Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 39 Akan Memikirkannya Terlebih Dahulu


__ADS_3

William mendorong tubuh Briana kedinding ruang kerjanya dan langsung mencium bibir wanita itu begitu dalam dan liar.


Briana tak menolak ciuman William, ia justru membalas ciuman itu tak kalah liar. Meski Briana seorang pemula dalam hal berciuman tapi ia cukup tahu bagaimana cara mengimbangi lawan ciumannya.


Satu tangan William memegang tengkuk Briana, dan satu tangannya lagi memegang handle pintu yang berada di sebelahnya kemudian membuka pintu tersebut dan masuk kedalam kamar tanpa melepas ciuman tersebut.


Rupanya ruangan yang William masuki itu ialah kamar yang ia desain sebaik dan senyaman mungkin untuk tempat dirinya beristirahat.


Tiba di tempat tidur William langsung mengungkung tubuh Briana dibawahnya.


"Lakukanlah, Liam. Ini akan menjadi bukti bila akun benar-benar mencintaimu," ucap Briana dengan mata menatap lekat pada William yang berada di atas tubuhnya.


"Baiklah, aku akan melakukannya." William kembali mencium bibir Briana sembari tangannya membuka kancing baju wanita itu.


Briana sudah bertekad ingin mempertahankan rumah tangganya dengan William sehingga ia kini tengah melayani suaminya yang mencumbu tubuhnya.


Puas mencumbu tubuh Briana, William memulai ritual malam pertama yang belum pernah mereka lakukan semenjak menikah. William benar-benar meniduri Briana dan melakukannya dengan perlahan. William tahu ini pengalaman pertama bagi Briana, walau pun bukan yang pertama baginya.


Dalam benak William, ia melakukan itu bukan karena ia sudah mencintai Briana melainkan karena ingin menuntaskan hasrat yang menggebu dalam dirinya semenjak tinggal sekamar dengan wanita itu.


Ahh, entahlah.


William masih tidak tahu bagaimana perasaannya pada Briana karena bagaimanapun sosok wanita sebelum Briana hadir dalam hidupnya sulit ia lupakan.


*


*


Di Jepang.


Dokter Kei yang menangani Sabrina memanggil Vania dan Hikaru untuk datang ke ruangannya karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan pada orang tua pasiennya.

__ADS_1


"Pasien sudah cukup lama terbaring koma di rumah sakit dan kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Selama lebih dari 5 tahun dirawat dirumah sakit ini pasien sama sekali tidak memberikan tanda-tanda akan sadar," jelas dokter Kei dengan bahasa Jepang.


Vania dan Hikaru mendengarkan dengan seksama apa yang dokter Kei jelaskan pada mereka. Keduanya yakin dokter Kei pasti akan mengatakan hal yang justru akan membuat mereka dilema.


"Kami pihak rumah sakit meminta persetujuan kepada wali pasien untuk melepaskan semua peralatan medis ditubuh Sabrina," ucap dokter Kei.


Hikaru langsung menggebrak meja dokter Kei tidak terima bila peralatan medis yang menunjang Sabrina untuk tetap hidup dilepaskan.


"Saya tidak mengizinkan peralatan medis di tubuh Sabrina dilepas. Saya yakin suatu saat nanti Sabrina pasti akan sadar dari komanya dan menjalani kehidupan seperti sebelumnya," ucap Hikaru dengan bahasa Jepang juga.


"Tapi Pak, anda tahu sendiri kan bagaimana kondisi pasien. Kemungkinan pasien untuk sadar itu sangat kecil. Bila anda masih mempertahankan peralatan medis menunjangnya untuk hidup, anda akan menghabiskan biaya sangat banyak dan itu juga belum tentu pasien akan sadar. Bisa saja besok atau lusa pasien tidak bisa bertahan lagi dan meninggal dunia," jelas dokter Kei lagi.


Hikaru mencekal kerah baju dokter Kei tidak terima dengan penjelasan dokter itu.


"Saya tidak peduli seberapa banyak uang saya habis untuk pengobatan Sabrina asalkan dia bisa sadar dan berkumpul pada kami lagi!" Hikaru menatap nyalang pada dokter Kei tapi sesungguhnya hatinya kini sedang rapuh.


"Mas, kendalikan emosimu." Vania mengusap lengan suaminya. Vania berbicara menggunakan bahasa Indonesia.


Hikaru menoleh pada Vania disebelahnya yang meminta dirinya untuk tenang, kemudian melepas cekalan tangannya dikerah baju dokter Kei dengan sedikit mendorong.


Karena dorongan dari Hikaru, dokter Kei terduduk di kursinya dengan kasar.


Hikaru kembali duduk dikursinya yang berada di sebelah Vania kemudian menatap dokter Kei dihadapannya.


"Apa tidak ada cara lain untuk membantu Sabrina agar dia segera sadar?" tanya Hikaru.


"Semua penanganan terbaik sudah kami lakukan tapi tetap saja pasien tidak kunjung sadar. Apa dia memiliki seseorang yang berarti dalam hidupnya selain kedua orang tuanya?" tanya dokter Kei.


Hikaru dan Vania saling pandang kemudian menganggukkan kepala menatap pada dokter Kei.


"Kalau boleh saya tahu, siapa dia?" tanya dokter Kei.

__ADS_1


"Dia kekasih Sabrina, sekaligus orang yang sudah membuatnya koma karena sudah lalai mengemudikan mobil," jawab Hikaru geram.


"Apa kekasih Sabrina masih hidup?" tanya dokter Kei lagi.


"Ya, dia masih hidup dan baik-baik saja," jawab Hikaru lagi.


"Kenapa selama lebih dari lima tahun Sabrina koma dan dirawat dirumah sakit ini saya tidak pernah melihat kekasihnya datang?" tanya dokter Kei.


"Saya di sini ingin mendengar solusi agar Sabrina segera sadar bukan justru mendengar anda menanyakan kekasih Sabrina." Hikaru menatap tajam kearah dokter Kei.


Melihat Hikaru yang tidak menyukai dirinya menanyakan kekasih Sabrina, dokter Kei bisa menduga bilang kedua orang tua Sabrina dan kekasih pasiennya itu sedang memiliki masalah.


"Saya minta maaf bila saya terlalu jauh ingin mengetahui mengenai kekasih Sabrina. Tapi saya rasa pasien belum sadar hingga sekarang itu karena menantikan kehadiran kekasihnya disisinya. Saya sarankan agar kekasih Sabrina mengunjunginya secara rutin seminggu 3 kali dan kita akan mencobanya terlebih dahulu selama satu bulan kedepan. Bila dalam satu bulan ke depan kondisi Sabrina semakin membaik, maka itu adalah kabar baik yang pastinya akan membuat Sabrina segera sadar," jelas dokter Kei.


Hikaru dan Vania terdiam meresapi penjelasan dokter Kei. Dalam benak mereka bertanya, benarkah Sabrina tidak kunjung sadar karena menunggu William?


Kini kedua orang tua Sabrina bimbang, bingung harus berbuat apa. Mereka sengaja merahasiakan keberadaan Sabrina dan kondisi wanita itu dari William agar putri mereka tidak lagi berhubungan dengan pria yang mereka anggap brengsek.


Ya, kedua orang tua Sabrina menganggap William sebagai pria brengsek karena saat Sabrina mengalami kecelakaan saat itu juga mereka tahu bila Sabrina tengah hamil dan mengalami keguguran.


Tapi sekarang kedua orang tua Sabrina harus memberitahu William demi agar Sabrina sadar dari komanya.


"Apa kami harus melakukan itu dok?" tanya Vania dengan bahasa Jepang.


"Itu hanya saran dari saya saja karena kalian sebagai wali Sabrina tidak mengizinkan kami untuk melepas peralatan medis. Selebihnya terserah dengan kalian hendak melakukan saran saya itu ataupun tidak," ucap dokter Kei.


Vania mengangguk kemudian menoleh pada suaminya yang duduk di sebelahnya. Hikaru masih terdiam mempertimbangkan saran dari dokter Kei.


Vania mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu Hikaru.


"Kita bisa mempertimbangkannya dulu, Mas. Aku tidak mau salah mengambil keputusan dan berujung kehilangan Sabrina," ucap Vania.

__ADS_1


Hikaru menoleh pada Vania yang juga sama dengan dirinya, terpuruk karena kondisi anak semata wayang mereka.


"Ya, kita akan memikirkannya terlebih dahulu."


__ADS_2