agar wanita yang ia cintai segera sadar.
"Bagaimana perasaanmu setelah kemarin kekasihmu datang membesukmu? Apa kamu bahagia? Bila kamu bahagia seharusnya kamu segera sadar untuk bisa memeluknya. Kekasihmu sangat tampan ya, saya sebagai seorang pria saja mengaguminya. Tapi saya tidak kalah tampan dengannya kok. Tidak percaya? Kamu bisa membuktikannya bila kamu sadar dan melihat saya."
Kei terus mengajak Sabrina berbicara dan bercerita, ia tidak ada bosan-bosannya melakukan itu karena ia berharap wanita yang sedang terbaring koma itu segera sadar.
Cukup lama Kei berada di ruang itu hingga tanpa sengaja ia tertidur dengan wajah menindih tangan Sabrina.
Suara monitor yang memantau detak jantung dan tekanan darah Sabrina bahkan tidak terdengar oleh Kei, karena rasa lelah seharian bekerja dan malam hari menemani Sabrina membuat Kei tertidur sangat pulas.
Kei merasa ada sesuatu yang bergerak di bawah wajahnya membuat ia segera mengangkat kepala dan mengerjap. Jari tangan Sabrina bergerak sontak saja membuat Kei bangkit dari duduknya, menggenggam tangan itu, kemudian memberi rangsangan melalui sentuhan dan suara agar Sabrina merespon.
"Sabrina, apa kamu mendengar suara saya? Bila mendengar cukup anggukan kepala," ucap Kei namun Sabrina tak merespon. Kei tidak menyerah, ia melakukannya lagi.
"Sabrina, sadarlah. Ingat kamu memiliki banyak orang yang menyayangimu dan berharap kamu segera sadar," ucap Kei lagi.
__ADS_1
Kelopak mata Sabrina bergerak kesana kemari ingin membuka mata namun terasa berat. Sementara jari tangan yang digenggam Kei masih bergerak kecil namun itu cukup membuat pria itu sangat senang karena kondisi Sabrina ada kemajuan.
"Buka matamu pelan-pelan dan lihat lah saya." Kei terus memberi rangsangan terhadap alam bawah sadar Sabrina.
Kelopak mata Sabrina yang tadi hanya bergerak kini perlahan terbuka namun segera tertutup lagi karena silau cahaya dirungan itu.
"Syukurlah akhirnya kamu sadar juga," ucap Kei penuh syukur.
Sabrina perlahan membuka lagi matanya dan mengerjap untuk menetralkan pencahayaan yang masuk kedalam pupil matanya.
Setelah merasa nyaman melihat, wanita itu menatap Kei yang ada dihadapannya.
"A-ku di-ma-na?" tanya Sabrina masih kesulitan berbicara.
"Kamu dirumah sakit," jawab Kei.
"Ka-mu si-apa?" tanya Sabrina.
"Saya Keindra, dokter yang menangani kamu selama berada dirumah sakit ini," jawab Kei.
"Ma-na Wi-lly?" tanya Sabrina lagi.
Sabrina tidak protes dan dia langsung menuruti perintah Kei untuk kembali beristirahat.
Sementara itu dokter Kei segera keluar dari ruang ICU dan menghubungi Hikaru memberitahukan bila Sabrina sudah sadar.
Mendengar kabar itu sontak saja Vania dan Hikaru sangat bersyukur dan bahagia. Kedua orang tua itu segera datang kerumah sakit untuk melihat Sabrina yang sudah sadar.
Saking bahagianya Vania bahkan menangis hingga sesegukkan.
"Aku harus memberi tahu Willy," ucapnya kemudian menghubungi William.
Baru saja sambungan telepon itu dijawab, Vania sudah menangis lagi. Tangis bahagia karena putri semata wayangnya sudah sadar.
"Apa yang terjadi Tante, kenapa menangis?" tanya William panik.
__ADS_1
Briana yang mengerti kepanikan William segera turun dari pangkuan pria itu dan kembali duduk dikursi sebelah.
"Sabrina, hiks hiks." Vania masih menangis membuat William semakin panik takut terjadi sesuatu pada Sabrina.
"Sabrina kenapa Tante?" tanya William.
"Sabrina sudah sadar Willy. Dia sudah membuka mata lagi."
Jawaban Vania itu seketika membuat William termenung. Merasa bahagia mendengar kabar itu namun juga merasa sedih.
Pria itu menoleh pada Briana disebelahnya namun wanita itu tidak merespon apa-apa dan hanya memasang wajah datar.
"Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak suka mendengar kabar Sabrina sadar?" tanya Vania disebrang telepon.
"Suka Tante, syukurlah bila dia sudah sadar. Aku turut senang mendengarnya," ucap William.
"Segeralah kamu datang kemari, Sabrina menanyakanmu," ucap Vania sebelum mengakhiri sambungan telepon tersebut.
William menatap Briana berharap wanita itu memberi respon, tapi ternyata Briana melengos pergi menuju kamarnya.
"Sayang." William mengejar Briana.
"Sayang aku ingin tanya pendapatmu," ucap William namun Briana tidak mau menghentikan langkah kakinya.
Briana terus berjalan hingga pada akhirnya ia tiba dikamar dan langsung membalikan tubuhnya menghadap pada William.
"Pendapat apa yang ingin kamu sampaikan? Aku sudah mendengar semua yang Tante Vania bicarakan denganmu. Mengenai Sabrina yang sadar kan? Padahal baru saja kita membahas ini tapi dia sekarang sudah sadar," ucap Briana.
"Semua diluar kuasaku. Aku juga tidak tahu bila dia akan sadar hari ini, tapi dengan sadarnya Sabrina aku merasa lega setidaknya rasa bersalahku padanya sedikit berkurang," ucap William.
"Tapi bagaimana bila dia menanyakan janji menikah yang kamu ucapkan dulu?" tanya Briana.
"Kita akan menghadapinya bersama." ucap William menggenggam tangan Briana.
*
__ADS_1
*
Jangan lupa beri dukungannya ya, jangan jadi pembaca ghoib 😁😁