
Briana terus memperhatikan suaminya yang melangkah pergi menjauh dari ruang tamu. Irene terus mengajaknya bicara namun ia tidak mendengarkan.
Sementara itu William yang menjawab telepon terus melangkah menuju teras rumah agar leluasa bicara disana.
"Ya," ucap William pada lawan bicaranya setelah tiba di teras rumah.
"Kamu di mana Willy, apa kamu bisa ke Jepang sekarang?" tanya Vania disambungkan telepon.
"Aku di Jakarta Tante, maaf aku tidak bisa ke Jepang sekarang itu pun berlaku untuk satu minggu ke depan," jawab William.
"Apa pekerjaanmu tidak bisa ditinggalkan? Tadi Sabrina kejang lagi. Tante ingin kamu selalu mendapinginya terlebih lagi dia seperti itu karena kamu," ucap Vania.
William termenung mendengar apa yang baru saja Vania katakan. Semua itu memang karenanya dan ia harus mempertanggungjawabkan, tapi ia juga tidak bisa terlalu sering datang ke sana yang justru akan membuat Briana mencurigainya.
"Kenapa diam Willy? Apa kamu sudah tidak mencintai Sabrina lagi? Apa sekarang sudah ada wanita lain dihidupmu?" tanya Vania sedikit meninggikan suaranya.
"Tidak Tante, aku hingga kini masih mencintai Sabrina, aku ...." William tidak melanjutkan lagi ucapannya karena ia tidak tahu hendak berkata apa. Mengatakan cinta saja hatinya terasa hambar, ia tidak bisa membohongi dirinya bila perasaan cintanya pada Sabrina tak seperti dulu lagi.
"Pokoknya Tante tidak mau tahu, kamu harus cepat datang ke rumah sakit dan mendampingi Sabrina hingga dia sadar." Vania langsung mengakhiri sambungan telepon tanpa mendengarkan jawaban dari William.
William mengusap kasar wajahnya. "Apa yang harus aku lakukan," ucapnya.
William bingung. Ia tak mungkin meninggalkan Briana sekarang untuk kembali ke Jepang, tapi ia juga tidak mungkin tidak membesuk Sabrina terlebih lagi wanita itu sedang sekarat.
Dengan wajah nampak gusar, William membalikan tubuh dan melangkah masuk kedalam rumah.
Deg!
William terkejut dan membeku di tempat, saat mendapati istrinya berada di tepi pintu. Ia takut bila Briana mendengar pembicaraannya dengan Vania terlebih lagi pembicaraan mereka itu sangat sensitif.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Briana dan saat itu juga dada William terasa lega.
'Syukurlah sepertinya Briana tidak mendengar ucapanku,' batin William.
William menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja," kemudian merangkul tubuh Briana dan mengajak duduk kembali disofa.
Briana meminta William untuk menghubungi kedua orang tuanya dan juga Brian agar bisa datang untuk makan malam bersama di rumah mertuanya.
*
*
Makan malam tiba.
__ADS_1
Reyhan dan Larissa beserta Brian datang ke rumah Irene untuk makan malam bersama.
Julian duduk di ujung kepala meja panjang, dibagian kanan ada Reyhan, Larissa dan juga Brian sementara di sebelah kiri ada Irene, Briana dan juga William.
Makan malam dimulai dengan hikmat tidak ada pembicaraan dari mereka hingga makan malam berakhir barulah Briana membuka suara.
"Mommy, Daddy, Brian, aku sengaja mengundang kalian datang ke rumah mertuaku karena ada yang ingin aku beritahukan. Aku sekarang lagi hamil," ucap Briana terus tersenyum.
Larissa bangkit dari duduknya kemudian berlari mengitari meja makan dan memeluk Briana.
"Akh, akhirnya Mommy akan punya cucu juga," ucapnya.
"Iya, Mom. Mommy dan Daddy akan punya cucu, kalian akan menjadi Oma dan Opa," ucap Briana.
Larissa mengurai pelukannya kemudian mengusap perut Briana yang masih rata.
"Mommy tidak sabar melihat anakmu lahir ke dunia," ucapnya.
Reyhan ikut menghampiri Briana kemudian memeluknya. Ia juga sangat bahagia mendengar kabar kehamilan putrinya, dan itu juga dilakukan oleh Brian. Brian memeluk Briana kemudian memberi selamat untuknya.
Briana tersenyum lebar mendapati respon keluarganya yang sangat antusias pada kehamilan dirinya yang baru saja ia kabarkan.
Sementara William hanya tersenyum dengan isi kepala bingung hendak berbuat apa.
"Aku tinggal sebentar ya Rissa, Reyhan, ada yang ingin aku dan Mas Julian bicarakan dengan Willy," ucap Irene.
"Ooh iya, tidak apa-apa di sini ada Briana juga yang menemani kami," ucap Larissa.
Irene dan Julian mengangguk kemudian mengajak William untuk ikut bersama mereka ke ruang kerja.
Briana dan kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga segera menghubungi keluarga mereka melalui sambungan video call.
Panggilan video itu mereka hubungkan bersama dengan Opa Cristian dan Oma Karina orang tua Larissa, Tante Alena dan Tante Elena adik kembar Reyhan tak lupa juga Oma Mayang ibu dari Reyhan turut bergabung dalam panggilan video tersebut.
"Oma, Opa, Tante, aku mau ngasih kabar bahagia buat kalian," ucap Briana pada keluarganya dipanggilan video tersebut.
"Oh ya, kabar bahagia apa itu?" tanya Karina antusias.
"Ada yang bisa nebak tidak, kabar bahagia apa yang ingin Briana sampaikan?" Larissa menaik turunkan sebelah alisnya.
"Ya ampun Mbak, pakai tebak-tebakan segala. Ayo cepat beritahu kami kabar bahagia apa itu," ucap Elena.
"Eittss, tidak bisa. Pokoknya tebak dulu kabar bahagia apa yang ingin Briana sampaikan," ucap Larissa.
__ADS_1
"Mbak Rissa nggak asik, pakai main tebak-tebakan segala," keluh Alena.
"Briana hamil ya, Nak?" tebak Mayang membuat Briana dan kedua orang tuanya tersenyum lebar.
Briana menganggukan kepala. "Iya Oma aku hamil," ucapnya seketika membuat gaduh lawan vidio call-nya. Ada yang mengucap syukur ada juga memekik bahagia.
"Rencananya aku mau mengadakan syukuran, kalian jangan lupa datang ya," ucap Briana.
"Pasti," ucap Christian yang menjawab lebih dulu.
Setelahnya mereka membicarakan mengenai keluarga mereka masing-masing, mengenai anak-anak mereka, pendidikannya dan juga aktivitas keseharian mereka.
Sementara itu William yang masuk keruang kerja, kini duduk di sofa menghadap pada kedua orang tuanya yang menatap serius ke arahnya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Julian.
"Ya, aku baik-baik saja Pah," jawab William.
"Bohong!" sergah Julian.
"A-aku ...." Tiba-tiba saja mulut William kaku untuk berucap.
"Saat malam resepsi pernikahanmu, apa benar kamu meninggalkan Briana di hotel dan pergi ke Jepang?" tanya Julian.
Deg!
William tersentak bagaimana Papah-nya tahu bila saat itu ia pergi ke Jepang. Pikiran William jadi kemana-mana. Apa Briana mengadu pada kedua orang tuanya? Tapi William buru-buru menggelengkan kepala karena tidak mungkin Briana mengadu.
"Papa tanya sekali lagi. Apa benar saat malam resepsi pernikahan kalian kamu meninggalkan Briana di hotel dan pergi ke Jepang?" tanya Julian sekali lagi.
"Benar Pah."
"Ada keperluan apa kamu pergi ke Jepang?" tanya Julian.
"Aku membesuk Sabrina yang sedang koma," jawaban William itu membuat Julian dan Irena terbelalak.
"Koma?" tanya Irene memastikan.
William mengangguk. "Sabrina koma sejak kecelakaan bersamaku dan hingga sekarang belum sadarkan diri," ucapnya.
"Apa kamu berpikir akan kembali bersama cinta pertamamu?" tanya Julian.
Belum sempat William menjawab, pintu ruangan itu dibuka dari luar membuat wajah William berubah pias.
__ADS_1