Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 40 Masih Abu-abu


__ADS_3

William menyudahi kegiatan bercinta mereka dengan tubuh ambruk di sebelah Briana yang terbaring diatas tempat tidur. Nafas keduanya tersengal dengan sisa kenikmatan yang masih mereka rasakan.


Briana menangkup wajah William yang berbaring di sebelahnya kemudian mengecup sekilas bibir pria itu.


"Sekarang sudah terbuktikan bila aku benar-benar mencintaimu," ucap Briana.


William menatap lekat pada Briana. Ia tidak menyahut tapi ia menganggukan kepala membuat wanita itu tersenyum manis padanya.


Briana memeluk erat tubuh polos William kemudian membenamkan wajahnya didada bidang pria itu. Rasanya Briana bahagia sekali bisa jujur pada William bila ia mencintainya.


"Aku ingin pernikahan kita dilegalkan," ucap Briana mendongakkan kepalanya.


"Lakukanlah." William menunduk untuk melihat ekspresi Briana.


Briana tersenyum bahagia dengan senyuman manis yang menghiasi bibir wanita itu.


"Setelah melegalkan pernikahan kita, aku mau kita resepsi juga," ucap Briana.


"Banyak maunya." Tanpa William sadari tangannya terangkat memencet hidung Briana membuat wanita itu semakin tersenyum.


"Tidak juga, aku cuma mau satu yaitu kamu." Briana menekan dada William menggunakan jari telunjuknya.


Kini bibir William juga ikut tersenyum melihat Briana yang tersenyum bahagia bersamanya. Ada rasa bangga pada dirinya sendiri bisa membahagiakan wanita yang sedang bersamanya.


William menarik dagu Briana.


"Sejak kapan kamu mulai mencintaiku?" tanyanya kemudian.


"Aku tidak tahu tepatnya kapan aku mencintaimu, tapi aku merasa kehilanganmu saat kamu pergi ke Kalimantan. Hatiku terasa hampa tidak ada kamu, aku juga merindukanmu hingga akhirnya aku mengajak Linda untuk menyusulmu ke Kalimantan," ucap Briana jujur.


Briana tidak mau lagi mengelak perasaannya dan menutupi fakta dirinya mencintai pria itu. Sebisa mungkin Briana akan jujur pada dirinya sendiri dan juga pada William demi keutuhan rumah tangga mereka.


"Kamu menyusulku ke Kalimantan?" tanya William tak percaya.

__ADS_1


"Iya Liam, aku menyusulmu ke Kalimantan," jawaban Briana membuat William teringat pada perkataan Reyhan waktu itu.


William kira Reyhan mengatakan itu hanya karena ingin mencegahnya pergi tapi ternyata tidak. Ayah mertuanya itu tidak membohonginya.


"Kapan kamu menyusulku ke Kalimantan?" tanya William.


"Dua minggu setelah kamu pamit pulang kampung aku dan Linda menyusulmu ke Kalimantan. Alamat yang kamu berikan itu sangat jauh. Setelah naik pesawat selama satu jam aku harus naik taksi selama lebih dari 10 jam, setelah itu aku naik speed boat, dan masih lagi naik ojek. Saat itu aku bahkan mabuk laut. Aku muntah-muntah, badanku lemas tapi tidak aku perdulikan karena aku ingin bertemu denganmu. Tapi setelah sampai di alamat itu aku tidak menemukanmu. Aku marah padamu Liam, kamu sudah mempermainkan aku dengan memberikan alamat palsu padahal aku sangat berharap bisa menemukanmu namun nyatanya aku kecewa." Mata indah Briana berkaca-kaca saat menceritakan itu pada William.


William merasa bersalah pada Briana, ia tak menyangka bila akan ada orang yang mencari alamat palsu yang ia berikan pada Reyhan terlebih lagi orang itu ialah Briana istri yang tidak pernah menganggapnya suami.


"Maaf aku tidak bermaksud memberikan alamat palsu. Tapi saat itu aku tidak tahu harus memberikan alamat rumah siapa saat Daddy meminta alamat rumahku. Jadi aku dengan asal memberikan alamat rumah itu padanya," ucap William.


"Memangnya itu alamat rumah siapa kenapa kamu bisa menuliskan lengkap hingga nomor rumah itu?" tanya Briana penasaran.


"Rumah itu salah satu dari ratusan rumah yang aku berikan pada orang-orang yang kurang mampu dan tidak memiliki rumah," jawab William.


"Benarkah? Sekaya itu kamu sampai-sampai memberikan rumah pada orang lain?" tanya Briana memastikan.


William mengangguk membuat Briana semakin terkagum padanya. Terlebih lagi William tidak mengumbar jiwa sosialnya pada publik dan berkesan merahasiakannya.


Mata yang tadi berkaca-kaca, kini airnya menitik kepipi tak kuasa menahan tangis bahagia.


William terpaku menatap Briana yang mengeluarkan air mata. Tangannya terulur untuk menyeka dan mengusap halus air mata itu.


"Kenapa menangis?" tanya William pelan.


"Aku menangis karena bahagia Liam. Aku bahagia sekali bisa memiliki suami sepertimu. Maafkan aku yang dulu tidak pernah menganggapmu suami dan selalu merendahkanmu," ucap Briana tulus.


"Sudah, kamu jangan nangis. Kalau kamu bahagia harusnya kamu tersenyum, bukan justru menangis. Kan jadi jelek sekarang," hibur William membuat Briana tersenyum lagi.


"Makasih Liam kamu mau memaafkanku dan mau menerima aku lagi." Briana mengeratkan pelukannya ditubuh William.


Dengan jarak sedekat ini kedua insan yang tengah berpelukan itu bisa merasakan detak jantung mereka yang berdetak begitu kencang.

__ADS_1


William tidak memungkiri dirinya merasa nyaman bersama Briana. Bukan kali ini saja ia merasakan kenyamanan itu melainkan sejak mereka terikat pernikahan meski Briana memperlakukannya tidak baik.


William mengurai pelukan Briana ditubuhnya kemudian mengajak wanita itu untuk mandi bersamanya.


"Setelah mandi kamu akan aku antar pulang," ucap William.


"Benarkah? Apa itu artinya kamu juga mau tinggal lagi di rumah Daddy?" tanya Briana berharap.


"Tidak. Aku hanya akan mengantarmu saja dan setelahnya aku akan pulang ke rumahku sendiri," jawaban William itu membuat senyum Briana perlahan pudar.


"Kenapa kamu akan pulang ke rumahmu sendiri?" tanya Briana.


"Aku tidak ingin merepotkan mertuaku. Setelah pernikahan kita dilegalkan kamu akan aku ajak tinggal di rumahku juga," ucap William.


Ada rasa senang dan kecewa kini Briana rasakan karena mendengar ucapan William yang akan mengajaknya tinggal di rumah pria itu.


"Kenapa tidak sekarang saja kamu mengajakku tinggal di rumahmu?" tanya Briana.


"Tidak bisa. Sudah ayo kita mandi." William turun lebih dulu dari tempat tidur kemudian membopong tubuh Briana untuk membawanya ke dalam kamar mandi.


Briana menatap wajah William yang sedang menggendong dirinya. Entah kenapa Briana merasa bila cintanya pada William tidak terbalaskan.


Tapi perlakuan manis pria itu yang kini sedang membantu membersihkan tubuh membuat Briana merasakan ketulusan pria itu padanya.


Semuanya masih abu-abu entah William sudah mencintainya atau belum Briana tidak tahu. Terlebih lagi pria itu tidak pernah membalas kata cintanya.


"Kamu pakai baju lebih dulu. Aku masih mau mandi," ucap William setelah selesai membantu Briana mandi.


Briana mengangguk kemudian berjalan perlahan keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk.


William mengguyur tubuhnya dibawah kucuran air shower. Ia hanya berdiri dengan kepala yang menunduk membiarkan air yang keluar dari shower membasahi seluruh tubuhnya.


Kedua tangan William terkepal rasanya ia ingin berteriak. Tapi teriak untuk apa, karena ia juga tidak tahu kenapa ia ingin berteriak.

__ADS_1


Apa karena ia ingin bersama Briana tapi masih mencintai Sabrina? Atau karena ia mencintai Briana tapi tidak bisa melupakan Sabrina?


William benar-benar marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan perasaannya.


__ADS_2