Duda Halu Versus Janda Pengkolan

Duda Halu Versus Janda Pengkolan
Dear Lintang


__ADS_3

"Dear Lintang, ketika mata ini melihat dirimu yang ada di sudut sana sedang menatap sesuatu, justru aku di sini menatapmu dengan rasa yang tak pernah aku tahu. Semakin aku pahami, rasa itu justru semakin menjadi. Sikapmu yang selalu menghempaskanku, semakin membuat aku menggebu tak pernah ragu. Lintang, perjalanan kita berliku karena sempat terpisah, lalu kembali bertemu. Kamu masih sama seperti yang dulu, malah berubah menjadi sangat menawan membuatku semakin menghalu akan dirimu. Hati ini terlampau sendu jika tak bisa terus memilikimu. Sekarang.., aku--" kata-kata Galaksi terhenti karena ia tiba-tiba menjadi terharu dan terus menatap Lintang yang sedang duduk di dekatnya. Bibir Galaksi bergetar, kedua matanya memerah, hingga bulir air mata menetes membasahi kedua pipinya. Lintang yang duduk sambil memangku Bre, menjadi terbawa suasana dan  ikut menitikan air mata. Lintang menggenggam jemari Galaksi yang masih berdiri di dekatnya.


"Maaf penonton, jadi cengeng..." ucap Galaksi sambil menarik air yang mengalir di hidungnya. Lintang memberikan tissue dan Galaksi membersihkan air matanya. Galaksi kembali menggenggam jemari Lintang walau terdengar suara cekikikan orang-orang di sekitar mereka.


"Sekarang.., aku semakin merasa beruntung karena setelah semua masalah dan ujian yang kita lalui, kita berdua sudah duduk di sini, bersama, dan akan begini selamanya. Aku nggak akan pernah menyerah sama hubungan kita, aku nggak akan pernah lelah untuk terus bikin kamu tertawa dan bahagia, karena melihat kamu tertawa, seakan aku mendapatkan energy lain yang tak pernah menguap. Aku.., Galaksi, mencintaimu dengan sepenuh hati, Liintangku, tanpa pernah merasa ragu dan akan terus begitu, i love you." Galaksi mengecup jemari Lintang lalu berpindah ke kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Tepuk tangan, tangis haru juga bahagia, tak lupa sorakan terdengar dari para tamu undangan yang hadir diacara syukuran sederhana pernikahan keduanya di halaman belakang rumah Igo. Lintang mendapatkan apa yang menjadi keinginannya dari awal, menikah dengan tamu cukup keluarga dan sahabat dekat, juga berlokasi di rumah Igo.


"I love you, Galaksi." Lintang berdiri lalu mencium pipi Galaksi yang tampak gagah dengan setelan jas berwarna biru tua. Sedangkan Lintang menggunakan gaun brokat berwarna kuning pucat.


"Cium dong! Udah sah, kan!?" teriak Edo.


"Nggak!" tolak Lintang sambil melotot ke Edo. Galaksi justru kegirangan, dengan cepat ia memegang wajah Lintang yang tampak panik dan memundurkan wajahnya.


"Nggak mauuu!" Lintang meronta, memundurkan tubuh dan terus memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri, membuat para undangan yang hadir tertawa lepas, sedangkan Galaksi terus menggoda istrinya itu.


Pernikahan mereka diadakan tepat satu minggu kemudian setelah kepulangan Lintang. Galaksi menepati janji menikahi wanita yang sejak awal ia pilih untuk hati dan hidupnya - Lintang.  Galaksi sudah membeli rumah baru setelah menjual rumah lamanya, berlokasi dekat dengan toko cabang Jakarta dan kantor Galaksi. Sedangakan rumah Lintang ditempati Adjie. Igo memeluk Lintang sembari mengusap lembut punggung sepupunya itu, ia juga mengecup puncak kepala Lintang.


"Bang Igo lega, lihat kamu menikah dengan laki-laki yang luar biasa berjuang untuk dapatin kamu. Bahagia terus ya," ucap Igo sambil terus memeluk dan meletakan dagunya di puncak kepala Lintang.


"Makasih, Bang, makasih buat semuanya, makasih buat nasehat Bang Igo."


"Sama-sama." Igo melepaskan pelukannya dan berganti memeluk Galaksi erat. Ia juga berpesan supaya Galaksi menjaga dan selalu mencintai Lintang dalam suka ataupun duka. Jelas Galaksi bisa menjamin hal itu.


***


Sore menjelang. Acara masih berlanjut, Lintang duduk di sofa ruang tamu rumah Igo sambil memangku Breyana yang tertidur di pelukan Lintang. Galaksi mencium kening Breyana, berganti mencium pipi Lintang. Istri Galaksi itu tersenyum sambil terus menepuk-nepuk bokong mungil Breyana.


"Tidurin di kamar tamu aja, Lin, tadi Bang Igo kasih tau aku," ucap Galaksi pelan, ia juga mengusap kepala Lintang. Wanita itu beranjak, menggendong Bre sedangkan Galaksi membuka pintu kamar tamu di lantai satu rumah Igo yang besar itu. Breyana sangat pulang, Lintang menyelimuti tubuh mungil putrinya lalu beranjak perlahan. Galaksi duduk di sofa yang ada di kamar itu, disusul Lintang yang juga merasa lelah. Galaksi menyandarkan kepala di bahu Lintang, bermanja? Bukan... Modus? Iya bener. Karena Galaksi dengan santainya mencumbu Lintang yang terkejut bukan main, bukannya medapat ciuman balasan yang panas. Galaksi mendapat cubitan dengan bekas yang terasa panas di paha kanannya.


"Jahat ih, belum apa-apa mainnya cubit-cubitan. Lintang kok, gitu..." Galaksi manyun-manyun.


"Ini bibir nggak bisa nahan dulu? Aku kaget kan, Galak... hih!" dumal Lintang. Galaksi cengengesan. Ia lalu mengulum senyum.


"Oh... Mama Lintang sukanya pemanasan dulu, sini-sini Papa Galaksi panasin, sini sayang, mumpung anak kecil lagi bobo, tuh." Goda Galaksi yang tak mempan bagi Lintang, ia justru semakin melotot. Galaksi kicep, karena Lintang bersedekap seraya berucap. Aku lagi palang merah. Galaksi auto duduk merosot karena malam pertama  yang akan ia gempurkan, dibayangkan gagal total.

__ADS_1


"Itu tadi kata-kata sebagus itu kamu yang bikin apa kroyokan?" tanya Lintang sambil membelai wajah Galaksi, yang masih manyun-manyun.


Ia melirik sinis ke Lintang. "Sembarangan kalo ngomong. Ya bikin, lah, semalem aku bikin setelah dapat inspirasi pas lagi--" Galaksi berbisik ke Lintang.


Plak!. Paha Galaksi ditabok Lintang.


"Sempet-sempetnya lagi boker malah dapet inspirasi, sableng!" omel Lintang lagi.


Cup. Bibir Lintang di kecup Galaksi. Lintang melotot lagi. "Apa lihat-lihat, udah sah mah bebas..." Galaksi merentangkan tangan dan duduk bak raja yang penuh kesombongan. "Mau sesering apa, kek." Kedua alis matanya naik turun.


"Puasa kamu, puasaaa... " ucap Lintang meledek galaksi. Galaksi sendu. "Aku lagi halangan, hahay... satu minggu ya, Pak Galaksi..."


"Tunggu seranganku ya, Lintang. Kamu nggak tau kekuatan naganya Galaksi kalau sudah beraksi." Galaksi bersedekap, ia lalu beranjak menyusul Lintang yang sudah membuka pintu kamar. Langkah Lintang tertahan, karena Galaksi mencium pipi Lintang berkali-kali lalu berjalan meninggalkan Lintang yang langsung bergidik ngeri.


***


Mereka tiba dirumah baru yang Galaksi beli beberapa waktu lalu. Perabotan baru masih belum lengkap, tapi beberapa barang sudah terisi di kamar mereka berdua. Galaksi merebahkan tubuhnya di tempat tidur berukuran king size itu. Lintang tersenyum menatap suaminya yang terlihat lelah.


"Capek?" tanya Lintang sambil duduk di dekat Galaksi, suaminya itu  menjawab dengan gumaman.


"Ngantuk tau, Lin..." gumam Galaksi sambil mengambil bantal. Lintang beranjak. Ia melepaskan beberapa jepit rambut dari atas kepalanya, dan aksesoris lainnya, kecuali cincin pernikahan mereka. Ia mengambil handuk dari dalam lemari, berjalan ke kamar mandi.


"Bre nggak apa-apa nggak di bawa ke sini?" tanya Lintang. Galaksi menjawab dengan dehaman lagi. Bahkan, kedua matanya sudah terpejam.


"Yaudah, tapi besok kita perginya sama Bre, kan, kamu banyak maunya sih, segala bulan madu, kasihan Bre kalau nggak di ajak," keluh Lintang.


"Bulan madu mana ajak anak sih, Lin, ganggu pertempuran kita, lah..." jawab Galaksi santai. Ia lalu membuka mata dengan cepat. "Eh tapi, kamu kan lagi palang merah ya, yaudah deh, besok ajak Bre." Lalu Galaksi memejamkan matanya lagi.


"Galak, mandi gih, jorok tau..." Lintang menarik-narik tangan suaminya yang tampak sangat lelah. Namun pria itu bergeming.


"Yaudah! Aku mandi sendiri aja!" ucap Lintang sambil membuka pintu kamar mandi. Galaksi sempat berfikir sejenak. Apa ini kode dari Lintang, tapi Lintang kan sedang halangan. Galaksi terduduk dengan cepat, ia berfikir keras.


"Galak..." suara Lintang terdengar memanggil suaminya.


"Apaan," jawab Galaksi yang masih mikir.

__ADS_1


"Nggak mau mandi?" Lintang mengintip dari balik pintu kamar mandi, hanya kepalanya yang menyembul keluar.


"Nggak fungsi. Kamu kan lagi halangan," jawab Galaksi santai.


"Bener nggak mau mandi?" pancing Lintang lagi, Galaksi menoleh.


"Gantian aja mandinya nanti" ucap Galaksi menatap Lintang.


"Iya juga, sih, aku lagi halangan. Tapi... Bo--honggg! Aku mandi ya, Sayang, Bye.. bye..."


Brak!


Lintang menutup pintu lalu mengunci pintu kamar mandi. Galaksi loncat dari tempat tidur. Dengan cepat menggedor pintu kamar mandi.


"Lintang...! Ikutan mandi, deh, bukain pintunya!" teriak Galaksi sembari menanggalkan pakaiannya.


"Ogah!" jawab Lintang dengan suara air dari shower yang mengucur deras.


"Sayang... Lintang, istriku cantik, istriku sayang, jandaku tercinta, eh... udah nggak janda, deng, bukain pintunya!"


"Nggak mau!" jawab Lintang lagi. Galaksi terus membujuk Lintang untuk membuka pintu kamar mandinya.  Di dalam kamar mandi, diam-diam ia fokus mendengar rajukan Galaksi yang terhenti. Ia terkikik sendiri kemudian membuka kunci perlahan dan memutar kenop pintu juga dengan sangat pelan.


"AAA...!!" pekik Lintang yang terkejut karena Galaksi mengangkatnya menuju kembali ke dalam kamar mandi.


"Galaksi...!" teriak Lintang.


"BODO AMAT!"  jawab Galaksi sambil mengunci pintu kamar mandi. Maka yang terjadi selanjutnya, ya... kalian bayangkan sendiri saja ya. (Tawa jahat akunya.)


Kisah masa lalu kelam belum tentu terjadi karena kesalahan diri sendiri, ada banyak faktor yang bisa mempengaruhinya. Jangan menyalahkan diri sendiri dan terus terbayang-bayang oleh masa lalu yang tak baik itu.


Terus berjuang dan mengejar sebuah cinta jika sudah yakin, sepatutnya tak boleh berhenti. Salah paham bisa diperbaiki pada suatu hubungan yang nantinya mampu menjadi perekat. Jangan menyerah untuk mengejar cinta, bersikap tuluslah tanpa kepalsuan, walau dengan cara konyol atau berbeda. Galaksi sudah membuktikannya, ia tak lelah mengejar Lintang yang luluh tanpa mengeluh.


 


Bersambung, 

__ADS_1


__ADS_2