Dinikahi Supir Sendiri

Dinikahi Supir Sendiri
BAB. 62 Bikin Sate


__ADS_3

"Tumben," ucap William.


"Tumben kenapa?" tanya Briana.


"Tumben kamu ngidam makanan, tidak seperti kemarin-kemarin yang meminta aku melakukan hal aneh," ucap William.


"Hehehe, ini karena aku lagi pengen makanan." Briana menyengir.


"Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak harus melakukan hal konyol seperti yang kamu inginkan," ucap William.


"Sebenarnya aku tidak ngidam seperti itu. Aku hanya mengerjaimu. Hehehe." Lagi-lagi Briana menyengir menampakkan deretan giginya.


"Ya ampun sayang. Jadi selama ini permintaan kamu itu hanya mengerjaiku saja, kamu tidak benar-benar mengidam hal aneh itu?" tanya William memastikan.


Dan Briana menjawab dengan anggukan kepala.


"Kamu tahu kan aku menahan malu menari di lampu merah menggunakan pakaian badut. Jadi tukang parkir aku sampai dimarahi orang karena salah menginstruksi. Dan parahnya lagi aku dikejar-kejar banci hendak diciumnya gara-gara kamu minta aku untuk merayunya," ucap William tak habis pikir.


"Maaf, aku meminta kamu seperti itu karena aku tidak ngidam apa-apa," ucap Briana.


Hufftt.


"Lain kali jangan seperti itu lagi ya." William mengusap kepala Briana.


"Iya, maaf ya," ucap Briana meminta maaf lagi.

__ADS_1


"Ya sudah aku maafkan, Sayang. Sebaiknya kita ke dapur saja langsung membuat sate dan bumbunya," ucap William kemudian turun dari ranjang.


"Iya."


Keduanya kemudian pergi ke dapur untuk memulai membuat sate dan bumbunya.


"Mau sate ayam atau sate kambing?" tanya William.


Saat ini mereka sudah berada di dapur dan sedang berada di depan freezer hendak mengeluarkan daging yang akan dibuat sate.


"Emmm, sate ayam aja," jawab Briana setelah berpikir terlebih dahulu.


"Kalau mau sate ayam aku keluarkan daging ayamnya, kalau mau daging kambing berarti aku akan keluarkan daging kambing bukan ayam," ucap William memastikan lagi.


"Kamu mau dua-duanya?" tanya William dan Briana mengangguk.


"Kalau begitu kita bikin dua-duanya." William mengeluarkan daging kambing dan daging ayam dari freezer.


Briana tersenyum senang, kemudian mengikuti suaminya yang membawa kedua daging itu ke washtafel.


"Dagingnya masih beku, kita biarkan saja di sini sambil di siram air," ucap William kemudian menyalakan air keran washtafel.


"Yah, lama dong masih," keluh Briana.


"Tidak juga. Sambil menunggu daging itu mencair kita akan buat bumbu satenya." William merangkul bahu Briana dan mengajak wanita hamil itu duduk di kursi.

__ADS_1


Sementara William mulai mengupas bawang, menggoreng kacang dan bumbu lainnya kemudian ia haluskan dan ia masak.


"Kamu pintar masak juga ternyata," ucap Briana ya sejak tadi memperhatikan William.


"Ya begitu, sejak kecil aku tidak ingin merepotkan kedua orang tuaku dan aku ingin melakukan apa-apa sendiri bahkan mendirikan perusahaan juga aku sendiri," ucap William.


"Iya aku percaya, semoga keteguhanmu itu bisa menurun pada ketiga anak kita," ucap Briana.


"Tentu saja akan menurun, mereka kan anak-anakku," ucap William.


"Oh iya. Ngomong-ngomong aku belum cerita ya kalau Daddy Reyhan nitip nama untuk anak kita," ucap Briana.


William menghentikan tangannya yang sekarang sudah mulai mengiris daging.


"Nitip nama seperti apa maksudnya?" tanya William.


"Daddy ingin memberikan nama Arkha pada salah satu anak kita," ucap Briana memberitahu.


"Arkha? Bukannya itu sepupu kamu ya?" tanya William.


"Iya aku sudah mengatakan seperti itu pada Daddy, tapi dia tetap ingin nama itu. Kalau sepupu aku kan namanya Arkana dan anak kita namanya Arkha. Memang sih mirip tapi tidak apa-apa kan?" tanya Briana.


"Kalau Arkhatama bagaimana?" tanya William sembari melanjutkan megiris daging karena bumbu kacangnya sudah jadi.


"Arkhatama? Wah, nama yang bagus itu Mas," ucap Briana berbinar.

__ADS_1


__ADS_2