Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
First date


__ADS_3

Hubungan Lintang dan Galaksi sudah berjalan satu bulan lebih. Mereka sibuk dengan banyak hal. Sekedar untuk jalan berdua pun tidak pernah lama dan intens. Weekend waktu mereka habiskan bersama Bre, hingga Galaksi meminta kedua orang tuanya untuk menjaga Bre selagi ia mengajak Lintang ngedate. Gaya banget emang Galaksi sekarang, mentang-mentang udah jadian ceritanya.


"Udah mau nikah masih minta ngedate juga, malu tau, nanti juga apa-apa berdua terus, nempelll kayak perangko." Protes Mamanya. Galaksi memeluk tubuh wanita berusia lima puluhan itu dari belakang.


"Galaksi mau senengin Lintang, Ma ..., Lintang sama Galaksi juga nggak pernah akur, sekarang saatnya," ucap galaksi masih memeluk mamanya.


"Iya deh, anak ganteng Mama yang the one and only, sana gih, siap-siap. Mau ke mana sih emangnya?"


"Nonton film, makan, sama nonton pertandingan basket. Kampus kita kebetulan ikut liga mahasiswa dan masuk perempat final. Sekalian reuni kecil-kecilan sama temen-temen dulu, kemarin Galaksi sempet janjian sama Mereka."


"Oke ... sana jalan, Bre lagi sama Papa di kamar, Papa juga mau ajak Bre beli boneka katanya."


"Sip. Makasih baginda ratu, ananda pergi menjemput kekasih hati ya." Galaksi mencium punggung tangan mamanya.


"Norak. Pantesan Lintang ogah-ogahan sama kamu. Gini banget kelakuan kamu ...." kuping Galaksi dijewer mamanya, yang di jewer malah ketawa-ketawa.


***


Setelah mendaki gunung lewati lembau, akhirnya pria yang merasa kegantengannya melebihi papanya itu, sudah sampai di rumah Lintang, ia mengenakan celana pendek selutut, kaos kerah berwarna hitam dan sepatu sneakers andalannya.


"Permisi! Lintang! Lintang! Ngedate , yuk!" teriak Galaksi setelah membuka pagar rumah, yang dipanggil keluar rumah dengan celana jeans, kaos over size berwarna hitam, dan sepatu air jordan favoritnya yang ia dapat hasil malak Igo - sepupunya - tiga tahun lalu saat kapal pesiar tempat Igo bekerja, sedang bersandar di New york.


"Ayo Lintang ... jam kuliah pertama udah mau mulai, nih, telat dikit nggak bisa masuk kelas," ucap Galaksi. Lintang tertawa, wajahnya saat tertawa menjadi salah satu hal terfavorit untuk Galaksi.


"Duda sableng, kita juga beda angkatan, Galak, ngarang banget," ucap lintang sambil mencubit pelan wajah Galaksi.


"Duh...! kok di cubit, di sun gitu pipinya," jemari Galaksa mengusap wajahnya yang bekas cubitan Lintang.


"Ilih ... pret lah. Kita naik motor, Lak?" tanya Lintang sambil menunjuk ke motor matic warna hitam. Galaksi mengangguk.


"Gini dong, bosen naik mobil melulu, 'kan?" ucap Lintang sambil meminta helm yang akan ia kenakan.


"Ambil jaket sana. Gue belum sempet mesen jaket couple buat kita," celetukan Galaksi membuat Lintang sontak tercengang.


"Hah! Nggak ah! Nggak mau couple-couple gitu. Awas aja kalo sampe bener lo pesen ya, Lak!" Lintang kembali berjalan ke dalam dan mengambil jaket berbahan jeans warna army, lalu ia kenakan.


"Kok cantik banget sih, calon istrinya Galaksi. Makin cin ... ta! sini ... sini ... Babang Galaksi ganteng peluk dulu," kedua tangan Galaksi sudaj terbuka lebar, Lintang berdecak sambil menggelengkan kepala, pria itu kemudian berganti menjadi mencolek dagu Lintang. "Cayang akuuu ...!"


"Sumpah ya, Lak, udah dong gilanya." Lintang mencubit-cubit perut galaksi. Galaksi tertawa sambil memasangkan helm ke kepala Lintang.


Selama perjalanan menuju mall, Lintang mendengar Galaksi bersenandung. Menyanyikan beberapa lagu sambil sesekali memegang jemari Lintang yang memeluk pinggangnya. Senyum Lintang mengembang di balik kaca helm.


"Lin,"


"Apa?"


"Mau punya anak berapa dari gue?"


Lintang berfikir sejenak.


"Sedikasihnya aja lah, Lak, nggak mau nyebut angka."


"Oke. Siap tempur berarti ya..."


"Galak!"


"Apa Lilin cayanggg!"


"Lihat jalanan yang bener, jangan mikirin kayak gituan!"


"Nggak mikirin ... cuma kepikiran aja."

__ADS_1


"Bedanya apa bahlul?"


Galaksi tertawa. "Karena gue semangat pingin lihat keturunan-keturunan gue, lahir dari rahim wanita sesempurna elo Lintang."


Lintang tersenyum lagi, ia menjadi malu, kemudian mengeratkan pelukannya di pinggang Galaksi.


"Makasih udah milih gue, Lak, bukan yang lain," kata-kata Lintang membuat kupu-kupu di dalam perut Galaksi bergejolak. Ia mengusap jemari li


Lintang yang masih erat melingkar di pinggangnya. Lintang menyandarkan dagu di bahu kanan Galaksi.


***


Kegiatan pertama, nonton bioskop. Saat memilih film pun, Lintang harus ngotot-ngototan sama calon suaminya itu. Galaksi ngotot nonton romantic comedy, Lintang ngotot nonton genre action thriller, dan pemenangnya adalah Lintang. Karena baginya, berada di samping galaksi sudah penuh comedy, jangan ditambah sama film yang akan mereka tonton dengan genre yang sama.


Setelah nonton, mereka makan. Pilihannya food court mall tersebut. Lintang memesan ramen dan berbagai pilihan tempura, Galaksi memilih makan dimsum mix yang satu paketnya berisi tiga puluh dimsum berbagai jenis.


"Lak, nggak salah makan sebanyak ini?" Lintang takjub.


"Berdua kamu, lah," jawab Galaksi santai. Lintang diam.


"Kok gue mual ya denger lo manggil 'kamu', Lak?" Lintang memicingkan matanya mematap Galaksi.


"Mulai dibiasakan dong, cayang, aku kamu nyaaa..." ucap Galaksi sambil mulai memakan dimsumnya.


"Aneh, asli deh."


"Enggak. Kita biasain ya, Lin." Galaksi mengarahkan dimsum udang ke mulut Lintang. Lintang menerima suapan itu. Galaksi senyum-senyum dengan mulut penuh dimsum.


"Lak,"


"Apa sayang,"


"Udah pilih gedungnya?" Lintang memakan ramen beef pesanannya perlahan. Ia juga menyendokan mie dan menyuapi ke mulut Galaksi.


"Besok? Bre dititipin lagi ke Mama sama Papa?" Lintang kembali menyuapi Galaksi.


"Iya. Kita kan butuh semakin deket Lin, pacalan ... pacalan, kayak holang ... holang!"


"Hadehhh, malu sama umur." Lintang membersihkan sudut bibir Galaksi dengan tissue.


"Baru mau tiga puluh, kamu masih dua tujuh, oke lah, kita begitu, pacaran-pacaran macam ABG."


"What ever ...." jawab Lintang diakhiri dengan usapan lembut galaksi ke kepala lintang.


***


Suara suporter tim basket dari kampus lain terdengar dari area parkir kotor GOR Basket itu, Lintang turun dari motor dengan perasaan waswas.


"Kenapa gitu muka kamu?" lirik Galaksi.


"Malu ... takut diledekin temen-temen tentang kita." Lintang manyun-manyun.


"Nggak apa-apa, tenang, ada Babang tamfan Galaksi yang siap jadi tameng kamu kalau mereka mulai ledekin." Galaksi gemas melihat raut wajah Lintang yang khawatir.


"Galak, aku serius ...."


"Iya. Aku juga. Yuk, beli tiketnta dulu." Galaksi merangkul bahu Lintang. Baru tiga langkah. Suara teriakan yang Lintang hindari justru terdengar.


"Aha!! Asik asik! Akhirnya ada yang CLBK ...! uhuyyyy!"


"Lintang dan Galaksi bersatu padu! Uwow!

__ADS_1


"Haseeekkkk hobaaahhhhhhh!!"


Lintang terkekeh geli mendengar para alumni jurusannya yang tak beda jauh dari angkatannya, serta tahu tentang ia dan Galaksi, terdengar riuh dan puas meledeknya.


Galaksi justru langsung memeluk Lintang di depan teman-teman satu almamaternya itu.


"Akhirnya gue dapetin Lintang genk!!!" Teriak Galaksi. Lintang menutup wajahnya dibdepan dada Galaksi yang masih memeluknya.


"Tuh kan, Lak, apa aku bilang...." lirih lintang malu.


Galaksi tertawa sambil mengusap kepala Lintang dengan gemas. Mereka lalu masuk bersama-sama ke dalam hall basket Lima belas menit lagi tiba kampus mereka yang bertanding. Hall basket indoor itu terlihat ramai dengan suporter kampus mereka dan kampus lawan. Galaksi berdiri di belakang Lintang sambil memeluk lehernya.


"Yah ... nggak dapet tempat duduk, Lin, di tiketnya nggak ada nomor bangku sih," gerutu Galaksi.


"Mepet aja di sana. Bisa kayaknya," ucap lintang.


"Galaksi!" Suara seseorang memanggil galaksi. Teman satu jurusan dan satu angkatannya yang juga merangkap pelatih basket kampus. Jason.


"Jas!" ucap Galaksi. Mereka melakukan tos ala pria. Jason terkejut karena melihat Lintang yang berdiri di samping Galaksi.


"Kalian...?" tunjuk jason.


"Kita mau nikah sebentar lag, Jas, finnaly i got her!" Galaksi berteriak histeris.


"Good,  Keren. Eh iya, duduk di vip aja, tribun penuh."


"Tapi ticket gue tribun," ucap galaksi.


"Gue yang ngomong. Tenang, yok gue anter,habis itu gue balik lagi ke anak-anak,mereka lagi pemanasan sebentar di ruang ganti," mereka mengikuti langkah Jason, Lintang menggenggam jemari Galaksi hingga ke tempat duduk. Suara sorakan dan ledekan terdengar dari arah tribune. Bahkan beberapa dosen fakultasnya yang ikut menonton, juga ikut bersorak meledek Lintang dan Galaksi.


Lintang menunduk malu sambil menutup wajahnya dengan tangan. Tapi kedua bahunya naik turun karena tertawa geli.


"Galai, sumpah mereka, ya ampun...." Lintang gregetan sendiri.


"Mereka ikut bahagia, Lin, perjuanganku berhasil soalnya!!!" tawa Galaksi terdengar bahagia. Lintang memukul paha Galaksi saking sebalnya.


***


Pertandingan basket dimenangkan kampus mereka, tujuan akhir hari itu ditutup dengan makan malam bersama, mereka memilih makan sate Padang yang terkenal di kawasan Rawamangun Jakarta Timur. Lintang memesankan makanan untuk mereka, lalu menyusul duduk di hadapan Galaksi.


"Lak ..."


"Hm?" galaksi menatap ke Lintang.


"Kamu segitu hebohnya ya, buat proklamirin hubungan kita?" Lintang bertopang dagu menatap Galaksi.


"Seneng aja, mereka juga berhak rasain kebahagiaan kita," jawab Galaksi santai.


"Tapi nggak perlu deh, Lak, berlebihan kesannya."


"Nggak kok, aku tau batasannya." Galaksi tersenyum.


Lintang lalu mengangguk.


"Lin ..."


"Hm?"


"Thank you for today. Aku bisa realisasiin kencan pertama kita. Seharian kita bener-bener berduaan."


Lintang menggelengkan kepala tak setuju. "Ramean. Nggak lihat tuh, tadi rombongan sirkus teriak-teriak ledekin kita?!"

__ADS_1


"Itu cuma tambahan penonton bayaran biar heboh dikit," celetuk Galaksi. Lintang terkekeh. Ia mulai terbiasa dengan celotehan Galaksi yang memang bisa menjadi hiburan bagi dirinya. Galaksi meletakkan tangannya di kepala Lintang, menatap lekat. "Stay with me, forever," ucap Galaksi seraya tersenyum. Lintang mengangguk sembari membalas senyuman Galaksi.


TBC


__ADS_2