
Mall terlihat tidak begitu ramai, mungkin karena masih tanggal tua,tapi justru membuat Lintang nyaman. Ia dengan telaten mengajarkan Bre memakan makanannya sendiri. Finger food istilahnya. Biar Bre belajar mandiri dan tahu apa yang bisa ia lalukan supaya motoriknya terasah. Tidak melulu disuapin atau apa-apa dibantu orang lain. Sejak sedini mungkin seorang anak juga harus mulai diajarkan untuk mandiri supaya tidak malas.
"Bre, ini ayam, ini wortel, ini buncis, ini kentang"
Lintang menunjuk ke potongan-potongan kecil bagian dari menu steak ayam yang ia pesan untuk Breyana. Ia meletakan di piring kecil. Bre menatap ke Lintang.
"Nih,lihat tante Lintang makan ya"
Lintang memasukan makanan ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya. Bre mulai memegang walau awalnya tampak risih dan takut, tapi Lintang terus menyemangati. Hingga beberapa menit berlalu, Bre mulai memakan makanannya sendiri.
"Enakkk?"
Tanya Lintang. Bre terus makan dan manggut-manggut. Galaksi sibuk memvideokan Bre dan dikirim ke kedua orang tuanya.
"Habisin Bre. Ini porsi makannya Bre, tante tungguin. Habis ini kita main. Oke"
Lintang membersihkan sisa-sisa makanan di mulut Bre.
Lintang menoleh ke
Galaksi yang senyum-senyum menatap keduanya.
"Makan om, didiemin tuh makanan"
Ucap Lintang asal.
"Nikah yuk Lin, Bre butuh elo kayaknya. Dan, hati gue juga butuh elo nih, sepi disini Lin"
Galaksi bersandar di bahu Lintang yang justru melirik sebal.
"Gila"
Celetuk Lintang sambil mendorong kepala Galaksi supaya menjauh darinya.
"Bre, lihat papah bre"
Panggil Galaksi. Bre menoleh ke Galaksi sambil mengunyah.
"Ini siapa?"
Tunjuk Galaksi.
"Pa-pah"
Jawab Bre.
"Kalo ini siapa?"
Galaksi menunjuk ke Lintang.
"Mah,"
Jawab Bre sambil kembali memasukan makanannya kedalam mulut.
"Nah kan. Bener kan. Bre aja manggil kamu mamah Lin"
Ucap Galaksi sambil menatap Lintang penuh harap.
Lintang menggeser duduknya. Menatap Galaksi sambil menggerutu.
***
"Disini aman kan mas, emang khusus untuk anak-anak balita?"
Tanya Lintang saat mereka tiba di play ground.
"Iya buk. Memang khusus, didalem cuma ada dua anak seumuran putri ibu. Kita sudah sterilkan juga buk, setiap ada yang selesai main"
"Oke"
Jawab Lintang. Lalu Galaksi memberikan uang cash ke petugas. Bre dan Lintang dengan semangat masuk kedalam area play ground.
Lintang duduk sambil tatap-tatapan dengan Bre.
"Bre bisa. Tante Lintang temenin main. Jangan takut, oke sayang"
__ADS_1
Bre kembali merangkak. Lintang mundur. Bre merangkak lagi, Lintang mundur lagi.
"Kalo Bre nggak mau coba berdiri, tante mundur nih"
Lintang berbicara tegas. Galaksi hanya diam menatap Bre yang terlihat kesal.
"Bre, ayo nak, coba berdiri, ambil mainan itu tuh"
Tunjuk galaksi.
"Pahhhh"
Bre mulai menunjukan raut wajah ingin menangis dan bersiap merangkak kearah Galaksi. Lintang buru-buru merentangkan tangan untuk menghalangi Bre menghampiri Galaksi.
"Kalo nggak coba berdiri, papahnya buat tante Lintang aja. Nggak boleh buat Bre"
Lintang lalu memeluk Galaksi dari samping dan senyum-senyum ke Bre.
Tubuh Galaksi diam membatu. Ia justru yang terkejut dengan sikap mendadak Lintang.
Galaksi lalu tersadar dan tidak mau kalah.
"Ayo Bre coba berdiri pelan-pelan. Kalo enggak, tante Lintang buat papah"
Ia lalu balik memeluk Lintang.
Mereka saling berpelukan. Tanpa sadar dengan tingkah masing-masing. Bre menatap bergantian ke Lintang dan Galaksi.
Bre mulai berjongkok, walau gemetar kedua kakinya. Tapi tidak menyurutkan Lintang dan Galaksi menyemangi putrinya.
"Minimal berdiri Bre, ayo sayang"
Ucap Lintang. Mereka masih saling memeluk.
Perlahan Bre berdiri, walau kakinya gemetar dan ia sempat terjatuh.
"Nggak apa-apa jatuh, ayo bangun lagi Bre cantik" Lintang menyemangati Breyana.
Hingga setelah beberapa waktu. Bre bisa berdiri sepersekian detik hingga bisa menyeimbangkan diri dan duduk kembali. Lintang senang. Ia menghampiri Bre dan memeluknya sambil menciumi anak Galaksi itu. Ia lalu mengajak Bre bermain di area tersebut.
Galaksi tersenyum. Ia duduk sambil memperhatikan lintang yang senang bermain bersama Breyana, putrinya.
Lirih Galaksi dalam hati.
***
Bre terlelap dipangkuan Lintang, ia menepuk-nepuk bokong Bre pelan. Galaksi dari tadi senyum-senyum sendiri. Ia senang bukan main melihat pemandangan disebelahnya.
"Nggak capek lo senyum-senyum terus dari tadi,"
Ucap Lintang pelan.
"Eh, emang lo perhatiin Lin,duh, jadi degdegan"
Galaksi memegang dada kirinya yang memang berdebar terus setiap mengingat kejadian tadi di play ground.
"Ck. Lebay. Pelukan yang tadi nggak usah dipikirin lak, demi Bre gue lakuin itu kok"
"Kalo nggak demi Bre juga nggak apa-apa Lin, gue ikhlas lahir batin dipeluk lo kaya gitu terus. Apalagi kalo setiap hari, setiap tidur malam, dirumah, gue nggak nolak asli, sumpah"
Galaksi semakin tidak tahu malu. Lintang membuang pandangan sambil terkekeh.
"Lak. Lo tuh kenapa nggak nyerah-nyerah ngejar gue. Fokus lo harusnya kan ke Bre, masih sempet-sempetnya mikirin buat ngejar gue"
"Karena apa yang gue rasain jujur dan apa adanya. Gue nggak pernah bohong sama apa yang gue rasain Lin. Cuma elo dan selalu elo. Nah elo sendiri, nggak ada niat mau nikah lagi? Nggak baik lama-lama menjanda. Banyak mata-mata buaya diluar sana yang incer janda lin,"
"Elo salah satunya"
"Nggak lah. Gue bukan buaya. Gue kan setia. Buktinya masih nunggu dan ngejar elo kan"
"Lak, gue serius lho bahas ini"
Lintang menatap galaksi yang masih sibuk menyetir. Galaksi diam. Ia tidak mau membalas omongan Lintang.
Setengah jam kemudian mobil Galaksi sudah sampai didepan rumah kedua orang tua Lintang.
__ADS_1
"Lintang"
Panggil Galaksi.
"Hm"
Jawab Lintang sambil melepas perlahan seatbeltnya supaya Bre tidak bangun dari tidurnya.
"Lihat gue"
Tangan Galaksi sudah memegang wajah Lintang dan mengarah supaya menatapnya.
"Apa gue kelihatan main-main sama lo. Bahkan dari dulu juga nggak Lin, gue nikah sama maminya Bre juga terpaksa. Gue nggak akan minta dia hamil kalau ternyata gue akan ketemu lo lagi. Tapi ternyata, dengan ada nya Bre pun perasaan gue ke elo tetap sama. Malah makin bertambah sejak elo begitu perhatian dan perduli sama anak gue yang jelas-jelas bukan darah daging lo. Gue tanya sama lo, dulu apa lo nggak ngerasa kehilangan gue setelah gue diem-diem nikah? Ada rasa kehilangan nggak walau sedikit aja?"
Galaksi menatap kedua mata Lintang yang sangat indah. Kedua bola mata itu teduh dan menghangatkan siapa saja yang melihat. Salah satu daya tarik seorang Lintang yang bisa membuat seorang Galaksi tergila-gila.
Lintang tersenyum.
"Sedikit. Kehilangan lo sedikit. Karena nggak ada yang gangguin gue terus. Puas lak?!"
Lintang melotot.
"Puas. Karena gue yakin bukan itu yang sebenernya lo mau bilang. Lo tuh gengsi buat lihatin kalo lo juga suka sama gue kan, tapi nggak apa-apa tang, lambat laun juga lo luluh"
"Haduh. Bener-bener, dosis kepedean lo udah over lak, gue mau turun, ini Bre gendong dulu"
Lintang seakan tidak terjadi apa-apa setelah mendengar semua kata-kata Galaksi.
Galaksi yang tidak akan menyerah cuma bisa senyum-senyum sambil mengusak kepala Lintang.
"Iya Lin, i love you tooooo"
Ucap Galaksi.
"Apa si. Gila lo"
"Gila karena lo"
"Galak!"
Lintang sedikit berteriak. Membuat Bre sedikit terkejut. Lalu Galaksi menepuk-nepuk bokong Bre pelan dan tertidur pulas lagi. Lintang mencium pipi Breyana.
"Bye cantik"
Bisik Lintang.
"Papahnya nggak di kiss gitu, nganggur nih pipinya"
Galaksi senyum-senyum penuh harap.
"Pake sepatu ya, mau"
Lintang bersiap melepaskan sepatunya.
"Ya jangan dong calon mamahnya Breyana, jangan judes-judes ah, gue makin meleleh lihat lo marah-marah"
Galaksi menyandarkan kepala di jok mobilnya.
Lintang terkekeh sambil turun.
"Sumpah, sableng lo galak. Hati-hati, bye"
"Bye. Besok pagi gue jemput ya, harus ke resto pagi banget kan lo"
"Ntar dikabarin deh, takut bareng Adjie, bye"
"Yaudah, bye sayang"
Ucap galaksi. Lintang justru menggelengkan kepala.
Ia berjalan masuk kedalam pagar rumah. Lalu menguncinya. Ia senyum-senyum sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Di mobil.
"She is mine, sooner or latter, sabar ya bre, calon mamah kamu on progress"
__ADS_1
Galaksi memasangkan seatbelt ke Breyana yang masih lelap tertidur.
bersambung,